Senin, 05 Desember 2011

Perempuan Penjual Nasi Boran

Rian Sindu
http://sastra-tanah-air.blogspot.com/

Bila suatu saat engkau bertandang ke kotaku. Cobalah mampir sejenak. Sekedar melepas penat sambil menikmati indahnya malam di sana. Kotaku selalu ramai. Apalagi di sebuah pertigaan yang terletak tepat beberapa meter dari alun-alun. Tempat berjajar-jajar perempuan menjajakan nasi boran.*) Makanan bercita rasa asli resep daerahku. Engkau belum pernah merasakan nikmatnya nasi boran, kan? Makanya, mampirlah dulu ke kotaku!

***

Bulan merangkak naik. Malam makin redup. Namun kotaku belum juga lelap. Apalagi di pertigaan ini. Tempat keramaian malam tertumpah. Terlihat beberapa lelaki lesehan di atas tikar pandan. sekadar mengendurkan ketegangan akan rutinitas. Juga yang sengaja berniat merasakan nikmatnya ikan sili, puh dan rempeyek sebagai lauk nasi hangat yang dibalur dengan sambal. Membuat kombinasi yang pas dilidah setiap orang. Sambalnya pedas mengigit dan terasa agak sengak, namun itulah yang membuat nasi boran ini begitu digemari. Anak-anak kecil bergelayut di lengan ibunya yang tegak dengan mulut komat-kamit bertransaksi dengan perempuan-perempuan penjual nasi boran. Bapak-bapak lahap memakan nasi hasil kepalan tangannya sambil ndodok di atas tikar pandan. Ramai sekali pertigaan ini persis seperi biasanya.

Seperti biasanya juga perempuan tambun yang punya tahi lalat persis di bawah dagunya itu terdiam. Di saat penjual yang lain sibuk dengan pincuk demi pincuk nasi melayani pembeli. Ia sibuk mengulur angan-angan. Matanya menerawang tinggi, menerobos pekat, memilah-milah memori masa yang telah lama berlalu. Ya, tepat di bawah lampu jalan pertigaan ini, ia dan tole sering sering menghabiskan malam berdua. Mengais rupiah dari sebakul nasi yang selalu mereka bawa sehabis senja.

Pertigaan ramai ini terasa sepi bagi perempuan itu. Nampaknya ada sesuatu yang telah hilang dari kehidupannya. Ia tak lagi bergairah berjualan. Seakan-akan yang ia lakukan sekarang hanya rutinitas yang harus ia jalani setiap malam. Bahkan ia tak pernah menghitung berapa rupiahkah yang telah masuk ke kantong setiap hari. ” Kalau begitu untuk apa mbok berjualan tiap malam?” Seperti itulah kata-kata yang selalu ditanyakan orang pada perempuan itu. Lalu hampir selalu ia menjawab ” Untuk mengenang Tole.”

” Siapa Tole, Mbok?” Tanya seorang lelaki pembeli.
”Dia putra kesayanganku, Tiap malam ia membantuku berjualan.”
”Lalu kenapa malam ini ia tak ikut jualan?” Lelaki itu nampaknya begitu tertarik dengan tokoh kebanggaan perempuan itu. Tentu, ia tak mengenalnya sama sekali.

"Putraku sekarang sudah bekerja. Nak”
"Di mana tempat putramu bekerja, Mbok?”
”Di sana, di kantor bupati.”
”Sebagai apa?”
”Sebagai abdi negara. ”

”Oh pemelihara gedung negara...?” Lelaki itu pasti tak menyangka dari rahim perempuan itu telah lahir seorang pemimpin.

”Tapi nampaknya, Mbok tak suka ia kerja di sana?” Lelaki itu terus bertanya-tanya.
Perempuan itu mendesah. Kegundahan terselip dari nanar matanya.
”Ada benarnya omongan sampean.... Karena itulah, kini tole tak bisa membantuku lagi berjualan.”

”Ia kan putra mbok, Mustinya ia membantu mbok! Dasar anak tak tahu balas budi!” Kata lelaki itu tersungut-sungut serasa ikut merasakan kesedihan perempuan itu.

Perempuan itu tiba-tiba mengeram geram. Matanya nyalang. Seketika wajah lelaki itu pias. Ia mengambil beberapa lembar ribuan dari saku celananya. Mengucapkan kata maaf dan terimakasih sekenanya. Lalu ngeloyor meninggalkan perempuan itu sendiri. Di hati perempuan itu. Malam terasa begitu sepi.

Sejauh apapun ia dariku. Tole tetap putraku. Walaupun ia telah lupa dengan ibunya tapi aku takkan pernah lupa dengannya. Tak seorangpun kuijinkan menghinanya. Gumam perempuan itu mencericau sendiri. Ia mencium syal yang selalu ia kenakan. Ketika melihat benda itu, hatinya tiba-tiba menjadi haru. ” Mak pakai saja syal ini! Emak lebih butuh dari pada tole.” Ia teringat tole memakaikan syal itu melingkar di pundak perempuan itu. Meski akhirnya tole terbatuk-batuk dan ingusnya deras keluar. Anak itu benci sekali dengan udara dingin. Ia teringat begitu besar semangatnya untuk membantu emaknya. Perempuan itu terbatuk-batuk. Telah lama paru-parunya terserang radang. Makin parah saja semenjak tole tak di sisinya. Tak ada yang merawat perempuan itu lagi.
***

Walaupun dulu penjual nasi boran sangat banyak dibanding sekarang. Namun perempuan itu tak pernah sepi pembeli. Masakannya memang khas. Itu yang sering dikatakan pelanggannya. Terlebih kekhasan itu dibumbui dengan cerita-cerita heroik jaman perjuangan dulu. Ya, masa mudanya dihabiskan dari satu dapur ke dapur lain. Menyediakan makan bagi para pejuang kemerdekaan. Kadang harus merangkap jadi perawat kadang juga harus berani memanggul senapan. Cerita-ceritanya membuat para pembeli betah berlama-lama lesehan di samping bakul nasi boran miliknya. Biasanya Tole kebagian bersih-bersih sendok dan membuangi pincuk-pincuk bekas wadah nasi boran. Mereka terlihat sangat kompak.

Dan kekompakan itu seakan sirna semenjak Tole menang dalam PILKADA tahun lalu. Karena kesibukan tugas. Tole sekarang semakin jarang bersua dengan ibunya. Mungkin hanya sebulan sekali. Itupun tak lama. Bahkan telah empat bulan tole tak datang mengunjungi ibunya. Bulan ini hampir habis. Namun tak ada tanda-tanda tole akan datang bertandang. Kadang perempuan itu masygul dan mulai berpikir bahwa putranya benar-benar telah lupa dengannya.

Walaupun rasa sedih selalu membuncah ketika mengingat Tole. Namun Perempuan itu bangga dengan anak satu-satunya itu. Telah dari balita ia yatim. Namun ia tak pernah manja. Semangatnya untuk terus maju dan merubah kehidupan miskin yang melilitnya tak pernah padam. Suatu ketika perempuan itu kehabisan ide untuk mendapatkan uang, Tole sangat membutuhkan uang untuk biaya studinya. Sedang untung menjual nasi boran tak begitu banyak. Namun Tole dengan gigih nekat bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Saat itu tubuhnya kurus kering tak berotot seperti kuli panggul yang lainnya. Namun semangatnya untuk terus sekolah mengalahkan keterbatasan yang ia punyai.

Tole tumbuh jadi pribadi tangguh dan kuat. Otak yang cerdas ditunjang dengan kegigihan untuk terus maju membuatnya pantas untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya. Maju sebagai calon bupati periode kedepan. Membuat banyak orang terkejut karena ia hanyalah anak seorang rakyat biasa. Tak ada silsilah kaum berada pada hirarki moyangnya. Lebih terkejut lagi ketioka akhirnya dia menang. Padahal pesaingnya adalah orang-orang bernama dan berkantong tebal. Tak aneh jika ada yang nyeletuk. ” Dia , pasti menang karena langganan nasi boran emaknya banyak!” Mungkin juga benar. Karena rata-rata penggemar makanan itu di kota ini memang mengenal emaknya.
***

Bila suatu saat engkau bertandang di kotaku. Cobalah mampir sejenak di pertigaan ramai itu. Sekedar melepas penat perjalanan atau turut merasakan nikmatnya menyantap nasi boran di pinggir jalan. Sambil melihat kesibukan perempuan-perempuan penjual nasi boran atau lalu lalang kendaraan beraneka jenis. Mungkin juga ingin menikmati malam yang temaram dan damai seperti malam itu. Terlebih jika engkau ingin mendengar langsung cerita seorang perempuan penjual nasi boran yang kesepian karena telah lama ia tak melihat putranya.

Perempuan itu masih saja terpekur di atas sandaran tangannya. Matanya nanar dawarnai keharuan. Lalu beberapa bulir air meleleh dari kelopak matanya. Lampu jalanan yang terang membuatnya bias. Ia masih larut dalam lamunan bahkan ketika ada sebuah avanza berplat merah berhenti tepat di depan bakul nasi borannya.

Seorang lelaki kurus turun dari mobil. Langkahnya wibawa sahaja mendekati perempuan itu. Nampaknya ia bukanlah laki-laki biasa. Di belakangnya, beberapa orang sangar berbadan kekar menguntit laju jalannya lelaki kurus itu.
” Emak!”

Perempuan itu terkesiap. Ia begitu mengenal suara itu. Belum lama perempuan itu bangkit dari duduknya tubuhnya limbung karena sebuah pelukan telah meremas tubunya. Aroma tubuh itu tak asing lagi. Kehangatan seketika melumuri badannya. Dan air mata perempuan itu mengalir makin deras.

”Maafkan Tole, Mak! Telah lama tole tak mengunjungi emak.” Laki-laki itu terisak-isak. Tangannya menyeka air mata yang deras keluar dari mata perempuan itu.

”Ndak papa, Le. Gimana kabar kamu, Le? Sehat?
”Sehat, Mak.”
”Bagaimana pekerjaan kamu?”

”Itulah mak kadang tole menyesal menjadi sekarang. Kenikmatan menjadi orang besar kadang membuat lupa bahwa kita pernah jadi kecil.”
”Ndak boleh begitu, Le, Bagaimanapun itu adalah amanah rakyat.”

Beberapa orang yang lain sedang tersihir dengan situasi yang amat mencengangkan itu. Mereka seperti sedang melihat episode akhir sebuah sinetron. Siapapun yang mengenal lelaki itu pasti akan berubah sikap. Ada yang serupa budak dengan tuannya. Ada yang ketakutan seperti melihat hantu. ada yang sengaja menjauh. Namun banyak juga yang tak mengenal laki-laki itu. Bisa dimaklumi, karena tak semua rakyat mengenali pemimpinnya. Demikian juga pemimpin sering lupa mengenal rakyatnya.

”Kamu tak lupa dengan nikmatnya nasi boran buatan Mak kan? Perempuan itu menyodorkan sepucuk nasi. Dua bungkus lagi buat pengawal laki-laki itu yang sangar-sangar.
”Pasti Mak. Pasti. Oh ya! Habis ini kita beres-beres lalu boyongan kerumah baru kita ya mak!”
Perempuan itu menghela nafas berat. Bola matanya menangkap bakul nasi dan bertumpuk-tumpuk lauk pauk miliknya.
”Itu bukan rumah kita le. Rumah itu adalah titipan yang sewaktu-waktu diambil lagi oleh pemiliknya! Kita adalah rakyat biasa.”
***

Bila suatu saat engkau bertandang kekotaku. Coba mampir sejenak di pertigaan ramai itu. Sekedar melepas penat perjalanan atau sekedar merasakan nikmatnya menyantap nasi boran di pinggir jalan. Sambil melihat kesibukan jual beli nasi boran atau lalu-lalang kendaraan beraneka jenis. Mungkin juga ingin menghabiskan malam dikotaku yang temaram dan damai.

Namun maaf kali ini aku tak bisa menemanimu. Karena pekerjaanku seperti tak habis-habis. Tapi tak usah khawatir. Akan kutunjukkan penjual nasi boran mana yang menjadi langgananku. Ya, perempuan tambun yang ada tahi lalat di dagunya itu. Dijamin engkau akan rindu bertandang kembali kekotaku. Engaku tak hanya akan disuguhi masakan yang enak saja. Namun juga diceritakan bagaimana gigihnya perempuan itu bertahan sebagai penjual nasi boran. Karena ia hendak membuat nasi boran tak dilupakan rakyat kotaku. Tak kalah dengan masakan-masakan luar negeri yang makin deras berdatangan ke kota ini.

Jangan lupa juga minta diceritakan tentang anaknya yang kini menjadi orang besar. Walau begitu, ia tak pernah sombong dan selalu rendah hati. Ia hebatkan? Ya, perempuan itu memang sangat hebat. Dia adalah ibuku. Aku sangat menyayanginya. Walaupun dia masih belum mau tinggal bersamaku di rumah dinas yang luas ini.

Lamongan, Kota Cahaya Oktober 2007

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt