Raudal Tanjung Banua *
http://www.tempointeraktif.com/
Manado. - Di bawah hujan lebat, tepat pukul 17.00 waktu setempat, KM Ratu Maria tujuan Melonguane yang saya tumpangi perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Manado. Hari itu Rabu, awal Mei 2010. Pasar ikan, gereja, mercusuar, tiang jembatan, pertokoan, dan rumah-rumah mulai pudar di kejauhan, tertutup tirai hujan. Dari ruang nakhoda, seorang pendeta memimpin doa bagi keselamatan pelayaran.
Jika tak ada aral melintang, kapal bertarif Rp 165 ribu ini akan tiba di gugusan Kepulauan Talaud esok hari. Saya bayangkan, semalaman bakal melelahkan, tapi wajah riang para penumpang memupus anggapan itu. Lagi pula, saya mendapat kamar yang nyaman di lantai atas, milik anak buah kapal dengan tambahan sewa Rp 150 ribu. Bersih, penuh simbol Kristiani. Saya beralih membayangkan suasana lain yang bakal saya reguk di sepanjang pelayaran.
Benar saja, belum jauh ke tengah, gerombolan ikan tuna muncul berkejaran di sisi kapal. Tak lama, kapal melewati dua ikon pariwisata Sulawesi Utara: Gunung Manado Tua dan Pulau Bunaken. Manado Tua, yang tersembul dari laut, memiliki perkampungan tua, cikal-bakal orang Manado. Bunaken mendunia berkat taman bawah lautnya. Meski hanya numpang lewat, cukup alasan untuk berdecak kagum.
Malam harinya, hujan reda dan langit terang penuh bintang. Bulan bulat menjelang purnama membuat permukaan laut berkilat mandi cahaya. Saya bertahan di dek kapal sampai larut malam. Setelah puas, saya berbaring di dipan bagian atas. Lewat pintu yang dibiarkan terbuka, saya bisa memandang laut lepas. Akhirnya saya tertidur dalam lelah.
Keesokan hari saya terbangun ketika sinar matahari jatuh menyentuh pipi saya. Suara merdu Dian Pisesa terdengar dari speaker kapal. Bersamaan dengan itu, dua petugas datang membagikan jatah sarapan pagi. Saya bergegas bangun, dan pergi mencuci muka ke kamar mandi. Pukul 08.00 Wita, lewat pengeras suara, petugas mengumumkan kapal akan merapat di Lirung. Ia meminta penumpang bersiap, dan bapak pendeta memimpin doa.
Kapal menyorongkan lambungnya yang sarat ke dermaga. Sejumlah speedboat berkejaran menyongsong. Pengemudinya berteriak menawarkan jasa. Rupanya, waktu sandar dimanfaatkan sebagian penumpang tujuan Melonguane untuk melanjutkan perjalanan dengan speedboat. Waktu tempuhnya hanya 25 menit, tarifnya Rp 20 ribu per orang. Kalau ikut kapal, waktu tempuh satu jam.
Saya memilih sabar menunggu. Perlu lebih dari satu jam untuk menurunkan penumpang dan barang. Saya terhibur oleh keindahan dua pulau kecil di depan pelabuhan. Pantainya putih dan dirimbuni pohon kelapa. Dari Pak Alex, seorang penumpang, saya tahu nama pulau itu: Sarak Besar dan Sarak Kecil. Tapi Sarak Kecil, katanya, sudah dikuasai seorang pengusaha. Saya mulai merasa jemu ketika tong-tong sampah menganga ke laut, menghamburkan sampah plastik dari atas kapal.
Beruntung, Pak Alex beralih cerita. Lirung, katanya, merupakan pelabuhan pertama disinggahi pagi hari. Lirung terletak di Pulau Salibabu. Setelah Lirung, pelabuhan berikutnya adalah Melonguane dan Beo, keduanya di Karakelang, pulau terbesar di gugusan Talaud. Hanya, kapal tak selalu ke Beo, lebih sering sampai Melonguane. Padahal Beo pelabuhan tertua.
Itu sebabnya, ketika Talaud jadi kabupaten sendiri,lepas dari Sangihe pada 2000, persoalan ibu kota cukup krusial. Lirung dan Beo bersaing ketat. Jalan tengah: ditetapkan Melonguane. Toh, kota ini sudah lebih dulu memiliki pelabuhan udara yang didarati dua hari sekali oleh pesawat kecil Merpati dan Wings Air. Selain itu, feri dari Bitung punya jadwal tetap ke tempat ini.
Kabupaten Talaud terdiri atas Pulau Salibabu, Karakelang, Sarak, Kabaruan, dan puluhan pulau kecil. Termasuk Kepulauan Nanusa, yang terdiri atas Karatung, Mangumpung, Kakarotan, Gerama, dan Miangas, pulau paling utara. Talaud terletak di gerbang Samudra Pasifik dan berbatasan langsung dengan Filipina. Tak mengherankan, orang Talaud banyak di Mindanao, terutama di Davao City. Begitupun sebaliknya. Mereka membarter barang: orang Filipina mengandalkan sandal, ayam, dan minuman kaleng, sedangkan orang kita mengandalkan rokok kretek dan pakaian.
Talaud berasal dari ungkapan tanah ujung laut. Tapi nama paling populernya adalah pemberian Gubernur VOC di Maluku, Padtbrugge. Pada 1677 ia singgah di Talaud dan menyebutnya "Noorder-einlanden", Nusa Utara. Belanda kemudian masuk dengan membangun banyak gereja yang artistik. Portugis pun ikut mengincar, tapi tersingkir ke Filipina, meninggalkan tata ruang kota khas Eropa, yakni jalan-jalan yang sejajar lurus. Portugis menyebut Talaud "Porodisa", artinya Tanah Sorga.
Pukul 09.30 Wita, kapal merapat di Melonguane. Pelabuhannya lebih kecil dibanding Lirung. Gudang dan rumah-rumah juga tak sepadat di Lirung. Yang membuat keduanya sama ialah menjulang tingginya tiang pancar telepon seluler. Seolah mengingatkan bahwa kota di lautan luas ini meretas isolasi.
Saya bersalaman dengan Pak Alex, yang badannya tinggi berdegap. "Nanti torang boleh ketemu lagi dang. Kalau ke Rainis, singgahlah, kitorang ada di Beo. Boleh begitu?" ia menepuk pundak saya. Besar kemungkinan kami kembali bertemu. Maklum, kami berada di satu pulau yang jalannya belum banyak simpang, kotanya masih lengang, dan penduduknya relatif sedikit. Tapi, ah, bisa saja Pak Alex menghabiskan waktu di ladang memetik kelapa, cengkeh, atau pala.
Saya dijemput Alfred Pontolondo, kawan lama waktu di Yogya. Berboncengan kami naik sepeda motor. Mata saya tak henti memperhatikan Melonguane, yang sedang tumbuh. Sebuah tugu berlambang bola dunia berdiri sejajar dengan dermaga, dekat perempatan yang sepi. Yang membuat jalanan di Melonguane hidup ialah keberadaan "taksi bentor", becak yang dimodifikasi dengan sepeda motor. Bentor menjadi alat transportasi andalan warga, jauh-dekat tarifnya Rp 3.000.
Alfred membawa saya ke rumahnya, tak jauh dari tugu. Rumah kayu sederhana itu terletak di gang berlumpur karena kerap diguyur hujan. Atapnya dari seng, membuat saya mandi keringat. "Rumah ini belum setahun kami beli," kata Alfred. Saya segera ke teras depan. Lumayan, angin bertiup segar. Istri dan mertua Alfred sebenarnya tinggal di Rainis, 60 kilometer arah utara dari Melonguane. Sekali seminggu mereka pulang. Seperti hari itu, ibu mertuanya--salah satu staf Kantor Lingkungan Hidup--baru berangkat ke Rainis, dan bapak mertuanya--pegawai Dinas Pendidikan Nasional--sedang mengontrol ujian akhir nasional.
Alfred mengajak saya makan siang. Ternyata ibu mertuanya sudah menyiapkan sejumlah menu yang bagi saya terasa spesial. Ikan bakar dan sayur nating sebenarnya menu rumahan di Talaud, tapi segera memancing saya untuk lahap. Sayur nating sejenis daun singkong, tapi lebih lembut dan membuat kuah gulai jadi kental. Apalagi santan gulai di sini sangat pekat. Maklum, daerah penghasil kelapa. Cocok dengan lidah Sumatera saya.
Yang paling menantang adalah rebusan talas, jenis umbian yang gampang ditemukan di Talaud. Ada dua jenis talas, warna putih dengan rasa gurih, asli Talaud. Sedangkan warna merah berserat lembut berasal dari Filipina. Dimakan pakai gulai ikan cakalang, wah, rasanya jadi tak mau beranjak dari meja makan!
Habis makan, kami berkeliling kota, melewati rumah-rumah berpagar rendah yang seragam. Anehnya, warna pagar itu hanya dua macam: merah dan biru. Menurut Alfred, itu pantulan "warna politik" mereka. Kami tiba di kompleks pemerintah daerah Talaud di atas bukit. Kantor bupati tampak paling besar, bertingkat dua. Di sampingnya berderet kantor dinas dengan bangunan relatif baru, tapi halamannya tak terurus. Bahkan rumput liar nyaris menutupi badan jalan di kawasan itu. Tak jauh dari kantor bupati, terdapat kompleks rumah ibadah beberapa agama, dinamakan "Bukit Cinta"--mengingatkan akan "Bukit Kasih" di Minahasa.
Ketika warna senja memantul merah di pucuk-pucuk cengkeh dan pala, kami mampir membeli ikan yang dijajakan para perempuan di dekat pelabuhan. Murah-meriah, meski kurang segar karena merupakan sisa siang sebelumnya. Saya pilih juga ikan tongkol cukup besar, hanya Rp 10 ribu. Ikan kembung dan bawal satu kresek kami bayar Rp 12 ribu. Lalu kami ke pasar membeli bumbu. Malamnya, kami puas pesta ikan bakar.
Hari berikutnya, hujan turun sejak pagi. Rencana ke Desa Musi terpaksa kami batalkan. Musi merupakan desa tua yang memiliki kepercayaan pada roh leluhur. Menjelang siang, hujan reda, kami langsung tancap ke Rainis. Moda transportasi di jalur ini adalah mobil pelat hitam, yang mematok tarif mahal, Rp 30 ribu per orang.
Kami memutuskan berkendaraan motor dengan santai di jalan aspal yang bagus. Saya pikir, meski jauh di perbatasan, jalan di Talaud lebih baik. Tapi, Alfred bilang, banyak juga jalan Talaud yang rusak. Kondisi jalan lingkar Karakelang hanya bagus di jalur Melonguane-Beo-Rainis-Esang, sedangkan pantai timur rusak parah.
Kami singgah di Gua Totambatu, Desa Tarohan. Gua ini terdapat di puncak batu karang tempat tengkorak dan tulang-belulang yang dipercaya sebagai nenek moyang orang Talaud berserakan. Ditilik dari pecahan piring dan keramik di situ, mereka berkebudayaan tinggi. Sayang, semua itu tak terawat. Padahal pantainya juga sangat indah dengan hutan bakau dan pohon kelapa. Di sini ditemukan burung langka endemik, tu'a. Jurnal ilmiah Forkatil menamainya Gymnocrex talaudensis.
Saya menikmati Beo sebagai kota kecil berusia tua, yang menyiapkan dirinya sejak dulu dengan pelabuhan, gereja, sekolah, dan tata ruang kota yang baik. Sayang, sejarah seolah berhenti ketika Belanda pergi dan pemerintah tak cakap mengembangkannya. Malah tambang bijih besi hendak dibuka dan ditentang masyarakat karena dianggap merusak. Spanduk penolakan terpasang di jalan-jalan. Kini Beo tampak seperti berdandan dengan pakaian lama yang tersimpan di lemari tua.
Jalan ke Rainis mulai menanjak dan penuh tikungan. Maklum, jalan ini memotong bagian tengah Pulau Karakelang, menghubungkan Beo di pantai barat dengan Rainis di pantai timur. Perjalanan melewati pegunungan sejuk dalam lindungan pohon cengkeh yang rimbun di kiri-kanan jalan. Orang-orang dengan keranjang di punggung tampak pulang dari ladang, sebagian membawa tangga bambu pemetik cengkeh.
Selain hasil laut, Talaud sumber utama kelapa, pala, dan cengkeh, meski harganya tak pernah memuaskan. Hanya pada masa pemerintahan Gus Dur harga komoditas itu menembus harga pasar internasional. Tak mengherankan, nama Gus Dur seharum bunga cengkeh di Talaud. Selebihnya cerita sedih, misalnya tentang puluhan hektare kebun warga dijual murah kepada pengusaha dan tuan tanah.
Perasaan asing sejak tiba di Rainis pupus ketika Minggu pagi yang cerah saya berkeliling. Orang-orang berbaris ke gereja, menyapa ramah. Saya rasakan masyarakat Talaud sangat religius. Selain pemeluk Kristen, ada desa muslim, seperti Bawunian dan Resduk. Mereka transmigran dari Marore, Kawio, dan Kawaluso, Sangihe, yang memeluk Islam sejak masa Kasultanan Ternate dan Tidore. Mereka hidup damai.
Saya terus berjalan menyusuri Rainis, dan tahu betapa kota kecil ini sangat cantik! Ia bertingkat dua, bagian atas dengan cengkeh dan pala, bagian bawah pantai dan kelapa. Sebuah tangga batu menghubungkannya. Gereja tua, tangga batu, dan pelabuhan kecil seolah jadi landmark Rainis. Saya menghabiskan waktu empat hari di sini. Lebih sekadar memberi workshop sastra, saya merasa masuk dalam kehidupan orang Talaud yang hangat.
Hari terakhir, bersama siswa dan guru, saya berkunjung ke Lobbo, pulau kecil di sebelah utara Beo. Kami menyeberang naik perahu, membawa banyak makanan. Saya dan Alfred berkeliling pulau. Meski tak lebih dari 2 kilometer persegi, ternyata tak mudah. Banyak karang tajam dan belukar. Tapi rimba bakau, pasir putih, dan suara burung imbalannya. Setelah susah-payah mencapai tempat berkumpul, kami merayakan semacam perpisahan. Berdiri mengitari tikar penuh makanan, seseorang di antara kami memimpin doa. Lalu kami makan bersama. Terus semua berendam di laut yang tenang, menyaksikan ikan tuna memburu ikan-ikan kecil. Di atas kami, lengkung pelangi menyemburat dari laut ke langit. Besoknya, dari bandara kecil Melonguane, dengan pesawat kecil, saya meninggalkan Porodisa dengan kecamuk perasaan yang sengit.
__________21 Juni 2010
*) Raudal Tanjung Banua, penikmat perjalanan, tinggal di Yogyakarta.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Alexander
A. Anzieb
A. Aziz Masyhuri
A. Dahana
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.C. Andre Tanama
A.J. Susmana
A.S. Laksana
A’an Jindan AS
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W.M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Lathif
Abdul Malik
Abdul Rauf Singkil
Abdul Walid
Abdurrahman Wachid
Abdurrahman Wahid
Abid Rohmanu
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adek Alwi
Adhi Pandoyo
Adhitia Armitrianto
Adhy Rical
Adi Faridh
Adian Husaini
Adin
Aditya Ardi N
Adreas Anggit W.
Adrizas
Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI
AF. Tuasikal
Afri Meldam
Afrizal Malna
AG. Alif
Agama
Agama Para Bajingan
Agit Yogi Subandi
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Rakasiwi
Agus Sulton
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Aguslia Hidayah
AH J Khuzaini
Ah. Atok Illah
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Anshori
Ahmad Damanik
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Gaus
Ahmad Hasan MS
Ahmad Jauhari
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainul Fiah
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Akhmad Siddiq
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akmal Nasery Basral
Aksin Wijaya
Al-Fairish
Al-Ma'ruf I
Al-Ma'ruf II
Alang Khoiruddin
Albert Camus
Ali Mahmudi Ch
Alia Swastika
Alvi Puspita
Alvin
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aming Aminoedhin
Ana Mustamin
Anam Rahus
Anas AG
Andhi Setyo Wibowo
Andi Gunawan
Andry Deblenk
Angela
Anggie Melianna
Anindita S. Thayf
Anis Ceha
Anitya Wahdini
Anjrah Lelono Broto
Antologi Sastra Lamongan
Anugerah Ronggowarsito
Anwar Nuris
Aprillia Ika
Arida Fadrus
Aridus
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Junianto
Ariel Heryanto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Armawati
Arswendo Atmowiloto
Art Sabukjanur
Arti Bumi Intaran
Arwan
Aryo Wisanggeni
Aryo Wisanggeni Gentong
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Ashadi Ik
Asrama Mahasiswa Aceh Sabena
Asro Kamal Rokan
Astrid Reza
Asvi Warman Adam
Atafras
Atok Witono
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Azwar Nazir
Baca Puisi
Badrus Siroj
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bambang kempling
Bambang Riyanto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bastian Zulyeno
Beni Setia
Benni Setiawan
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Bernarda Rurit
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Biografi
Bre Redana
Brunel University
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Jay Utomo
Budi P. Hatees
Budi Palopo
Budi Setyarso
Budi Sp. Indrajati
Budiman S. Hartoyo
Budiman Sudjatmiko
Buku Kritik Sastra
Buldanul Khuri
Candrakirana
Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Choirul Rikzqa
Christian Heru Cahyo Saputro
Cover Buku
D. Dudu AR
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dadang Widjanarko
Damiri Mahmud
Dani Fuadhillah
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Dati Wahyuni
Dawet Jabung Ponorogo
Dedykalee
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Desa Glogok Karanggeneng Lamongan
Deshinta Arofah Dewi
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan
Dewi Anggraeni
Dian Sukarno
Diana A.V. Sasa
Didik Kusbiantoro
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Diskusi buku
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Djulianto Susantio
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Dorothea Rosa Herliany
Dr Andi Irawan
Dr Siti Muti’ah Setiawati
Dr. Hilma Rosyida Ahmad
Drs H Choirul Anam
Drs. Solihin
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwidjo Maksum
Dyah Ayu Fitriana
Eddi Koben
Edeng Syamsul Ma’arif
Edy Apriyanto Sudiyono
Edy Firmansyah
Edy Susanto
Efri Ritonga
EH Ismail
Eidi Krina Jason Sembiring
Eka Budianta
Eko Hartono
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
El Sahra Mahendra
Elita Sitorini
Elly Trisnawati
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Em. Syuhada'
Emha Ainun Nadjib
Encep Abdullah
Eni Sulistiyawati
Eny Rose
Esai
Ester Lince Napitupulu
Etik Widya
Evan Ys
F Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Fahrur Rozi
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fathan Mubarak
Fathul Qodir
Fathul Qorib
Felix K. Nesi
Festival Gugur Gunung
Festival Seni Surabaya 2011
Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan
Fikri. MS
Fiqih Arfani
Firman Daeva
Forum Lingkar Pena Lamongan
Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L)
Forum Santri Nasional
Forum Santri Nasional (FSN)
Free Hearty
Galuh Tulus Utama
Gandis Uka
Ganug Nugroho Adi
Gedung Sabudga UNISDA Lamongan
Gendut Riyanto
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Gesit Ariyanto
Gita Pratama
Glenn Fredly
Goenawan Mohamad
Golput
Gombloh
Gombloh (1948 – 1988)
Grathia Pitaloka
Gugun el-Guyanie
Gunoto Saparie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
H.B. Jassin
Hadi Napster
Hafis Azhari
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamid Dabashi
Han Gagas
Hardi Hamzah
Hari Prasetyo
Haris Del Hakim
Haris Saputra
Hary B Kori’un
Hasan Basri Marwah
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasyim Asy’ari
Hendro Situmorang
Henri Nurcahyo
Henry H Loupias
Hera Khaerani
Heri CS
Heri Kris
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Kuntoyo
Heru Kurniawan
Hikmat Darmawan
Holy Adib
Hudan Hidayat
Hujuala Rika Ayu
Humaidi
Humam S Chudori
I Made Asdhiana
I Nyoman Suaka
I. B. Putera Manuaba
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ichwan Prasetyo
Ida Fitri
Ignas Kleden
Ilham Safutra
Ilham Wancoko
Imam Munadjat
Imam Nawawi
Imam Zanatul Huaeri
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Herdiana
Imron Arlado
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indigo Art Space Madiun
Indra Tjahyadi
Indrian Koto
Ingki Rinaldi
Iqmal Tahir
Is Faridatul Arifah
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Isra’ Mi’raj
Iswadi Pratama
Iswara N Raditya
Iva Titin Shovia
Iwan Awaluddin Yusuf
Iwan Gunadi
J. Sumardianta
Jamrin Abubakar
Jansen Sinamo
Janu Jolang
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
Jejak Laskar Hisbullah Jombang
Jemie Simatupang
Jenny Ang
Jiero Cafe
Jihan Fauziah
JJ. Kusni
Jl Simo
Jo Batara Surya
Jodhi Yudono
Joko Budhiarto
Joko Sadewo
Joko Sandur
Joko Widodo
Jones Gultom
Joni Ariadinata
Joresan Mlarak Ponorogo
Joseph E. Stiglitz
Jual Buku Paket Hemat
Junus Satrio
Jurnalisme Sastra
K. Hirzuddin Hasbullah
K.H. Anwar Manshur
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma’ruf Amin
K.H. Masrikhan Asy'ari
K.H. Mudzakir Ma'ruf
Kadjie MM
Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad
Kang Daniel
Karanggeneng
Kartika Foundation
Kasanwikrama
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedai Kopi Sastra
Kekal Hamdani
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Kesenian
KH. M. Najib Muhammad
KH. Ma'ruf Amin
Khairul Mufid Jr
Khawas Auskarni
Khoirul Anwar
Khoirul Inayah
Khoirul Naim
Khoirul Rosyadi
Ki Ompong Sudarsono
Kitab Arbain Nawawi
Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Koko Sudarsono
Komaruddin Hidayat
Kompas TV
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA)
Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA)
Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER)
Kopi Bubuk Mbok Djum
Kopuisi
Korban Gempa di Lombok
Kospela
KPRI IKMAL Lamongan
Kris Razianto Mada
Kritik Sastra
Kurnia Sari Aziza
Kurniawan
Kusni Kasdut
Kuswaidi Syafi’ie
Kuswinarto
Lagu
Laili Rahmawati
Laksmi Sitoresmi
Lamongan
Lan Fang
Larung Sastra
Lathifa Akmaliyah
Latif Fianto
Leila S. Chudori
Leo Tolstoy
Lina Kelana
Listiyono Santoso
Liya Izzatul Iffah
Liza Wahyuninto
Lucky Aditya Ramadhan
Ludruk Jawa Timur
Lukisan
Lukman Alm
Lukman Santoso Az
Luqman Almishr
Lustantini Septiningsih
Lutfi S. Mendut
Lynglieastrid Isabellita
M Ismail
M Zainuddin
M. Afif Hasbullah
M. Faizi
M. Iqbal Dawami
M. Irfan Hidayatullah
M. Latief
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Mushthafa
M. Riza Fahlevi
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M’Shoe
Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1
Maghfur Munif
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahwi Air Tawar
Majelis Ulama Indonesia
Makalah Tinjauan Ilmiah
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Maman S. Mahayana
Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an
Maqhia Nisima
Mardi Luhung
Margita Widiyatmaka
Marhalim Zaini
Maria Magdalena Bhoernomo
Marjohan
Marsel Robot
Martin Aleida
Martin Hatch
Marwan Ja'far
Marwita Oktaviana
Marzuki Mustamar
Mashuri
Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar
Masuki M. Astro
Matroni el-Moezany
Matroni Muserang
Max Arifin
Maya Handhini
Mbah Kalbakal
Medco
Media Jawa Timur
Medri Osno
Mega Vristian
Mei Anjar Wintolo
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Memoar
Memoar Purnama di Kampung Halaman
Menggalang Dana Amal
Mentari Meida
Mh Zaelani Tammaka
Michael Gunadi Widjaja
Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno)
Misbahul Huda
Misbahus Surur
Moch. Faisol
Mochammad A. Tomtom
Moh Samsul Arifin
Moh. Ghufron Cholid
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Afifi
Mohammad Rafi Azzamy
Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak
Muh Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Ghannoe
Muhammad Ghufron
Muhammad Hidayat
Muhammad Marzuki
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad N. Hassan
Muhammad Rain
Muhammad Taufik
Muhammad Yasir
Muhammad Zia Ulhaq
Muhammadun A.S.
Muhibin AM
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukafi Niam
Mukhsin Amar
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Mun'im Sirry
Muntamah Cendani
Museum Bikon Blewut Ledalero
Musfarayani
Musfi Efrizal
Musyayana
Mutia Sukma
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nabi Adam
Nanang Fahrudin
Nandang Darana
Naskah Monolog
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Ni Luh Made Pertiwi F
Nindya Herdianti
Ninin Nurzalina Wati
Nitis Sahpeni
Nono Anwar Makarim
Noor H. Dee
Noorsam
Noval Jubbek
Novel Pekik
Novianti Setuningsih
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nur Hamzah
Nur Haryanto
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nuswantoro
Nyimas
Nyoman Tingkat
Obrolan
Oktamandjaya Wiguna
Oky Sanjaya
Opini
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Padepokan Lemah Putih Surakarta
Pagelaran Musim Tandur
Pameran Seni Rupa
Panda MT Siallagan
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Pekan Literasi Lamongan
Pelukis Dahlan Kong
Pelukis Jumartono
Pelukis Saron
Pelukis Senior Tarmuzie
Pendidikan
Penerbit SastraSewu
Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan
Pengajian
Pengetahuan
Perang
Peringatan Hari Pahlawan 10 November
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Pesantren An Nawawi Tanara (Penata)
Pesantren Kampung Inggris
Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011
Petrik Matanasi
Pilang Tejoasri Laren Lamongan
Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur
Pilkada
Piramid Giza
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
Pradana Boy ZTF
Pradaningrum Mijarto
Pramoedya Ananta Toer
Prih Prawesti Febriani
Pringadi AS
Prof Dr Achmad Zahro
Prof Dr Aminuddin Kasdi
Profil MA Matholi'ul Anwar
Prosa
Puisi
Puisi Menolak Korupsi
Puisi Menolak Korupsi (PMK)
Puji Hartanto
Puji Santosa
Puput Amiranti N
Purwanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Puspita Rose
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putri Utami
Putu Satria Kusuma
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Sugiarti
R. Timur Budi Raja
R.Ng. Ronggowarsito
Rabdul Rohim
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat Sazaly
Rahmat Sularso Nh
Raihul Fadjri
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ramadhan Batubara
Rambuana
Raudal Tanjung Banua
Raudlotul Immaroh
Redland Movie
Rengga AP
Reni Lismawati
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Riadi Ngasiran
Rian Sindu
Ribut Wijoto
Rieke Diah Pitaloka
Riki Dhamparan Putra
Rinto Andriono
Rizka Halida
Rizky Putri Pratimi
Robin Al Kautsar
Rocky Gerung
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohmad Hadiwijoyo
Rohmah Maulidia
Rohman Abdullah
Rojiful Mamduh
Rosdiansyah
Rosi
Rosidi
Roso Titi Sarkoro
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rumah Budaya Pantura Lamongan
Rumah Literasi
Rx King Motor
S Yoga
S. Jai
S.I. Poeradisastra
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Saiful Amin Ghofur
Saifur Rohman
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sandiaga Uno
Sanggar Pasir
Sanggar Pasir Art and Culture
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Sardono W Kusumo
Sartika Sari
Sarworo Sp
Sastra Facebook
Satmoko Budi Santoso
Satrio Lintang
Satyagraha Hoerip
Saut Situmorang
Savidapius
Sayuri Yosiana
Sayyid Fahmi Alathas
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis
SelaSAstra Boenga Ketjil
SelaSAstra Boenga Ketjil #23
SelaSAstra Boenga Ketjil #24
Seni Ambeng Ponorogo
Senirupa
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Shofiyatuz Zahroh
Shohebul Umam JR
Sholihul Huda
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Silfia Hanani
Sindu Putra
Sita Planasari Aquadini
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Hadi Purnomo
Soediro Satoto
Soegiharto
Soeprijadi Tomodihardjo
Soetanto Soepiadhy
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sreismitha Wungkul
Sri Igustin
Sri Mulyani
Sri Wintala Achmad
Sriyanto Danoesiswoyo
Stefanus P. Elu
Stevani Elisabeth
STKIP PGRI Ponorogo
Student Center Kampus ISI Yogyakarta
Subagio Sastrowardoyo
Suci Ayu Latifah
Sudarmoko
Sugeng Ariyadi
Sukitman
Sumenep
Sumiati Anastasia
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungelebak
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suripto SH
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suwardi Endraswara
Suyadi San
Syafrizal Sahrun
Syaifuddin Gani
Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili
Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari
Syamsul Arifin
Syamsul Rizal
Syi'ir
Syifa Amori
Syifa Aulia
T.A. Sakti
Tajuddin Noor Ganie
Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar
TanahmeraH ArtSpace
Tarpin A. Nasri
Taufik Rachman
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teater
Teater Air
Teater Bias
Teater Biru
Teater Cepak
Teater Dua
Teater Kanjeng
Teater Lingkar Merah Putih
Teater Mikro
Teater nDrinDinG
Teater Nusa
Teater Padi
Teater Roda UNISDA Lamongan
Teater Sakalintang
Teater Tali Mama
Teater Taman
Teater Tawon
Teater Tewol
Teguh LR
Temu Karya Teater Jawa Timur XXI
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Teori Darwin
Teori Fisika Hawking
Tgk Abdullah Lam U
Tharie Rietha
The Ibrahim Hosen Institute
Theresia Purbandini
Thomas Koten
Tien Rostini
Timur Arif Riyadi
Tjahjono Widarmanto
Tjut Zakiyah Anshari
Toeti Adhitama
Tosa Poetra
Tri Andhi S
Triyanto triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Tutut Herlina
Ucu Agustin
Udo Z. Karzi
Ulil Abshar-Abdalla
Umar Fauzi
Uniawati
Unieq Awien
Universitas Jember
Usman Arrumy
Ustadz Bangun Samudra
Uwell's King Shop
Uwell's Setiawan
Vassilisa Agata
Veven Sp. Wardhana
Viddy AD Daery
Video
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vita Devi Ajeng Pratiwi
W. Haryanto
W.S. Rendra
Wakos R. Gautama
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Welly Suryandoko
William Shakespeare
Wisnu Kisawa
Wiwik Widiyati
Wong Wing King
Wuri Kartiasih
Y. Wibowo
Yayasan Thoriqotul Hidayah 1
Yayat R. Cipasang
Yesi Devisa
Yesi Devisa Putri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yonathan Rahardjo
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yulianto
Yuliawati
Yunanto Sutyastomo
Yunus Supriyanto
Yurnaldi
Yushifull Ilmy
Yusri Fajar
Yusuf AN
Yusuf Suharto
Yusuf Wibisono
Yuval Noah Harari
Yuyuk Sugarman
Z. Mustopa
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zarra Martsella
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zen Hae
Zii
Zuhdi Swt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar