Ashadi Ik
http://www.seputar-indonesia.com/
Nakal dan penuh kritik sosial.Begitulah para seniman menilai syair-syair karya Mardi Luhung. Hampir di setiap puisi,penyair asal Kelurahan Lumpur,Gresik,ini tak pernah melepaskan gaya bahasa dan pikirannya yang nakal dalam menilai lingkungan sosial di sekitarnya.
Ha-U, begitu biasanya Mardi Luhung disapa, merupakan sosok yang sederhana. Sehari-hari dia berteman sepeda onthel. Namun, tak jarang pula dia berangkat mengajar sastra di SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik dengan berjalan kaki.Berbekal tas cangklong, Ha-U k e l u a r masuk perkampungan, dari rumahnya di Jalan Sindujoyo,Kelurahan Lumpur, Kecamatan Gresik. Selepas mengajar,dia nongkrongdi warung kopi, tempat kesukaan di sekitar Kelurahan Lumpur.
Kesederhanaan Ha-U seolah bertolak belakang dengan kehidupan masa kecilnya. Dia dibesarkan di lingkungan pecinan Gresik, yaitu kawasan Setia Budi,di sekitar alun-alun.Di sana ,para pendatang China rata-rata merupakan keluarga mapan, Ha-U mengaku masih memiliki darah campuran China- Gresik.
Namun, Ha-U memilih jalannya sendiri. Kini orang mafhum,jalan kesederhanaan justru membuat Ha-U bersinar dengan banyak menelurkan karya-karya sastra yang luar biasa.Ya, Ha-U dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi yang punya karakter khas. Bahkan, salah satu bukunya Buwun (kumpulan puisi tentang Bawean) masuk lima besar 5 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2010.
Bagi Ha-U,karya sastra tidak cukup dihasilkan dari pensil dan buku semata. Sebab, berpuisi bukan hanya bermain kata-kata, membuat penggalan-penggalan dengan rentetan kata-kata indah. Berpuisi membutuhkan kesederhanaan dan proses perenungan panjang.“Berpuisi dengan olahan kata-kata yang memiliki pesan sosial adalah salah satunya. Ini agar mampu membuat ketertarikan orang lain,” tuturnya kepada SINDO sembari nyeruput secangkir kopi, saat ditemui di rumahnya,kemarin.
Perenungan Ha-U telah menghasilkan buku-buku puisi yang cukup dikenal. Dalam salah satu bait puisinya, Ha-U menuliskan kalimat “sak crut lima ratus”. Dengan kata-katanya itu, Ha-U mencoba menggambarkan betapa kehidupan modern telah begitu ekonomistik. Tak ada yang gratis sekarang ini.Untuk kencing saja orang harus membayar. “Tulisan yang buruk akan membunuh diri sendiri. Sementara yang baik akan menghidupkan, tidak hanya dirinya, tapi juga sekitarnya.
Ini termasuk di lingkungan saya yang penuh dengan wajah-wajah keras para nelayan,” paparnya. Selain pembaurannya dengan lingkungan, puisi-puisi Ha-U seperti diakuinya sendiri,banyak dipengaruhi sastrawan lain yang dikaguminya. Sebut saja karya Sutardji Calzoum Bachri,Goenawan Muhammad, dan Taufiq Ismail.Dari sekian karya Sutardji buku berjudul “O Amuk Kapak”adalah salah satu yang dikaguminya. Buku ini sudah dibacanya ketika duduk di bangku SMA dan hingga kini gaungnya masih terasa.
“Taufiq Ismail, saya suka karena puisinya komikal, terutama pada puisi Kopi Menyiram Hutan. Saya suka Goenawan Muhammad karena orang ini kalau menulis seperti ngelindur,”ungkapnya. Satu penyesalan Ha-U adalah tak pernah membaca sastra dunia atau sastra barat. Dia hanya bisa membaca sastra terjemahan karena keterbatasannya dalam bahasa Inggris. “Jadi, saya merasa tidak membaca karya aslinya,tapi karya para penerjemah. Itulah yang membuat saya menyesal sampai saat ini,”tuturnya.
Saat ini,Ha-U sedang berharapharap cemas.Sebab,bukunya yang berjudul Buwun masuk 5 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2010. Buku ini berisi puisi yang tentu saja dengan bahasa nakal dan menggelitik menggambarkan keindahan Pulau Bawean. “Semoga karya puisi Buwun saya bias menjadi yang terbaik.Namun, semuanya saya serahkan kepada yang menilai. Sebab, intinya saya berkarya bukan untuk dihargai, tapi untuk dinikmati,” papar pria yang berkali-kali menolak diajak terjun ke dunia politik itu.
Obsesi Ha-U kini adalah mencetak para penyair pemula.Pengalaman- pengalaman selama berkecimpung di dunia sastra, ditularkan kepada anak didiknya di SMA Nahdlatul Ulama 1 dan sekolah-sekolah lain. Sementara itu, proyek buku yang sedang dikerjakannya saat ini adalah Ciuman Bibirku yang Kelabu. Buku terbitan Akar Yogyakarta pada 2007 itu berisi campuran karya- karya lama hingga terbaru. Dalam bukunya ini, Ha-U membidik pesisir Kelurahan Lumpur dengan segala problematikanya.
21 November 2010
http://www.seputar-indonesia.com/
Nakal dan penuh kritik sosial.Begitulah para seniman menilai syair-syair karya Mardi Luhung. Hampir di setiap puisi,penyair asal Kelurahan Lumpur,Gresik,ini tak pernah melepaskan gaya bahasa dan pikirannya yang nakal dalam menilai lingkungan sosial di sekitarnya.
Ha-U, begitu biasanya Mardi Luhung disapa, merupakan sosok yang sederhana. Sehari-hari dia berteman sepeda onthel. Namun, tak jarang pula dia berangkat mengajar sastra di SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik dengan berjalan kaki.Berbekal tas cangklong, Ha-U k e l u a r masuk perkampungan, dari rumahnya di Jalan Sindujoyo,Kelurahan Lumpur, Kecamatan Gresik. Selepas mengajar,dia nongkrongdi warung kopi, tempat kesukaan di sekitar Kelurahan Lumpur.
Kesederhanaan Ha-U seolah bertolak belakang dengan kehidupan masa kecilnya. Dia dibesarkan di lingkungan pecinan Gresik, yaitu kawasan Setia Budi,di sekitar alun-alun.Di sana ,para pendatang China rata-rata merupakan keluarga mapan, Ha-U mengaku masih memiliki darah campuran China- Gresik.
Namun, Ha-U memilih jalannya sendiri. Kini orang mafhum,jalan kesederhanaan justru membuat Ha-U bersinar dengan banyak menelurkan karya-karya sastra yang luar biasa.Ya, Ha-U dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi yang punya karakter khas. Bahkan, salah satu bukunya Buwun (kumpulan puisi tentang Bawean) masuk lima besar 5 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2010.
Bagi Ha-U,karya sastra tidak cukup dihasilkan dari pensil dan buku semata. Sebab, berpuisi bukan hanya bermain kata-kata, membuat penggalan-penggalan dengan rentetan kata-kata indah. Berpuisi membutuhkan kesederhanaan dan proses perenungan panjang.“Berpuisi dengan olahan kata-kata yang memiliki pesan sosial adalah salah satunya. Ini agar mampu membuat ketertarikan orang lain,” tuturnya kepada SINDO sembari nyeruput secangkir kopi, saat ditemui di rumahnya,kemarin.
Perenungan Ha-U telah menghasilkan buku-buku puisi yang cukup dikenal. Dalam salah satu bait puisinya, Ha-U menuliskan kalimat “sak crut lima ratus”. Dengan kata-katanya itu, Ha-U mencoba menggambarkan betapa kehidupan modern telah begitu ekonomistik. Tak ada yang gratis sekarang ini.Untuk kencing saja orang harus membayar. “Tulisan yang buruk akan membunuh diri sendiri. Sementara yang baik akan menghidupkan, tidak hanya dirinya, tapi juga sekitarnya.
Ini termasuk di lingkungan saya yang penuh dengan wajah-wajah keras para nelayan,” paparnya. Selain pembaurannya dengan lingkungan, puisi-puisi Ha-U seperti diakuinya sendiri,banyak dipengaruhi sastrawan lain yang dikaguminya. Sebut saja karya Sutardji Calzoum Bachri,Goenawan Muhammad, dan Taufiq Ismail.Dari sekian karya Sutardji buku berjudul “O Amuk Kapak”adalah salah satu yang dikaguminya. Buku ini sudah dibacanya ketika duduk di bangku SMA dan hingga kini gaungnya masih terasa.
“Taufiq Ismail, saya suka karena puisinya komikal, terutama pada puisi Kopi Menyiram Hutan. Saya suka Goenawan Muhammad karena orang ini kalau menulis seperti ngelindur,”ungkapnya. Satu penyesalan Ha-U adalah tak pernah membaca sastra dunia atau sastra barat. Dia hanya bisa membaca sastra terjemahan karena keterbatasannya dalam bahasa Inggris. “Jadi, saya merasa tidak membaca karya aslinya,tapi karya para penerjemah. Itulah yang membuat saya menyesal sampai saat ini,”tuturnya.
Saat ini,Ha-U sedang berharapharap cemas.Sebab,bukunya yang berjudul Buwun masuk 5 besar Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2010. Buku ini berisi puisi yang tentu saja dengan bahasa nakal dan menggelitik menggambarkan keindahan Pulau Bawean. “Semoga karya puisi Buwun saya bias menjadi yang terbaik.Namun, semuanya saya serahkan kepada yang menilai. Sebab, intinya saya berkarya bukan untuk dihargai, tapi untuk dinikmati,” papar pria yang berkali-kali menolak diajak terjun ke dunia politik itu.
Obsesi Ha-U kini adalah mencetak para penyair pemula.Pengalaman- pengalaman selama berkecimpung di dunia sastra, ditularkan kepada anak didiknya di SMA Nahdlatul Ulama 1 dan sekolah-sekolah lain. Sementara itu, proyek buku yang sedang dikerjakannya saat ini adalah Ciuman Bibirku yang Kelabu. Buku terbitan Akar Yogyakarta pada 2007 itu berisi campuran karya- karya lama hingga terbaru. Dalam bukunya ini, Ha-U membidik pesisir Kelurahan Lumpur dengan segala problematikanya.
21 November 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar