Share |
Memuat...

Sabtu, 18 Februari 2012

Workshop Bareng Bengkel Teater WS. Rendra “Teater Diponegoro” UNDIP

Choirul Rikzqa
http://www.kompasiana.com/rikzadipo

Magelang, UKM Teater Diponegoro mengadakan DIKLATSAR (Pendidikan dan Pelatihan Dasar) untuk Anggota baru dan Pelantikan. Acara ini berlangsung selama 3 hari, tanggal 20 s/d 22 Januari 2012 yang bertempat di Sanggar Seni Eloprogo, Dusun Bejen. Kecamatan Borobudur, Magelang.

Kamis, 16 Februari 2012

Puisi-Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

http://sastrakarta.multiply.com/
INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?

Menelanjangi Pendidikan Indonesia

Hasnan Bachtiar *
http://sastra-indonesia.com/

TIDAK perlu malu untuk memberikan kritik yang konstruktif pada fakta pendidikan Indonesia yang rapuh. Tidak pula mesti ditutup-tutupi segala dampak buruk yang mengiringinya. Hal yang wajar untuk curiga bahwa segala keajegan proyek pendidikan bangsa, barangkali mesti ditelanjangi untuk mengungkap kebenaran-kebenaran yang berserak.

Tanpa Pelipur Lara

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

FILSUF Perancis Blaise Pascal (1623-1662) dalam karya agungnya Pensées (1670) berkata bahwa seorang raja yang tak mengenal pelipur lara ialah manusia yang penuh kesengsaraan. Sitiran ini dipakai sebagai penyudah karya Jean Giono (1895-1970) Un Roi sans divertissement. Kalau seandainya otak Anda berkeringat karena membaca roman-roman karya kelompok Nouveau Roman (Roman Baru) apakah itu dari Michel Butor, Natalie Sarraute, Alain Robbe-Grillet, Marguerite Duras, atau Claude Simon,

Selasa, 14 Februari 2012

Mengoptimalkan Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Lustantini Septiningsih
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/

Sikap hidup pragmatis dari sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai luhur budaya bangsa. Demikian pula budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal (local wisdom) yang santun, ramah, saling menghormati, arif, dan religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern.

Pengikut