Kamis, 03 November 2011

Talaud, Porodisa di Ujung Laut

Raudal Tanjung Banua *
http://www.tempointeraktif.com/

Manado. - Di bawah hujan lebat, tepat pukul 17.00 waktu setempat, KM Ratu Maria tujuan Melonguane yang saya tumpangi perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Manado. Hari itu Rabu, awal Mei 2010. Pasar ikan, gereja, mercusuar, tiang jembatan, pertokoan, dan rumah-rumah mulai pudar di kejauhan, tertutup tirai hujan. Dari ruang nakhoda, seorang pendeta memimpin doa bagi keselamatan pelayaran.
Jika tak ada aral melintang, kapal bertarif Rp 165 ribu ini akan tiba di gugusan Kepulauan Talaud esok hari. Saya bayangkan, semalaman bakal melelahkan, tapi wajah riang para penumpang memupus anggapan itu. Lagi pula, saya mendapat kamar yang nyaman di lantai atas, milik anak buah kapal dengan tambahan sewa Rp 150 ribu. Bersih, penuh simbol Kristiani. Saya beralih membayangkan suasana lain yang bakal saya reguk di sepanjang pelayaran.

Benar saja, belum jauh ke tengah, gerombolan ikan tuna muncul berkejaran di sisi kapal. Tak lama, kapal melewati dua ikon pariwisata Sulawesi Utara: Gunung Manado Tua dan Pulau Bunaken. Manado Tua, yang tersembul dari laut, memiliki perkampungan tua, cikal-bakal orang Manado. Bunaken mendunia berkat taman bawah lautnya. Meski hanya numpang lewat, cukup alasan untuk berdecak kagum.

Malam harinya, hujan reda dan langit terang penuh bintang. Bulan bulat menjelang purnama membuat permukaan laut berkilat mandi cahaya. Saya bertahan di dek kapal sampai larut malam. Setelah puas, saya berbaring di dipan bagian atas. Lewat pintu yang dibiarkan terbuka, saya bisa memandang laut lepas. Akhirnya saya tertidur dalam lelah.

Keesokan hari saya terbangun ketika sinar matahari jatuh menyentuh pipi saya. Suara merdu Dian Pisesa terdengar dari speaker kapal. Bersamaan dengan itu, dua petugas datang membagikan jatah sarapan pagi. Saya bergegas bangun, dan pergi mencuci muka ke kamar mandi. Pukul 08.00 Wita, lewat pengeras suara, petugas mengumumkan kapal akan merapat di Lirung. Ia meminta penumpang bersiap, dan bapak pendeta memimpin doa.

Kapal menyorongkan lambungnya yang sarat ke dermaga. Sejumlah speedboat berkejaran menyongsong. Pengemudinya berteriak menawarkan jasa. Rupanya, waktu sandar dimanfaatkan sebagian penumpang tujuan Melonguane untuk melanjutkan perjalanan dengan speedboat. Waktu tempuhnya hanya 25 menit, tarifnya Rp 20 ribu per orang. Kalau ikut kapal, waktu tempuh satu jam.

Saya memilih sabar menunggu. Perlu lebih dari satu jam untuk menurunkan penumpang dan barang. Saya terhibur oleh keindahan dua pulau kecil di depan pelabuhan. Pantainya putih dan dirimbuni pohon kelapa. Dari Pak Alex, seorang penumpang, saya tahu nama pulau itu: Sarak Besar dan Sarak Kecil. Tapi Sarak Kecil, katanya, sudah dikuasai seorang pengusaha. Saya mulai merasa jemu ketika tong-tong sampah menganga ke laut, menghamburkan sampah plastik dari atas kapal.

Beruntung, Pak Alex beralih cerita. Lirung, katanya, merupakan pelabuhan pertama disinggahi pagi hari. Lirung terletak di Pulau Salibabu. Setelah Lirung, pelabuhan berikutnya adalah Melonguane dan Beo, keduanya di Karakelang, pulau terbesar di gugusan Talaud. Hanya, kapal tak selalu ke Beo, lebih sering sampai Melonguane. Padahal Beo pelabuhan tertua.

Itu sebabnya, ketika Talaud jadi kabupaten sendiri,lepas dari Sangihe pada 2000, persoalan ibu kota cukup krusial. Lirung dan Beo bersaing ketat. Jalan tengah: ditetapkan Melonguane. Toh, kota ini sudah lebih dulu memiliki pelabuhan udara yang didarati dua hari sekali oleh pesawat kecil Merpati dan Wings Air. Selain itu, feri dari Bitung punya jadwal tetap ke tempat ini.

Kabupaten Talaud terdiri atas Pulau Salibabu, Karakelang, Sarak, Kabaruan, dan puluhan pulau kecil. Termasuk Kepulauan Nanusa, yang terdiri atas Karatung, Mangumpung, Kakarotan, Gerama, dan Miangas, pulau paling utara. Talaud terletak di gerbang Samudra Pasifik dan berbatasan langsung dengan Filipina. Tak mengherankan, orang Talaud banyak di Mindanao, terutama di Davao City. Begitupun sebaliknya. Mereka membarter barang: orang Filipina mengandalkan sandal, ayam, dan minuman kaleng, sedangkan orang kita mengandalkan rokok kretek dan pakaian.

Talaud berasal dari ungkapan tanah ujung laut. Tapi nama paling populernya adalah pemberian Gubernur VOC di Maluku, Padtbrugge. Pada 1677 ia singgah di Talaud dan menyebutnya "Noorder-einlanden", Nusa Utara. Belanda kemudian masuk dengan membangun banyak gereja yang artistik. Portugis pun ikut mengincar, tapi tersingkir ke Filipina, meninggalkan tata ruang kota khas Eropa, yakni jalan-jalan yang sejajar lurus. Portugis menyebut Talaud "Porodisa", artinya Tanah Sorga.

Pukul 09.30 Wita, kapal merapat di Melonguane. Pelabuhannya lebih kecil dibanding Lirung. Gudang dan rumah-rumah juga tak sepadat di Lirung. Yang membuat keduanya sama ialah menjulang tingginya tiang pancar telepon seluler. Seolah mengingatkan bahwa kota di lautan luas ini meretas isolasi.

Saya bersalaman dengan Pak Alex, yang badannya tinggi berdegap. "Nanti torang boleh ketemu lagi dang. Kalau ke Rainis, singgahlah, kitorang ada di Beo. Boleh begitu?" ia menepuk pundak saya. Besar kemungkinan kami kembali bertemu. Maklum, kami berada di satu pulau yang jalannya belum banyak simpang, kotanya masih lengang, dan penduduknya relatif sedikit. Tapi, ah, bisa saja Pak Alex menghabiskan waktu di ladang memetik kelapa, cengkeh, atau pala.

Saya dijemput Alfred Pontolondo, kawan lama waktu di Yogya. Berboncengan kami naik sepeda motor. Mata saya tak henti memperhatikan Melonguane, yang sedang tumbuh. Sebuah tugu berlambang bola dunia berdiri sejajar dengan dermaga, dekat perempatan yang sepi. Yang membuat jalanan di Melonguane hidup ialah keberadaan "taksi bentor", becak yang dimodifikasi dengan sepeda motor. Bentor menjadi alat transportasi andalan warga, jauh-dekat tarifnya Rp 3.000.

Alfred membawa saya ke rumahnya, tak jauh dari tugu. Rumah kayu sederhana itu terletak di gang berlumpur karena kerap diguyur hujan. Atapnya dari seng, membuat saya mandi keringat. "Rumah ini belum setahun kami beli," kata Alfred. Saya segera ke teras depan. Lumayan, angin bertiup segar. Istri dan mertua Alfred sebenarnya tinggal di Rainis, 60 kilometer arah utara dari Melonguane. Sekali seminggu mereka pulang. Seperti hari itu, ibu mertuanya--salah satu staf Kantor Lingkungan Hidup--baru berangkat ke Rainis, dan bapak mertuanya--pegawai Dinas Pendidikan Nasional--sedang mengontrol ujian akhir nasional.

Alfred mengajak saya makan siang. Ternyata ibu mertuanya sudah menyiapkan sejumlah menu yang bagi saya terasa spesial. Ikan bakar dan sayur nating sebenarnya menu rumahan di Talaud, tapi segera memancing saya untuk lahap. Sayur nating sejenis daun singkong, tapi lebih lembut dan membuat kuah gulai jadi kental. Apalagi santan gulai di sini sangat pekat. Maklum, daerah penghasil kelapa. Cocok dengan lidah Sumatera saya.

Yang paling menantang adalah rebusan talas, jenis umbian yang gampang ditemukan di Talaud. Ada dua jenis talas, warna putih dengan rasa gurih, asli Talaud. Sedangkan warna merah berserat lembut berasal dari Filipina. Dimakan pakai gulai ikan cakalang, wah, rasanya jadi tak mau beranjak dari meja makan!

Habis makan, kami berkeliling kota, melewati rumah-rumah berpagar rendah yang seragam. Anehnya, warna pagar itu hanya dua macam: merah dan biru. Menurut Alfred, itu pantulan "warna politik" mereka. Kami tiba di kompleks pemerintah daerah Talaud di atas bukit. Kantor bupati tampak paling besar, bertingkat dua. Di sampingnya berderet kantor dinas dengan bangunan relatif baru, tapi halamannya tak terurus. Bahkan rumput liar nyaris menutupi badan jalan di kawasan itu. Tak jauh dari kantor bupati, terdapat kompleks rumah ibadah beberapa agama, dinamakan "Bukit Cinta"--mengingatkan akan "Bukit Kasih" di Minahasa.

Ketika warna senja memantul merah di pucuk-pucuk cengkeh dan pala, kami mampir membeli ikan yang dijajakan para perempuan di dekat pelabuhan. Murah-meriah, meski kurang segar karena merupakan sisa siang sebelumnya. Saya pilih juga ikan tongkol cukup besar, hanya Rp 10 ribu. Ikan kembung dan bawal satu kresek kami bayar Rp 12 ribu. Lalu kami ke pasar membeli bumbu. Malamnya, kami puas pesta ikan bakar.
Hari berikutnya, hujan turun sejak pagi. Rencana ke Desa Musi terpaksa kami batalkan. Musi merupakan desa tua yang memiliki kepercayaan pada roh leluhur. Menjelang siang, hujan reda, kami langsung tancap ke Rainis. Moda transportasi di jalur ini adalah mobil pelat hitam, yang mematok tarif mahal, Rp 30 ribu per orang.

Kami memutuskan berkendaraan motor dengan santai di jalan aspal yang bagus. Saya pikir, meski jauh di perbatasan, jalan di Talaud lebih baik. Tapi, Alfred bilang, banyak juga jalan Talaud yang rusak. Kondisi jalan lingkar Karakelang hanya bagus di jalur Melonguane-Beo-Rainis-Esang, sedangkan pantai timur rusak parah.

Kami singgah di Gua Totambatu, Desa Tarohan. Gua ini terdapat di puncak batu karang tempat tengkorak dan tulang-belulang yang dipercaya sebagai nenek moyang orang Talaud berserakan. Ditilik dari pecahan piring dan keramik di situ, mereka berkebudayaan tinggi. Sayang, semua itu tak terawat. Padahal pantainya juga sangat indah dengan hutan bakau dan pohon kelapa. Di sini ditemukan burung langka endemik, tu'a. Jurnal ilmiah Forkatil menamainya Gymnocrex talaudensis.

Saya menikmati Beo sebagai kota kecil berusia tua, yang menyiapkan dirinya sejak dulu dengan pelabuhan, gereja, sekolah, dan tata ruang kota yang baik. Sayang, sejarah seolah berhenti ketika Belanda pergi dan pemerintah tak cakap mengembangkannya. Malah tambang bijih besi hendak dibuka dan ditentang masyarakat karena dianggap merusak. Spanduk penolakan terpasang di jalan-jalan. Kini Beo tampak seperti berdandan dengan pakaian lama yang tersimpan di lemari tua.

Jalan ke Rainis mulai menanjak dan penuh tikungan. Maklum, jalan ini memotong bagian tengah Pulau Karakelang, menghubungkan Beo di pantai barat dengan Rainis di pantai timur. Perjalanan melewati pegunungan sejuk dalam lindungan pohon cengkeh yang rimbun di kiri-kanan jalan. Orang-orang dengan keranjang di punggung tampak pulang dari ladang, sebagian membawa tangga bambu pemetik cengkeh.

Selain hasil laut, Talaud sumber utama kelapa, pala, dan cengkeh, meski harganya tak pernah memuaskan. Hanya pada masa pemerintahan Gus Dur harga komoditas itu menembus harga pasar internasional. Tak mengherankan, nama Gus Dur seharum bunga cengkeh di Talaud. Selebihnya cerita sedih, misalnya tentang puluhan hektare kebun warga dijual murah kepada pengusaha dan tuan tanah.

Perasaan asing sejak tiba di Rainis pupus ketika Minggu pagi yang cerah saya berkeliling. Orang-orang berbaris ke gereja, menyapa ramah. Saya rasakan masyarakat Talaud sangat religius. Selain pemeluk Kristen, ada desa muslim, seperti Bawunian dan Resduk. Mereka transmigran dari Marore, Kawio, dan Kawaluso, Sangihe, yang memeluk Islam sejak masa Kasultanan Ternate dan Tidore. Mereka hidup damai.

Saya terus berjalan menyusuri Rainis, dan tahu betapa kota kecil ini sangat cantik! Ia bertingkat dua, bagian atas dengan cengkeh dan pala, bagian bawah pantai dan kelapa. Sebuah tangga batu menghubungkannya. Gereja tua, tangga batu, dan pelabuhan kecil seolah jadi landmark Rainis. Saya menghabiskan waktu empat hari di sini. Lebih sekadar memberi workshop sastra, saya merasa masuk dalam kehidupan orang Talaud yang hangat.

Hari terakhir, bersama siswa dan guru, saya berkunjung ke Lobbo, pulau kecil di sebelah utara Beo. Kami menyeberang naik perahu, membawa banyak makanan. Saya dan Alfred berkeliling pulau. Meski tak lebih dari 2 kilometer persegi, ternyata tak mudah. Banyak karang tajam dan belukar. Tapi rimba bakau, pasir putih, dan suara burung imbalannya. Setelah susah-payah mencapai tempat berkumpul, kami merayakan semacam perpisahan. Berdiri mengitari tikar penuh makanan, seseorang di antara kami memimpin doa. Lalu kami makan bersama. Terus semua berendam di laut yang tenang, menyaksikan ikan tuna memburu ikan-ikan kecil. Di atas kami, lengkung pelangi menyemburat dari laut ke langit. Besoknya, dari bandara kecil Melonguane, dengan pesawat kecil, saya meninggalkan Porodisa dengan kecamuk perasaan yang sengit.

__________21 Juni 2010
*) Raudal Tanjung Banua, penikmat perjalanan, tinggal di Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt