Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/
Penyair Afrizal Malna dan Suara Merdeka memperoleh Anugerah Kebudayaan 2006 untuk Media Massa dan Iklan dalam kategori "Puisi Terbaik Media Cetak" dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik SE, di Auditorium TVRI, semalam.
Puisi Afrizal Malna, "Pidato Bunga-bunga" yang dimuat di Suara Merdeka (26 Februari) berhasil mengalahkan "Menjadi Senja" (AN Ismanto, Kompas), "Dadu" (HU Mardiluhung, Kompas), "Pertarungan di Pniel" (Kompas), dan "Lelaki dan Ikan" (Koran Tempo).
"Sudah selayaknya Pemerintah memberikan penghargaan semacam ini. Tetapi kalau bisa hadiahnya lebih besar daripada yang diberikan oleh swasta," kata Afrizal yang mendapat piala, piagam, dan uang sebesar Rp 5 juta.
Karya Terbaik
Hal senada juga diungkapkan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Sasongko Tedjo. "Penghargaan ini akan membuat setiap media memilih karya-karya terbaik kebudayaan di setiap penerbitannya. Kami, sebagai koran yang terbit di daerah, merasa terhormat mendapat penghargaan ini."
Selain itu cerita pendek "Pemakaman Hujan" karya Afrizal Malna dan esai "Filsafat Jawa Masa Depan" karya Darmanto Jatman yang dimuat di media ini juga masuk unggulan dalam kategori cerpen dan opini. "Sayang tak menang. Namun ini sudah menunjukkan betapa rubrik sastra dan kebudayaan media ini tak dipandang sebelah mata oleh para juri," kata Triyanto Triwikromo, Redaktur Sastra dan Budaya Suara Merdeka.
Acara yang dipandu oleh Alya Rohali dan Krisna Mukti ini juga memberikan pengargaan kepada "Buku Pinjaman" (Heru CN, Feature, Koran Tempo), "Amarah" (Jacob Sumardjo, Opini, Kompas), "Wening" (Yanusa Nugroho, Cerpen, Kompas), "Bambu Runcing" (Danamon, Iklan Komersial), dan "Kalau Bukan Anda, Siapa..." (Badan Narkotika Nasional, Iklan Layanan Masyarakat). "Karena Pak Jacob sudah tiga kali menang, tahun depan jadi juri saja ya," kata Alya mengomentari ketangguhan kritikus dari Bandung itu.
Misi Kebudayaan
Juri juga memilih unggulan-unggulan tayangan terbaik televisi Indonesia. Pemenangnya terdiri atas "Lorong Waktu 6" (Sinetron, SCTV), "Teropong: Wulla Po'du" (Features, Indosiar), "Masuk TV" (Acara Anak-anak), "Dongeng Rakyat: Wayang Suket" (Seni Pertunjukan, Pro TV Semarang). "Sayang untuk variety show tidak ada karya yang diunggulkan. Mungkin para kreatornya kurang kreatif," kata Jon Tralala, pemain rebana dari Banjarmasin yang "berakting" sebagai pembaca daftar nominee.
Jero Wacik menyatakan hendaknya pemberian penghargaan ini akan meningkatkan kualitas media massa dan televisi sebagai pembangun karakter dan jatidiri bangsa. Tahun depan beberapa mata acara yang disiarkan oleh radio juga akan mendapat penghargaan. "Mereka harus memperhatikan visi dan misi kebudayaan. Kebudayaan kita itu masih menjadi yang terbaik. Jadi jangan dipinggirkan oleh kebudayaan lain," kata dia.
Begitulah, acara yang dimeriahkan oleh penampilan AB Three, Nugie, dan Arie AFI Yunior itu akhirnya memang bisa dijadikan sebagai penanda betapa negeri ini masih memperhatikan kebudayaan dan menghargai para kreatornya. "Lain kali para pemenang sebaiknya dimintai pidato pertanggung jawaban. Jadi acaranya biar agak sakral dan ada ritualnya segala," kata Afrizal yang tak menyangka puisinya mendapat hadiah utama.
29 Desember 2006
http://www.suaramerdeka.com/
Penyair Afrizal Malna dan Suara Merdeka memperoleh Anugerah Kebudayaan 2006 untuk Media Massa dan Iklan dalam kategori "Puisi Terbaik Media Cetak" dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik SE, di Auditorium TVRI, semalam.
Puisi Afrizal Malna, "Pidato Bunga-bunga" yang dimuat di Suara Merdeka (26 Februari) berhasil mengalahkan "Menjadi Senja" (AN Ismanto, Kompas), "Dadu" (HU Mardiluhung, Kompas), "Pertarungan di Pniel" (Kompas), dan "Lelaki dan Ikan" (Koran Tempo).
"Sudah selayaknya Pemerintah memberikan penghargaan semacam ini. Tetapi kalau bisa hadiahnya lebih besar daripada yang diberikan oleh swasta," kata Afrizal yang mendapat piala, piagam, dan uang sebesar Rp 5 juta.
Karya Terbaik
Hal senada juga diungkapkan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Sasongko Tedjo. "Penghargaan ini akan membuat setiap media memilih karya-karya terbaik kebudayaan di setiap penerbitannya. Kami, sebagai koran yang terbit di daerah, merasa terhormat mendapat penghargaan ini."
Selain itu cerita pendek "Pemakaman Hujan" karya Afrizal Malna dan esai "Filsafat Jawa Masa Depan" karya Darmanto Jatman yang dimuat di media ini juga masuk unggulan dalam kategori cerpen dan opini. "Sayang tak menang. Namun ini sudah menunjukkan betapa rubrik sastra dan kebudayaan media ini tak dipandang sebelah mata oleh para juri," kata Triyanto Triwikromo, Redaktur Sastra dan Budaya Suara Merdeka.
Acara yang dipandu oleh Alya Rohali dan Krisna Mukti ini juga memberikan pengargaan kepada "Buku Pinjaman" (Heru CN, Feature, Koran Tempo), "Amarah" (Jacob Sumardjo, Opini, Kompas), "Wening" (Yanusa Nugroho, Cerpen, Kompas), "Bambu Runcing" (Danamon, Iklan Komersial), dan "Kalau Bukan Anda, Siapa..." (Badan Narkotika Nasional, Iklan Layanan Masyarakat). "Karena Pak Jacob sudah tiga kali menang, tahun depan jadi juri saja ya," kata Alya mengomentari ketangguhan kritikus dari Bandung itu.
Misi Kebudayaan
Juri juga memilih unggulan-unggulan tayangan terbaik televisi Indonesia. Pemenangnya terdiri atas "Lorong Waktu 6" (Sinetron, SCTV), "Teropong: Wulla Po'du" (Features, Indosiar), "Masuk TV" (Acara Anak-anak), "Dongeng Rakyat: Wayang Suket" (Seni Pertunjukan, Pro TV Semarang). "Sayang untuk variety show tidak ada karya yang diunggulkan. Mungkin para kreatornya kurang kreatif," kata Jon Tralala, pemain rebana dari Banjarmasin yang "berakting" sebagai pembaca daftar nominee.
Jero Wacik menyatakan hendaknya pemberian penghargaan ini akan meningkatkan kualitas media massa dan televisi sebagai pembangun karakter dan jatidiri bangsa. Tahun depan beberapa mata acara yang disiarkan oleh radio juga akan mendapat penghargaan. "Mereka harus memperhatikan visi dan misi kebudayaan. Kebudayaan kita itu masih menjadi yang terbaik. Jadi jangan dipinggirkan oleh kebudayaan lain," kata dia.
Begitulah, acara yang dimeriahkan oleh penampilan AB Three, Nugie, dan Arie AFI Yunior itu akhirnya memang bisa dijadikan sebagai penanda betapa negeri ini masih memperhatikan kebudayaan dan menghargai para kreatornya. "Lain kali para pemenang sebaiknya dimintai pidato pertanggung jawaban. Jadi acaranya biar agak sakral dan ada ritualnya segala," kata Afrizal yang tak menyangka puisinya mendapat hadiah utama.
29 Desember 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar