http://www.surabayapost.co.id/
Tengsoe Tjahjono*
(1)
Sastra Jawa Timur tentu tidak dapat dipandang sebelah mata dalam konstelasi sastra Indonesia. Banyak pengarang besar seperti Budi Darma, Zawawi Imron, Nirwan Dewanto, Ratna Indraswari Ibrahim, dan sebagainya berkarya dan berkembang dari wilayah ini. Belum lagi para pengarang dan kritikus muda seperti Shoim Anwar, Mashuri, W. Hariyanto, dan sebagainya yang tulisan-tulisannya mampu membangun daya gugah. Serta secara kultural Jawa Timur merupakan rajutan banyak budaya lokal yang unik.
Berdasarkan kenyataan itu banyak agenda yang bisa digarap oleh kita semua dalam rangka mengembangkan dan menghidupkan sastra di Jawa Timur.. Hal-hal itu ialah: (1) Posisi Sastrawan Jawa Timur dalam Konstelasi Sastra Nasional, (2) Peta Cerpenis/Novelis Jawa Timur, (3) Peta Penyair Jawa Timur, (4) Peta Penulis Naskah Drama Jawa Timur, (5) Perkembangan Sastra Etnis Di Jawa Timur, (6) Warna Lokal dalam Sastra Jawa Timur, (7) Peran Kritikus Sastra bagi Perkembangan Sastra Jawa Timur, (8) Peran Media Massa terhadap Perkembangan Sastra di Jawa Timur, (9) Pendidikan Apresiasi Sastra di Sekolah dengan Muatan Lokal, dan (10) Peran Komunitas Sastra dan Jaringan.
Posisi Sastrawan Jawa Timur
Membaca karya-karya sastrawan Jawa Timur, baik itu berupa puisi, cerpen, novel, maupun teks drama sesungguhnya tidak kalah menariknya dengan para pengarang yang selama ini diberi label ‘nasional’ oleh Jakarta. Membaca puisi Herry Lamongan, Hidayat Raharja, atau Rusdi Zaki misalnya akan kita temukan getaran puitika. Membaca cerpen-cerpen Leres Budi Santosa atau R. Giryadi misalnya akan kita jumpai keunikan-keunikan ekspresi. Demikian pula saat kita membaca naskah drama Meimura dan Anas Yusuf.
Hegemoni Jakarta itu membuat buku teks pelajaran sastra di sekolah pun dipenuhi oleh penggalan puisi, cerpen, dan drama dari pengarang yang memiliki dominasi. Jadilah pengarang Jawa Timur subordinasi dari sebuah sistem besar yang bernama Sastra (Nasional) Indonesia itu. Kebakuan dan kebekuan semacam itu mestinya harus didekonstruksi. Sastra adi bisa saja lahir dari para kreator Jawa Timur.
Peta Sastrawan
Di Jawa Timur ini ditemukan kantong-kantong sastra. Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Malang. Batu, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Madiun, Ngawi, Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Bangkalan dan Sumenep merupakan wilayah yang memiliki denyut sastra. Denyut sastra muncul karena konteks beragam. Pemicu denyut itu bisa berupa: (1) komunitas sastra, (2) ketokohan seseorang, (3) sekolah, (4) pesantren, (5) dewan kesenian, dan (6) perguruan tinggi. Enam hal itulah yang selama ini terlihat mampu membangun denyut nadi sastra. Oleh karena tidak terlampau salah bila kita berharap pula kepada mereka untuk selalu berupaya membangun terus kondisi posisif kesastraan demi perkembangan sastra.
Dengan melihat kantong-kantong sastra itu kita bisa melihat peta sebaran sastrawan Jawa Timur. Inventarisasi dan dokumentasi terhadap kiprah dan karya sastrawan Jawa Timur dan komunitasnya tersebut dapat kita pakai untuk menyusun sejarah sastra Jawa Timur yang secara sepenggal-penggal telah dimulai oleh almarhum Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo.
Sastra Etnis di Jawa Timur
Jawa Timur merupakan wilayah multietnis dan multibudaya. Ada tiga tradisi sastra etnis yang berkembang secara baik di Jawa Timur ini yaitu sastra Jawa, sastra Madura, dan sastra Osing. Sastra etnis merupakan kekayaan tak terhingga bagi Jawa Timur karena justru sastra etnis yang sungguh-sungguh memancarkan perilaku keseharian, bahkan ideologi masyarakat. Mungkin saja orang akan lebih mudah berpikir dan memutuskan masalah dengan bahasa ibunya daripada dengan bahasa Indonesia. Lebih mudah mendidik moral anak-anak bangsa dengan bahasa etnisnya daripada dengan bahasa Indonesia.
Kosa kata, idiom, dan tradisi etnis ini bisa saja mempengaruhi sastra Indonesia di Jawa Timur. Dampak pengaruh itu salah satunya memberi warna lokal dalam sastra Indonesia. Begitu besar sumbangsih sastra etnis demi pendidikan anak bangsa dan pemberian warna lokal, maka sudah sewajarnya harus tetap dipelihara, bahkan dikembangkan.
Peran Kritikus
Dalam sistem kemasyarakatan sastra antara sastrawan dan teks sastra, kritikus dan analisisnya, pembaca dan resepsinya, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kehadiran mereka secara laras dan imbang akan mewarnai denyut dan nafas sastra. Kritikus itu hendaknya dipandang sebagai kreator lain di samping sastrawan itu sendiri. Jika sastrawan menulis berdasarkan kepekaan kritis dan estetik dalam menangkap gejala sosial dan fenomena di lingkungan hidupnya, kritikus menulis berdasarkan teks-teks sastra yang berserakan di sekitarnya. Kehadiran kritikus akan menciptakan kegairahan kreatif karena adanya gelombang kritik (yang mestinya selalu membangun) dari para kritikus tersebut.
Bahkan, kritikus bisa didudukkan sebagai komunikator dan provokator. Sebagai komunikator ia bisa menjadi jembatan antara kesenjangan pembaca dengan teks sastra. Tugas kritikus bukanlah menghilangkan kesenjangan tetapi menemani pembaca dalam meniti jembatan untuk sampai pada kekayaan penafsiran. Sedangkan sebagai provokator kritikus diharapkan bisa mempengaruhi pembaca agar mau membaca sastra. Dari aktivitas semacam itulah sistem sosial kesastraan bisa hidup dan terus hidup.
Siapakah kritikus sastra Jawa Timur? Inilah persoalannya. Orang lebih senang menjadi penyair atau cerpenis daripada menjadi penulis kritik.
(2)
Sastra ditulis untuk dikomunikasikan. Oleh karena itu sastra amat memerlukan media. Media massalah sebenarnya yang amat efektif sebagai media komunikasi sastra karena media massa selalu memiliki publik. Hanya saja sastra selalu kalah dengan ruang iklan. Tampaknya sastra dianggap tidak memiliki kontribusi ekonomi bagi media massa itu. Banyak koran yang terbit di Surabaya dan di Malang, tetapi hanya sedikit yang memberikan ruang terhadap sastra.
Koran semestinya tidak sekadar berpikir aspek bisnis semata, tetapi juga aspek kultural. Berita-berita kesenian yang terbatas pada entertainment semata hanya membuat orang hidup dalam dunia mimpi, dunia kaum selebritis, yang sebenarnya jauh dari kenyataan dunia pembaca apalagi Indonesia. Berita semacam itu hendaknya diimbangi dengan tulisan-tulisan yang lebih menukik kedalaman kesadaran, misalnya melalui cerpen, puisi, maupun kritik. Ada dua hal yang dapat dipetik: (1) sastra berkembang, dan (2) pembaca diajak untuk menambah wawasan lain melalui karya sastra.
Pendidikan Apresiasi Sastra
Kurikulum kita sekarang ini berbasis kompetensi. Dalam pendidikan sastra arah pembelajarannya ialah kemampuan siswa bersastra. Oleh karena itu orientasi teoretik hendaknya dikurangi dan diarahkan justru pada kegiatan apresiasi yang meliputi kegiatan resepsi, produksi, performansi dan dokumentasi. Untuk menunjang kegiatan itu bisa saja secara periodik sekolah mengundang para sastrawan ke sekolah. Hal itu bisa dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan dewan kesenian di diaerah masing-masing.
Selain itu materi pembelajaran hendaknya juga diisi karya-karya para pengarang Jawa Timur, tidak semata-mata para sastrawan yang selama ini diberi label nasional itu. Karya-karya Anas Yusuf, Rahmad Giryadi, Zoya Herawati, Setiawan, dan sebagainya dapat dipakai sebagai sumber atau materi pembahasan karya sastra. Dengan demikian siswa tidak hanya mengenal Amir Hamzah, Chairil Anwar, STA, Sapardi Djoko Damono, dan sebagainya.
Peran Komunitas Sastra dan Jaringan
Sastrawan merupakan profesi yang sebenarnya bisa dijalankan secara sunyi. Artinya, tidak perlu melibatkan orang lain. Tetapi, dalam hal tertentu motivasi eksternal pun diperlukan. Melalui komunitas, formal maupun insidental, mereka saling mendiskusikan karya mereka, bahkan mendiskusikan kecenderungan perkembangan estetika mutakhir. Dari situlah mereka bisa membangun warna dan kegairahan berkarya. W. Haryanto, Indra Tjahyadi, dan kawan-kawan mampu membangun komunitas yang melahirkan warna surealisme dalam karya-karya mereka. Hal semacam itu tentu sangat positif. Sanggar Triwida Trenggalek, Barisan Seniman Muda Blitar yang diprakarsai Bagus Putu Parto, Forum Bias Sumenep yang dipimpin Syaf Anton, Komunitas Rabu Sore Surabaya, dan sebagainya merupakan komunitas-komunitas yang berhasil di masanya.
Di samping itu juga perlu dibangun jaringan antarsastrawan, antarkomunitas, antarwilayah, dan antarnegara. Jaringan ini sangat diperlukan agar kita bisa mengkaji perkembangan sastra di tempat lain demi perkembangan sastra di Jawa Timur.
Agenda-agenda
Apa yang saya tulis di atas merupakan lemparan gagasan, atau mungkin obsesi saya demi perkembangan sastra di Jawa Timur ini. Agenda-agenda yang saya tawarkan tersebut saya pandang memiliki nilai strategis bila kita benar-benar ingin membangun jati diri sastra Jawa Timur dan mengembangkannya..
*) Penyair tinggal di Malang
Media Jawa Timur
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Kamis, 17 September 2009
Pengembangan Sastra di Jawa Timur
Label: Esai, Media Jawa Timur, Tengsoe Tjahjono
Diposkan oleh PuJa di 06:24 0 komentar
Meratapi Pesantren “Pincang”
Judul Buku : Mata Air Inspirasi; Mengenang Pemikiran dan Tindakan KH. Zainal Arifin Thoha - Pendiri dan Pelopor Pesantren Mandiri.
Penulis : Joni Aridinata dkk.
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Cetakan : I Maret 2009
Tebal : xiii + 110 halaman
Peresensi : Muhammad Ghannoe*)
http://cawanaksara.blogspot.com/
Jauh sebelum pesantren meniti sejarah panjang di bumi Nusantara, Imam Ghozali telah lahir dan masyhur di kalangan umat Islam, bahkan bangsa Arab. Salah satu penopang kemasyhurannya adalah keputusan untuk istiqamah dan tekun merakit daya spiritualitas, intelektualitas dan profesionalitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Triple power yang terintegrasi dan digerakkan secara seimbang (tawazun) oleh Al Ghozali itulah yang hingga kini membawanya terbang melintasi ruang dan waktu.
Meski jasad dan ruhnya telah berpulang kepada Tuhan, nama dan pemikiran Al Ghozali tetap menggelitik umat manusia, tidak terkecuali para santri.Meski demikian, seberapa banyaknya umat Islam maupun non-Islam yang mengenang dan meniru paradigma Al Ghozali, tidak lepas dari triple power-nya yang tertuang dalam sejumlah kitab. Dari kedalaman karya-karya itulah umat manusia mengais informasi dan pemikiran tokoh muslim fenomenal ini. Bahkan, ada juga beberapa karya Al Ghozali yang hingga kini seakan menjadi buku wajib bagi para santri di pesantren-pesantren ketika mengkaji disiplin ilmu tertentu. Hanya saja, tidak sedikit kyai dan santri yang balik mereduksi ajaran Al Ghozali. Saking asyik-masyuknya mempelajari tulisan-tulisannya, mereka lupa terhadap salah satu ajaran yang hingga kini masih banyak yang belum menerap-praktikkan.
Adapun ajaran itu, tampak jelas dalam wasiat Al Ghozali terhadap murid-muridnya. Yakni,”Jikalau Anda bukan putera penguasa (mulk) dan bukan pula putera ulama’ ternama (masyhur atau besar), jadilah penulis”. Meski teks ini tampak mengelak dari putera-puteri (Jawa Timur: gus-ning) para ulama’ dan para raja atau presiden, namun tidak dimaksudkan untuk mendikotomi mereka. Ini dapat dipahami ketika membaca konteks wasiat tadi. Dengan kata lain, ketika Al Ghozali menganjurkan murid-muridnya menjadi penulis (mushonif), diantara mereka tidak ada yang berstatus sebagai anak raja maupun ulama’ besar. Sehingga, ketika wasiat disampaikan dengan wujud bahasa yang ada, tidak lain hanya sebagai penguat untuk diindahkannya wasiat itu. Jadi, wasiat itu sama artinya ditujukan kepada semua umat Islam, termasuk para Kyai dan Santri.
Tak pelak, dari wasiat itu, Al Ghozali tidak menginginkan adanya kemandegan ilmu yang dicecap umat Islam. Ilmu akan mengalami kevakuman manakala para penikmatnya enggan menyalurkan ilmu yang telah didapatkan. Sementara, mereka hanya merealisasikan kepasifannya dengan cara membaca lantas –mungkin- mempraktikkannya. Apakah nantinya keberadaan ilmu yang orisinal dari kitab-kitab itu mampu diwarisi anak cucu atau tidak, mereka tampak tak berfikir jauh. Padahal, hingga kini hanya Al Qur’anlah yang mendapat jaminan terselamatkan dari tangan-tangan jahil.
Sehingga, wasiat Al Ghozali untuk melanjutkan budaya menulis yang selama ini ditekuni oleh umat Islam perlu segera realisasikan. Dengan munculnya penulis-penulis baru yang bernafas Islami, muslimin-muslimat tidak akan mudah rapuh dalam menghadapi gemerlap perubahan zaman. Selagi tulisan-tulisan itu menjadi wakaf pendidikan untuk generasi Islam, dialog ilmu dengan zaman tidak akan njomplang (berat sebelah). Umat Islam akan melangkah secara sinergis-strategis. Selain itu juga berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan masa lalu demi terciptanya hablum minallah dan hablum minalmakhluq yang lebih baik.
Spirit Al Ghozali mengajak umat Islam untuk mengantisipasi adanya kemandegan ilmu itulah yang pernah diaktualisasikan KH. Zainal Arifin Thoha semasa hidup. Selain mengabdikan diri sebagai penulis, putera yang lahir di Kediri dan menetap di Yogyakarta ini juga mendorong santri dan kawan-kawannya untuk tidak mengabaikan budaya baca-tulis. Meskipun memiliki profesi atau keahlian yang lain, budaya menulis sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap orang lain atau generasi masa depan (rijalul ghod) perlu digalakkan. Seorang pembaca tidak seharusnya mengedepankan egoisme terhadap apa yang diperoleh dari bacaan dan pengalaman. Sifat “picik” dan enggan mempedulikan orang lain itulah yang perlu kita gerus dari budaya umat Islam.
Dalam buku ini, sejumlah penulis tampak memberi kesaksian terhadap pemikiran dan tindakan Gus Zainal –sebutan akrab- selama hidup. Para penulis yang selama ini pernah mengaku sebagai guru, kawan, sekaligus murid dari Gus Zainal ini menyajikan kajiannya terhadap sosok pendiri PPM. Hasyim Asy’ari yang wafat pada 14 Maret 2007 ini. Menurut para penulis, Gus Zainal kadang terasa wajib untuk disebut guru atau kyai. Ini terasa betul ketika penulis ditunjukkan dan diajari cara untuk membaca, menulis, dan menyikapi kehidupan yang lebih baik. Namun, Gus Zainal kadang juga pantas untuk sebut sebagai kawan, ketika bersama-sama dengan para penulis terjadi guyonan, sharing, dialog, debat dan lainnya. Tidak kalah menarik, kadang juga pantas disebut sebagai murid ketika ia menyebut dirinya sendiri sebagai “murid” dari para penulis karena belajar hal-hal lain dari penulis. Jadi, hubungan antara para penulis dan Gus Zainal seakan sulit untuk disebutkan; apakah berstatus sebagai murid (santri), kawan, guru, atau lawan dalam tataran gagasan?.
Meski demikian, keharmonisan hubungan mereka dengan Gus Zainal tampak tidak mengurangi kualitas kesaksian mereka. Salah satu kenangan menonjol dari mereka terhadap sosok Kyai yang meninggalkan satu istri dan lima anak ini adalah kiprah Gus Zainal dalam dunia kepesantrenan. Menurut para penulis, Kyai yang salah satu karyanya tertuang dalam buku Runtuhnya Singgasana Kyai ini, merupakan sosok yang unik. Selain sebagai pendiri dan pelopor berdirinya pesantren mandiri (PPM. Hasyim Asy’ari) di Yogyakarta, Gus Zainal memiliki gerakan yang luar biasa. Ia memiliki impian untuk mengembalikan kejayaan Islam melalui gerakan seni, budaya, politik dan ekonomi yang dimanifestasikan melalui budaya baca, tulis, retorika, dan kerja. Meskipun terlahir dari keluarga yang tergolong kecukupan dalam hal ekonomi, menurut Ny. Maya Veri Oktavia –istri beliau, Gus Zainal sama sekali enggan untuk meminta-minta orang tua. Begitu juga ketika menerima santri untuk dididik di Pondok, menurut Jamal Ma’mur Asmani, kyai sekaligus budayawan dan penyair ini sama sekali tidak memungut biaya dari santri. Semua orang yang ingin nyantri di pondoknya bebas dari biaya pendaftaran dan semacamnya. Menurut Muhammadun AS, selain para santri diajari pendidikan agama dan kemandirian, Gus Zainal tidak jarang membantu biaya hidup santri dan pendidikan mereka di perguruan tinggi.
Kesaksian semacam itu, juga diakui para penulis yang lain. Budayawan D. Zawawi Imron, misalnya, menulis bahwa Zainal adalah seorang anak muda yang hidupnya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia ingin bermanfaat bagi banyak orang. Sementara, cerpenis dan redaktur majalah Horison Joni Ariadinata menulis, kecintaan Gus Zainal untuk ziarah ke kuburan (maqam) dapat diwariskan dan dijelaskan kepada santri dan kawan-kawannya. Uniknya, dalam menjelaskan, Gus Zainal cukup sederhana namun mengena. Sering, ketika dalam ziarah, Gus Zainal melakukan refleksi terhadap kehidupan orang yang diziarahi. Lantas, ia menutup refleksi dengan peringatan bahwa orang yang menziarahi pasti akan mati. Untuk itu, masih menurut Joni, Gus Zainal selalu mengajak kita untuk peduli dan meninggalkan sejarah yang paling baik.
Pesan Gus Zainal untuk peduli terhadap orang lain dan meninggalkan nama baik itulah yang selama ini menjadi mata air inspirasi para kawan dan santrinya hingga sekarang. Generasi bangsa harus memiliki kepedulian terhadap sesama manusia dan alam. Salah satu jalan untuk mewujudkan hal itu dapat melalui jalur pendidikan yang bersinar dari tulisan-tulisan.
PPM. Hasyim Asy’ari adalah salah satu media Gus Zainal yang digunakan untuk berjuang. Metode pendidikan yang ditekankan dalam pesantren yang pernah dikunjungi Gus Solah (pengasuh Pesantren Tebuireng) ini, adalah budaya membaca sekaligus menulis baik di media massa maupun buku. Menurut Gus Zainal -semasa hidup, budaya belajar (melalui membaca) tidak akan seimbang jika mengabaikan budaya menulis. Sehinga, antara budaya membaca dan menulis dapat dianalogikan dengan dua buah kaki manusia. Jika yang kaki satu hilang atau patah, jalannya kaki yang lain akan pincang (tertatih-tatih). Padahal, tidak semestinya pesantren sebagai institusi yang bergerak dijalur pendidikan itu berjalan pincang. Pesantren harus berjalan normal demi masa depan generasi Islam yang lebih baik.
Berbagai gagasan-gagasan unik Gus Zainal untuk mempraktikkan wasiat Al Ghozali itulah yang banyak disoroti para penulis dalam buku ini. Meski demikian, tidak sedikit diantara penulis yang menyoroti dari sudut pandang yang lain. Semisal kiprah Gus Zainal dalam dunia kebudayaan, kepenyairan, musik, perbukuan dan kehidupan sehari-hari lainnya.
Selain tergolong jenis buku yang langka, gagasan-gagasan yang terdapat dalam buku ini terasa baru dan masih segar. Ini sangat cocok untuk menjadi wacana baru dalam dunia kepesantrenan, kepenulisan, perbukuan, kesusastraan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Terlebih, latar belakang para penulis yang berangkat dari berbagai profesi, daerah, dan negara, semakin memantapkan pembaca untuk mereguk ide-ide di dalamnya.
*) Peresensi adalah Santri dan Kawan Gus Zainal serta Pendiri Perpustakaan Cawan Aksara Daerah Pati
Label: Media Jawa Timur, Muhammad Ghannoe, Resensi
Diposkan oleh PuJa di 06:17 0 komentar
Sapardi: Kembalikan Sastra sebagai Seni, Bukan Ilmu
Yurnaldi
http://oase.kompas.com/
Pendidikan formal yang berkaitan dengan bahasa dan kebudayaan harus ditata sedemikian rupa, sehingga mampu menawarkan dan memperkenalkan sebanyak mungkin hasil kebudayaan seperti dongeng kepada sebanyak mungkin khalayak lewat bahasa Indonesia.
Demikian ditegaskan oleh sastrawan dan guru besar emeritus Sapardi Djoko Damono pada seminar Strategi Kebudayaan dan Pengelolaannya, yang digelar oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Jabotabek, Senin (1/6) di Jakarta.
Sapardi mengatakan, dongeng, kitab klasik, dan berbagai konsep kebudayaan harus dikemas baik-baik untuk disebarluaskan lewat pendidikan. Sastra dikembalikan ke fungsi dan kedudukannya sebagai seni, yakni permainan yang mengasyikkan, bukan sebagai ilmu.
“Hanya dengan dikembalikannya sastra sebagai seni, mereka yang berminat menjadi sastrawan memiliki keleluasaan dalam proses kreatifnya. Hanya dengan demikian pula khalayak bisa menerima karya sastra Indonesia sebagai miliknya sendiri, bukan terjemahan,” kata Sapardi.
Menurut Sapardi, sastra Indonesia adalah hibrid, hasil silangan dari begitu banyak kebudayaan, bahasa, dan dongeng. Mereka yang membiarkan berbagai hal itu berkembang dalam dirinya dan menjadikannya dorongan penting dalam proses kreatifnya, kita sebut sastrawan Indonesia. Kita, tambah Sapardi, boleh saja mengatakan bahwa dengan demikian ia (sastra) tidak memiliki identitas, atau kehilangan identitas. Namun, bisa juga kita nyatakan bahwa itulah identitasnya.
Sapardi menambahkan bahwa karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan non-Inggris bisa memiliki kekuatan yang melebihi karya sastra yang dihasilkan oleh penutur asli. Dalam hal kita, bahasa Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan bahasa Inggris dalam hal ini.
“Sebab, bahasa kita ini adalah bahasa baru yang kita ciptakan bersama, bukan bahasa yang sebelumnya sudah ada dan masih tetap dipergunakan dengan aktif oleh pemiliknya,” ungkap Sapardi. Strategi pengembangan sastra Indonesia, tandas dia, harus didasarkan pada kenyataan tersebut.
Label: Catatan, Media Jawa Timur, Yurnaldi
Diposkan oleh PuJa di 06:10 0 komentar
Mir Hossein Mousavi, “Bertapa” Selama 20 Tahun
Nuswantoro
http://jurnalnasional.com/
SAAT layanan SMS di Iran terganggu, akses internet diganjal, jejaring sosial maya seperti facebook dibuka-tutup, dan semua itu justru terjadi pada saat laga pemilihan presiden berlangsung, orang pun bertanya. Seberapa kritis posisi Mahmoud Ahmadinejad kini? Di sebaliknya ada sang penantang, yang beraliran moderat konservatif, Mir Hossein Mousavi.
Seperti kutup berlawanan dari Ahmadinejad, Mousavi adalah sosok yang lembut dan tidak berapi-api. Dalam sebuah wawancara, bahkan dikatakan, Mousavi menjawab pertanyaan dengan seolah-olah tengah berbisik. Meski bukan sosok yang garang, ia disukai kaum muda perkotaan Iran–oposan yang enerjik, berpendidikan, dan melek teknologi. Sangat berbeda dengan kaum muda pendukung Ahmadinejad yang terkonsentrasi di perdesaan, miskin, dan gagap dengan internet.
Dilahirkan di Khameneh, sebuah daerah di Barat Laut Iran, 67 tahun lalu, Mousavi berasal dari keluarga pedagang teh dan disebut-sebut masih punya hubungan darah dengan Ayatollah Ali Khamenei. Pada tahun 1981 hingga 1989 ia menjadi Perdana Menteri, sebelum kemudian jabatan itu dihilangkan dalam politik Iran. Sejak itu ia memutuskan menyepi dari gelanggang politik, dan memilih bekerja sesuai bakat seninya, sebagai seorang seniman dan arsitektur. Beberapa bangunan berciri postmodern dihasilkannya dalam kurun waktu ini.
Jalan kembali ke panggung politik makin terbuka lebar, setelah mantan presiden Mohammad Khatami yang moderat memilih mundur dari pencalonan untuk memberi kesempatan kepada Mousavi. Khatami beralasan dirinya tidak ingin suara oposisi terpecah. Ini seperti politik balas budi karena pada 1997 Mousavi urung mencalonkan sebagai presiden dan memberi kesempatan kepada Khatami yang kemudian memperoleh suara besar pada pemilihan saat itu. Pemilihan presiden Iran sendiri adalah laga yang riuh. Ada lebih dari 470 pendaftar, namun oleh majelis yang ditunjuk, yang terdiri dari 12 tokoh agama, hanya meloloskan empat calon.
Ahmadinejad sering kali mengatakan bahwa kaum perempuan adalah jiwa masyarakat Iran. Mousavi melakukan sesuatu yang lebih memikat dari itu. Istrinya, Zahra Rahnavard (64), seorang doktor sastra dan politik, diajaknya ikut serta dalam kampanye. Dan ini adalah sesuatu yang baru bagi politik Iran. Bahkan tak segan-segan Mousavi menggandeng tangan Rahnavard di panggung kampanye, di hadapan para pendukungnya. Rahnavard sendiri mendukung undang-undang pemakaian jilbab. Berbeda dengan kebanyakan perempuan Iran, ia yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan ini kerap tampil dengan jilbab bermotif bunga. Kehadiran Rahnavard tak urung menjadi pesona lain Mousavi.
Ayah dengan tiga anak ini jarang menyinggung masalah internasional dalam kampanyenya. Ia lebih memilih mengangkat isu dalam negeri, seperti soal ekonomi, korupsi, dan hak-hak perempuan. Namun sebagaimana sikap pemimpin Iran lainnya, Mousavi tegas dalam soal keberadaan negara Israel, dan nuklir untuk tujuan damai.
Lalu dunia menyaksikan lewat gambar-gambar yang “bocor” ke luar Iran, anak-anak muda yang modis berteriak-teriak mendukung Mousavi. Beberapa di antaranya membawa poster dengan tulisan berbahasa Inggris.
Dalam sebuah wawancara Mousavi mengatakan, “Pesan saya telah mencapai mereka. Perubahan telah dimulai.” N Nus/Reuters/BBC/Time
Label: Catatan, Media Jawa Timur, Nuswantoro
Diposkan oleh PuJa di 06:05 0 komentar
Buka Diri, Alam Memberi Sesuatu
Sunaryono Basuki Ks
Pewawancara: Adnyana Ole
http://www.balipost.co.id/
Untuk ukuran sastrawan yang umurnya sudah kepala enam, Sunaryono Basuki Ks. termasuk sastrawan yang super produktif. Bahkan keproduktifannya tak kalah dengan penulis muda energik yang kini banyak bermunculan di Indonesia. Selama dua tahun guru besar di IKIPN Singaraja ini menulis empat novel, sebuah kumpulan cerpen dan sebuah esai. Tahun 2004, dua novelnya — masing-masing “Antara Jalan Jaksa dan Lovina” dan “Sisca Ambarwati” — diterbitkan Grasindo. Lalu pada tahun 2005 juga terbit dua novel, “Maling Republik” (Mizan) dan “Cinta Berbunga di Lovina” (Pinus) serta sebuah kumpulan cerpen “Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura” (Kompas). Kumpulan esainya “Sastra Kita Numpang Nampang” juga terbit akhir 2005 lalu. Bahkan setidaknya Januari dan Februari ini sebuah novel dan dua kumpulan cerpen juga sedang siap untuk dilemparkan ke publik. Sebelumnya sudah banyak novel yang sudah terbit, salah satunya oleh penerbit Balai Pustaka. Bagaimana Sunaryono Basuki Ks. bisa seproduktif itu? Apa rahasianya, bagaimana proses kreatifnya dan apa pandangannya terhadap perkembangan sastra di Bali? Berikut hasil wawancara Bali Post dengan Pak Bas — begitu mahasiswanya kerap memanggil — yang dilakukan di rumahnya di Jalan Arjuna Singaraja.
———-
ANDA termasuk salah satu sastrawan yang hingga tua masih tetap produktif. Bisa diceritakan sejarah kepenulisan Anda sejak kanak-kanak hingga sekarang?
Saya menulis sejak SD. Waktu SD, ayah saya setiap pulang bawa majalah anak-anak. Saya baca cerita di dalamnya, lalu saya pikir kenapa bisa orang bikin cerita seperti itu. Saya lantas mencoba bikin cerita anak-anak. Namun tulisan yang bikin pertama kali bukan cerita, tapi laporan perjalanan ke kebun binatang di Surabaya. Itu dimuat di sebuah majalah mingguan anak-anak di Jakarta, tahun 1953. Umur saya waktu itu 12 tahun. Kemudian kegiatan menulis berlanjut hingga di SMP. Di Malang ada koran Suara Masyarakat dan ada ruang anak-anaknya. Saya menulis cerita agak panjang di situ, tentang anak-anak miskin, dimuat bersambung dua kali. Saya mendapat perhatian dari pengasuh ruang itu yang seorang guru. Dia minta saya terus menulis agar bisa menjadi seperti SM Ardan, katanya.
Lalu sejak kapan menulis sastra yang lebih serius?
Saya kalau menulis, iya menulis. Tahun 1957 saya mengirim tulisan ke luar Malang, ke majalah Pemuda Remaja yang ada ruang untuk penulis remaja. Di sana ternyata redakturnya SM Ardan. Setelah saya kirim, SM Ardan menjawab bahwa puisi saya tak bisa dimuat di majalah itu. Tapi yang mengejutkan, ia bilang akan dimuat di ruang budaya Genta dari Mingguan Merdeka. Wah, senangnya bukan main. Tak dimuat di runag remaja, tapi di ruang kebudayaan. Setelah itu saya agak ajum, sombong. Tak mau lagi nulis di ruang remaja, tapi di ruang budaya di koran di Surabaya, Jakarta dan lain-lainnya. Sejak SMP saya juga ikut teater. Jadi pemain hingga sutradara.
Hingga kini Anda terkesan sangat produktif?
Kalau dihitung karya cerpen saya tak banyak. Paling banyak 100 biji. Di kumpulan cerpen yang tiga buku itu hanya ada 71. Yang duluan paling hanya beberapa. Tak banyak. Tapi belakangan memang lebih produktif. Saya nulis itu musiman. Saya pernah menulis cerpen delapan buah dalam sepuluh hari. Semua dimuat. Tapi kalau pas lagi musim nulis esai, iya saya nulis esai saja.
Pernah mengalami macet dalam berkarya?
Sempat berhenti, tapi bukan macet. Begitu berkeluarga agak terhenti. Saking asyik ngempu anak. Mulai lagi menulis tahun 1970-an. Saat itu saya ke Yogya dan sempat bertemu Umbu (Umbu Landu Paranggi, red). Oleh seorang teman saya dikenalkan kepada Umbu. “Ini ada teman, novelis dari Singaraja,” katanya. Dan Umbu menjawab dengan dingin tanpa tersenyum, “Kalau ada ‘Ks’, saya kenal.” Itu tahun 1972. Artinya Umbu membaca tulisan saya sehingga hapal dengan inisial “Ks” di belakang nama saya. Sejak itu saya terus menulis. Puncaknya mulai tahun 1983 saya menulis novelet dimuat di Sinar Harapan dan Bali Post dalam waktu hampir bersamaan. Semangat saya juga maju lagi ketika Sinansari Ecip diantarkan ke Singaraja oleh Raka Kusuma. Dia nginep di rumah saya dan ngasih buku. Di buku berisi pesan “mengorbitlah kembali”.
Anda tetap di kota kecil Singaraja, tapi kepopuleran Anda sama dengan penulis yang tinggal di ibukota, bagaimana caranya?
Betul kata Umbu. Buleleng itu unik. Ada sesuatu yang memberi efek khusus pada saya, sehingga saya tetap bisa tergerak. Di sini ada pura sakti, sampai banyak pejabat datang ke sini. Bumi (Buleleng) ini luar biasa. Asal kita mau membuka diri, mau produktif, alam di sini pasti memberi sesuatu. Ada penulisnya yang kualitasnya masih di bawah, mungkin karena kurang terbuka. Kalau saya, saya serahkan pada alam. Kalau saya punya pintu tapi ditutup, tak akan jadi ada yang masuk. Apa yang datang harus diterima karena alamnya luar biasa.
Ada teknik menulis secara khusus agar produktif?
Dulu kalau menulis saya pernah bikin rencana seperti yang dilakukan Saut Poltak Tambunan. Tokohnya seperti ini, seperti itu. Tapi pas nulis tak sesuai rencana. Sesudah itu saya merasa tak perlu rencana. Saya lantas menulis sesuai keinginan. Sekarang bikin tokoh A, lalu besok saya tak tahu apa yang dikerjakan A. Nanti sore mau nulis cerpen, sekarang saya belum tahu apa yang mau ditulis.
Anda juga aktif membina semangat sastra di Buleleng?
Saya hanya membina orang yang mau belajar dan bertanya. Sebab, sekitar tahun 1980-an saya pernah mengundang teman diskusi, saya sudah siapkan penganan kue dan lain-lain tapi tak ada yang datang. Saya kecewa. Sejak itu saya tak mau mengundang orang untuk diajak belajar. Namun kalau ada yang mau belajar saya ladeni. Di kelas di IKIPN Singaraja saya selalu memberikan semangat kepada mahasiswa.
***
SECARA umum, bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan sastra di Bali?
Perkembangannya memang agak berat sebelah antara Bali di selatan dan utara. Di utara (Buleleng) potensi banyak, tapi belum berkembang, belum membuka diri. Sebenarnya saya menulis terus juga dalam rangka mengajak orang lain untuk ikut bersemangat menulis.
Bagaimana cara memajukan sastra di Bali, khususnya di Buleleng?
Bikin iklim yang bagus untuk diskusi. Jangan hanya sekadar kumpul-kumpul. Kalau kumpul-kumpul harus ada jadwal, ada program tertentu. Kumpul hari ini di mana, misalnya, lalu baca karya sastra dan diskusi. Tidak hanya duduk ketemu, dan semuanya improvisasi. Misalnya saat bertemu baca karangannya Arik (Arik Sariadi, penulis muda Buleleng, red), lalu baca karya Sonia (Kadek Sonia Piscayanti, cerpenis muda Buleleng, red). Lalu dibicarakan, didiskusikan.
Banyak orang beranggapan pendidikan sastra di sekolah keliru, bagaimana pendapat Anda?
Tampaknya memang begitu. Guru yang punya kemampuan untuk mengajarkan sastra di kelas tidak banyak. Hanya memberi teori. Tapi bagaimana mengaplikasikan teorinya tak bisa dilakukan. Kalau di IKIPN Singaraja, pendidikan menulis juga ada. Teater juga ada. Hanya, selain ada majalah kampus, juga harusnya ada majalah khusus sastra. Penulisnya mahasiswa. Penulisnya dibimbing. Dosen sebagai editor, misalnya, jangan hanya memeriksa, lalu dimuat begitu saja, tapi juga membina.
Apa yang harus dilakukan pemerintah?
Membangkitkan minat baca dan membangkitkan gairah membeli buku. Penerbitan sudah oke. Perpustakaan juga sudah oke. Sekarang tinggal bagaimana mau beli buku dan baca. Sebab, beli buku itu bukan masalah punya uang atau tidak. Kini banyak komunitas remaja yang menghabiskan uang untuk beli CD atau DVD secara rutin. Buku tidak. Pemerintah harus mengadakan kegiatan untuk meningkatkan minat baca. Misalnya mengundang pengarang yang sudah punya buku untuk berbicara.
***
KARYA Anda banyak yang mengandung falsafah dari unsur budaya Bali, padahal Anda datang dari latar budaya yang berbeda?
Soal budaya Bali saya belajar langsung. Dulu saya selalu ikut jika ada orang ngaben, upacara menikah dan sebagainya. Saya belajar langsung. Apalagi di Bali saya sudah 37 tahun, belajarnya jadi banyak.
Menurut Anda apa yang unik dari budaya Bali?
Alamnya bagus, tapi bukan itu yang membuat orang datang ke Bali. Alam itu di mana-mana banyak yang bagus. Soal ukiran, lukisan dan lain-lain, di luar Bali juga banyak yang bagus. Namun yang unik di Bali, seniman itu kerja sehari-hari. Itu luar biasa. Di Air Sanih, Kubutambahan, teman saya pernah heran karena menyaksikan ada orang megambel sambil tidur. Ia bisa tidur karena musik Bali tak ada dirigennya, tak pakai partitur. Semua ada di kepala. Ini tak ada di tempat lain. Kesenian hidup dalam jiwa orang Bali.
Bisakah suatu saat nanti menulis cerpen dan puisi menjadi keseharian orang Bali?
Bisa saja, tapi jangan menulis puisi dengan keinginan rumit. Tulis masalah sehari-hari. Dasar kepenyairan juga harus tetap ada. Dasari jiwa dengan dasar kepenyairan. Di Bali hal itu sebenarnya sudah ada dengan adanya pesantian. Bagaimana bisa menulis puisi kalau jiwa tak didasari kepenyairan. Saya pernah satu mobil dengan mahasiswa, lalu kami mendengar ada orang makidung. Saya tanya pada mahasiswa, “ngerti nggak, tahu nggak”? Ternyata mereka tak tahu, padahal orang Bali.
BIODATA:
Nama : Sunaryono Basuki Koesnosoebroto
TTL : Kepanjen, Malang, 9 Oktober 1941
Ayah/Ibu : Saim Koesnosoebroto/Sariati Koesnosoebroto
Istri : I Gusti Ayu Made Darmika
Anak : Agus Herwanto Pribadi (alm.),
Andi Herwindo Permadi
Adhi Heliarto Pirngadi.
Pendidikan:
1. SD Kauman, Malang, tamat 1954
2. SMPN 3 Malang, tamat 1958
3. SMAN 1 Malang, tamat 1961
4. Fakultas Psikologi UI, tahap persiapan, 1961-1963
5. IKIPN Malang, tamat 1970
6. Post Graduate Leeds University, 1976
7. Lancester University, 1982
8. Ohio State University, 1988
9. Dan program pendidikan lain di Inggris
Pekerjaan:
1. Guru SMAN 1 Malang Cabang Kepanjen 1967-1969
2. Asisten Dosen Fakultas Keguruan Unud (kini IKIPN) di Singaraja 1969-1971
3. Dosen Fakultas Keguruan Unud (kini IKIPN) di Singaraja 1971-2000
4. Guru Besar IKIPN Singaraja 2000-sekarang
Penghargaan:
1. Wija Kusuma Pemkab Buleleng 1987
2. Penulis Esai Terbaik Pusat Bahasa 1992
3. Berbagai juara lomba penulisan esai, cerpen dan novel.
Label: Media Jawa Timur, Sunaryono Basuki Ks, Wawancara
Diposkan oleh PuJa di 05:50 0 komentar
Menulis untuk Pembaca Tendensius
Akhmad Siddiq*
http://www.jawapos.com/
Tulisan Abdul Waid bertajuk Penulis Berani Mati (Jawa Pos, 9/8/2009) mengingatkan kita bahwa trialektika (dialog tiga arah) antara penulis, teks, dan pembaca tak selamanya berlangsung damai. Kecaman, teror, bahkan ancaman kekerasan fisik bisa mewarnai dialog tiga arah itu.
Sebagai pengalaman pribadi, dalam tulisannya, Waid mengisahkan intimidasi dan teror yang diterima pasca penerbitan buku Sorban yang Terluka. Dalam konteks yang lebih luas, nama-nama seperti Salman Rushdi, Ala Hamid, Nasr Hamid Abu Zaid, Farag Fouda, dan Mahmud Mohammad Toha bisa dijejer sebagai sampel yang menguatkan fenomena trialektika salah arti tersebut. Maksudnya, mereka adalah korban pembacaan teks yang berujung pada pemahaman berbuah kebencian pada sang penulis.
Merujuk pada tradisi hermeneutik, penulis sejatinya dianggap ”mati” ketika sebuah teks sudah berada di ruang baca para pembacanya. Teks telah menjadi milik sah para pembaca saat ia keluar dari ruang pikir penulisnya. Karena itu, apa pun interpretasi pembaca terhadap teks tak bisa disalahkan atau dibenarkan. Tak peduli apakah interpretasi itu cocok dengan ”kehendak awal” penulisnya atau tidak.
Teks itu multitafsir. Hammal al-wujuh, kata Imam Ali. Namun, tentu saja kebebasan menafsir dan memahami teks tidak berarti kebebasan untuk membenci atau menodai kebebasan menulis. Di sinilah kelapangan hati untuk menerima perbedaan pendapat harus dimunculkan dan dimatangkan.
Seorang penulis adalah kreator tulisan dan perangkum makna. Sedangkan pembaca adalah penafsir makna dari tulisan tersebut. Meski demikian, tak selamanya makna yang tertulis selaras dengan makna yang terpahami pembaca. Hal itu disebabkan banyak hal: latar belakang pengetahuan, perbedaan orientasi, alur pendidikan, ketajaman analisis, bahkan status sosial.
Misalnya, mereka yang duduk di pemerintahan akan lebih sensitif membaca tulisan seputar clean government, pemberantasan korupsi, atau transparansi keuangan daripada mereka yang berada di pihak oposisi. Perbedaan posisi sosial semacam itu bisa melahirkan respons berbeda -bahkan terkadang berlebihan- terhadap sebuah tulisan, pada sebuah buku.
Sedikitnya, ada tiga tipologi pembaca buku. Pertama, pembaca buku knowledgable. Yang masuk dalam kelompok tersebut adalah para pembaca yang menelaah isi buku berdasar keinginan murni untuk mendalami isi dan muatan buku, tanpa tendensi side-effect apa pun. Kelompok tersebut tak berpikir soal kecenderungan dan orientasi ideologis ataupun politis penulisnya. Pembacaan mereka murni seseorang yang ingin tahu dan ingin menguatkan pengetahuan.
Bagi kelompok itu, substansi dan esensi buku lebih penting daripada menyoal kecenderungan, ideologis, ataupun politis si penulis buku. Buku-buku yang dilahap kelompok tersebut kebanyakan buku kurikulum, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Biasanya, buku-buku yang mereka baca adalah buku yang linier dengan disiplin ilmu pengetahuan yang digeluti.
Kedua, kelompok pembaca buku karena dorongan keingintahuan (curiosity). Berbeda dari kelompok pertama, kelompok ini menelusuri sebuah buku lebih karena keingintahuan, bukan semata karena pengetahuan (knowledge). Bagi kelompok tersebut, isi dan substansi buku bukanlah unsur pokok. Tapi, melampiaskan keingintahuan dan meladeni ke-penasaran-an diri adalah yang utama.
Misalnya, orang-orang berbondong-bondong mencari buku tentang Michael Jakson pasca kematian raja pop tersebut. Orang memburu buku-buku tentang klub sepak bola Manchester United ketika tim itu merencanakan bertandang ke Jakarta. Atau, orang-orang yang melahap buku-buku tentang terorisme pasca peledakan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.
Membaca buku, bagi kelompok itu, telah menjelma menjadi tren dan life style agar tak ketinggalan informasi. Momen-momen penting lebih bisa menggerakkan kelompok pembaca kedua tersebut untuk giat membaca buku tertentu daripada buku-buku terkait dengan tuntutan profesi.
Di sisi lain, ada penulis yang menulis dengan memanfaatkan momentum peristiwa tertentu. Takkan sebuah momen pun terlewati tanpa menulis buku. Contoh terkini, ketika Ramadan tiba, banyak penulis yang keroyokan menerbitkan buku-buku tentang puasa.
Kelompok ketiga adalah pembaca buku yang tendensius. Mereka membaca buku bukan untuk menimba pengetahuan, tapi untuk mencari kesalahan dan keteledoran di dalamnya. Setidaknya, mereka membaca hanya untuk memperkuat diri sendiri bahwa buku tersebut tidak bagus, tidak bermutu, atau salah. Bukan pengetahuan atau keingintahuan yang mendasari pembacaan mereka, tapi ketidaksukaan (dislikeness) dan kebencian (hatred).
Contohnya, kelompok kanan Ikhwanul Muslimin di Mesir akan cenderung membaca buku-buku tentang Islam kiri seperti buku-buku Hassan Hanafi, Arkoun, dan Mahmoud Ismail. Tapi, bukan untuk mengetahui dan mengapresiasi buku tersebut, melainkan untuk mencari kelemahan dan melihat celah untuk menyerang balik pemahaman yang mereka anggap salah.
Sebaliknya, kelompok liberal cenderung bersikap sama terhadap buku-buku Islam kanan, melihatnya sebagai sebuah keteledoran berpikir dan kepicikan bernalar. Hal itu bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran selama polemik yang mereka lakukan masih berpusar di aras wacana.
Persoalannya, tidak sedikit kelompok pembaca ketiga itu yang mengekspresikan ketidaksukaan mereka terhadap sebuah buku dengan kecaman, tuduhan, bahkan ancaman terhadap penulisnya. Buku tak berbalas buku. Kata-kata tak berbalik kalimat. Kebencian itu mereka ekspos dalam bentuk intimidative speech dan kekerasan fisik. Cerita Abdul Waid adalah contoh kecil perkara itu. Masih banyak kisah heroik para penulis dunia yang berani melawan ”maut” dan tetap menulis buku, meski dicecar segala tuduhan dan diserbu berbagai ancaman.
Kekerasan tidak hanya menakutkan saat ia menjelma dalam bentuk fisik. Kekerasan mental, seperti ancaman dan teror, juga tak bisa dimaafkan. Seorang Nasr Abu Zaid, penulis buku kontroversial Mafhum an-Nash, bahkan harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari ruang kondusif berkarya, menulis, dan mengajar. Tuduhan dan ancaman memaksanya meninggalkan Mesir.
Mohammad Arkoun lebih memilih tinggal di Prancis daripada hidup di negeri asalnya, Aljazair, agar mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk karir intelektualnya. Abdullah An-Naim, Khaled Abou El Fadl, Mahmoud Ayyoub, serta penulis-penulis migran lain memilih hidup jauh dari negeri sendiri untuk mencari kenyamanan dan kedamaian berkarya.
Dalam konteks Indonesia, banyak penulis yang terpaksa hijrah dan menjadi penulis di ”negeri rantau”, jauh dari tempat kelahiran, dengan dua alasan: meminimalkan atau menghindari konflik. Dalam Hubbu, pemenang sayembara novel DKJ 2006, Mashuri menggambarkan dengan apik kisah seseorang yang dituntut bisa meneruskan tradisi di lingkungan asalnya. Tapi, pada saat bersamaan, dia dihadapkan pada kehidupan rantau yang jauh berbeda.
Seorang penulis kritis yang lahir dari tradisi dan lingkungan status quo memang sering dihadapkan pada pilihan dilematis: menjadi kritis tapi dieliminasi dari ”tanah asal” atau menjadi penulis yang tak menyentuh persoalan ”tanah asal”-nya.
Perlu dicatat, tradisi yang mempertahankan status quo cenderung melahirkan pembaca-pembaca tendensius yang lebih sibuk mempersoalkan kesalahan dan keteledoran daripada mencari kebenaran dan pengetahuan dalam sebuah buku.
Menghadapi mereka, seorang penulis tak perlu repot mencari gaya menulis lain agar terhindar dari respons negatif, melainkan terus berkarya sesuai keinginan, fakta, serta pengetahuan yang sebenarnya. Kebenaran memang harus terus ditulis, meski memerahkan mata pembacanya. (*)
*) Pegiat kelompok baca dan sastra SBK (Sarikat Buruh Kata), alumnus studi agama dan lintas budaya UGM.
Label: Akhmad Siddiq, Esai, Media Jawa Timur
Diposkan oleh PuJa di 05:38 0 komentar
Renungan Indah W.S. Rendra
Elik /dari berbagai sumber
http://www.tempointeraktif.com/
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???…
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
Renungan Indah
WS Rendra
rendraWillibrordus Surendra Btoto, lebih akrab dipanggil Rendra atau WS Rendra, meninggal tadi malam. Semoga amal baiknya diterima Tuhan Yang Maha Esa. Banyak handai tolan merasa kehilangan budayawan dan penyair kondang itu.
Rendra kecil dilahirkan dari bibit seniman, kedua orangtuanya menekuni tari dan drama. Ketika memeluk Islam, nama panjangnya berganti Wahyu Sulaiman Rendra. Julukannya tetap WS Rendra. ‘Si Burung Merak’ itu pulang ke pangkuan Pemilik dirinya.
Lahir: Solo, Jawa Tengah, 9 November 1935
Ayah : R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo (seniman dan guru di Solo)
Ibu: Raden Ayu Catharina Ismadillah (penari keraton Surakarta)
Keluarga:
Menikah tiga kali:
-Istri pertama Sunarti Suwandi (cerai 1981) punya lima orang anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.
-Istri kedua Bendoro Ayu Sitoresmi Prabuningrat (cerai 1979) punya empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
-Istri ketiga Ken Zuraida punya dua orang anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.
Keyakinan:
- Dari kecil hingga usia 35 tahun memeluk Katolik
- Mulai 12 Agustus 1970 masuk Islam, saat menikahi Sitoresmi.
Pendidikan:
-SR Santo Yosef, Solo (1948)
-SMP Santo Yosef, Solo (1951)
-SMA Santo Yosef, Solo (1954)
- Fakultas Santra Universitas Gadjah Mada
- Sekolah drama dan tari di Amerika
- Mendapat biasiswa American Academy of Dramatical Art
Karya dan Penghargaan:
- Kaki Palsu, drama pertamanya yang dipentaskan sewaktu SMP.
- Orang-Orang di Tikungan Jalan, drama pertamanya mendapat penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta.
- Hadiah Sastra Nasional (1956)
- Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1970)
- Anugerah Akademi Jakarta (1975)
- Penghargaan Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
- Penghargaan Adam Malik (1989)
- The S.E.A. Write Award (1996)
- Penghargaan Achmad Bakri (2006)
- Karya puisi dan syairnya diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, Belanda, dan Jepang.
- Karya itu seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, dan Mencari Bapak.
- Pernah ditahan gara-gara mementaskan dramanya yang berjudul SEKDA pada 1977.
- Drama Mastodon dan Burung Kondor dilarang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Label: Catatan, Media Jawa Timur, W.S. Rendra
Diposkan oleh PuJa di 05:34 0 komentar