Memuat...

Selasa, 21 Oktober 2014

Posisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia

Asvi Warman Adam
suar.okezone.com, 28 Okt 2009

Mohammad Yamin adalah tokoh terpenting dalam perumusan Sumpah Pemuda. Ikrar yang disusunnya telah mengilhami perjuangan bangsa selanjutnya, bahkan tetap menjadi perekat persatuan sampai saat ini.

Sebetulnya bagaimana posisi Yamin dalam sejarah Indonesia? Pada majalah Tempo edisi khusus 16 Januari 2000 tertulis secara eksplisit, “Pakar sejarah Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini.” Mungkin Prof Dr Taufik Abdullah hanya berbasa-basi tentang kehebatan Muhammad Yamin, tetapi barangkali pernyataan itu ada benarnya juga. Timbul pertanyaan, besar dalam hal apa?

Pesona Pram di Asia Tenggara

Iswara N Raditya
MelayuOnline.com

NAMA BESAR Pramoedya Ananta Toer memang sudah kesohor ke seluruh pelosok bumi. Lantas, bagaimana pesona Pramoedya di wilayah Asia Tenggara? Apakah jejak-jejak Pramoedya di rumpun Melayu itu juga jelas terpacak? Tema inilah yang menjadi perbincangan menarik dalam seminar bertajuk “Pramoedya Ananta Toer di Asia Tenggara” yang diselenggarakan Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) Universitas Gajah Mada (UGM), Selasa, 19 Mei 2009, yang lalu.

Gugatan Seorang Penyair

Toeti Adhitama *
Media Indonesia, 6 Agu 2010

“Menurut Descarte, membaca dan membicarakan buku yang bagus seperti bercakap-cakap dengan orang-orang hebat dari abad-abad terdahulu.” Kata-kata itu diucapkan penyair Taufiq Ismail hari Minggu lalu, dalam sarasehan antarkerabat menjelang Ramadan. Descarte, filosof Prancis (1596-1650), terkenal dengan ungkapannya “Cogito Ergo Sum”. Kira-kira artinya: karena saya berpikir maka saya hadir.

Tidak Mungkin Membangun Sastra di Jakarta

Budi Jay Utomo
kompasiana.com/budijayutomo

Anak ibu kota selalu menempati strata eksklusif dalam sebuah pergaulan. Disukai atau tidak dan diakui atau tidak, peng-eksklusif-an golongan itu mendorong banyak kalangan muda untuk membangun identitas menjadi atau paling tidak dianggap seperti mereka, baik secara materi maupun gaya. Dampaknya, tentu saja memarjinalkan siapa saja yang bukan dari golongan itu, yaitu mereka yang tidak hidup di perkotaan yang makmur dan sibuk. Pada akhirnya gaya hidup ibu kota dan kota besar menjadi kiblat dan tujuan akhir bagi setiap perjuangan kehidupan disini.

KUNTOWIJOYO DALAM MAKLUMAT SASTRA PROFETIK

Imamuddin SA
sastra-indonesia.com

Siapa yang tidak kenal dengan Kuntowijoyo! Ia seorang sastrawan, budayawan, sekaligus akademisi yang lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Ia salah seorang maestro yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karya-karyanya sungguh luar biasa dan menjadi karya besar. Melalui karya-karyanya, Kuntowijoyo mengantongi berbagai macam gelar. Cerpenya yang berjudul “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri “(1995), “Resolusi Perdamaian” (1996), “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997), dan “Jalan Asmara Dana” (2005), meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas. Cerpenya yang berjudul “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (1968) memperoleh hadiah pertama dari majalah Sastra. Naskah dramanya yang berjudul “Rumput-Rumput Danau Bento” meraih hadiah harapan dari BTNI (1968). Sedangkan baskah dramanya yang berjudul “Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, Cartasm” dan “Topeng Kayu” memperoleh hadiah kedua dari Dewan Kesenian Jakarta.

Pengikut