Jansen Sinamo
Kompas 21 Juni
Seorang profesor fisika, Pantur Silaban namanya, dosen kami dulu di Bandung, berkata bahwa alam tidak pernah korupsi. Elektron, misalnya, hanya bersedia menerima jatah energi yang sudah ditetapkan alam baginya, yaitu sebesar kelipatan bulat konstanta Planck. Alam bekerja dengan prinsip ”secukupnya” – tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini sesuai pula dengan selarik doa klasik, ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan makanan lima tahun untuk pemilu berikutnya!
Ini mengejutkan seisi kelas pagi itu. Kami tidak sedang mengikuti kuliah Pancasila atau Agama atau Etika, soalnya, tetapi kuliah Fisika Kuantum yang super-rumit.
Namun pada titik inilah sesungguhnya sang profesor berhasil menampilkan fisika melampaui aspek teknisnya dan menonjolkan wajah keluhurannya yang mulia dan cemerlang. Di tangan dosen ini, fisika yang kuyup dengan matematika canggih itu bisa tiba-tiba berubah menjadi kuliah keluhuran dan keagungan. Jelas teringat, hati kami selalu tergetar pada momen-momen ”intermesso” begini.
Sosok Silaban pasti tidak ada dalam benak B. Herry-Priyono, pengajar pada STF Driyarkara, ketika ia mengatakan dalam endorsement sebuah buku, ”Mendidik bukan pertama-tama urusan membuat murid pintar pelajaran matematika atau ekonomi, tetapi urusan kesetiaan menemani murid untuk menghasrati apa yang luhur dan memperoleh kebiasaan-kebiasaan hidup yang luhur. Pelajaran fisika ataupun geografi, sastra ataupun ekonomi adalah sarana mendidikkan hasrat dan kebiasaan luhur itu.”
Tampaknya semua guru sejati sangat paham soal ini: sesudah materi yang teknis-matematis-faktual disajikan, sebuah mata pelajaran harus disublimasikan ke wilayah keluhuran sehingga para murid berkesempatan mencicipi nektar sorgawi pelajarannya. Tanpa nektar ini, pelajaran apapun niscaya kehilangan madu-esensinya yang lezat, lalu hanya menjadi beban otak belaka, yang menjenuhkan dan segera terlupakan.
Serba Berjamaah
Maka kita sungguh kaget tersentak oleh kisah nyontek berjamaah Mei lalu, yang justru difasilitasi oleh guru-guru di sebuah SD di Jawa Timur. Sungguh sebuah ironi bila ditengok dari kacamata pendidikan dan keguruan yang telah menjadi sendi peradaban dunia sejak era Konfusius dan Sokrates.
Dan ironi ini segera berubah menjadi tragedi ketika Alif dan ibunya Siami, yang menolak mencemarkan diri, dan coba tampil menjadi protagonis keluhuran itu, tetapi justru dijahati oleh massa yang dimobilisasi para penikmat proyek nyontek massal itu.
Kita pun mengurut dada, berduka, dan bertanya. Quo vadis keguruan? Quo vadis keluhuran? Quo vadis pendidikan? Quo vadis Indonesia?
Ini harus kita kita jawab dengan tuntas dan saksama karena profesi keguruan adalah bunda semua profesi pengelola bangsa: hakim, jaksa, pengacara, polisi, politikus, birokrat, pebisnis, dan lain-lain. Secara operasional kita tahu, negeri bernama Indonesia ini sesungguhnya diselenggarakan oleh ratusan profesi mulia pada berbagai cabang kenegaraan, di semua eselon administasi, dan di seluruh tingkat operasi-birokrasi.
Tetapi kalau bunda keluhuran dan bunda Indonesia ini – yakni kaum guru, dosen, pendidik, pengajar, widyaswara, manggala, dan pembina – sudah rusak di hulunya, maka sangat mungkin terjadi bencana sarus-marus (satu rusak, semua rusak) di negeri kita.
Saya memang curiga: profesi keguruan yang sejatinya harus menjadi profesi utama dalam sebuah bangsa, sejak Indonesia merdeka – terutama di era Orde Baru – telah terpinggirkan secara sistematis menjadi profesi yang marjinal dan miskin. Profesi keguruan dikudeta oleh politikus dan kemudian militer. Buahnya kita tuai sekarang: keguruan Indonesia rusak parah sejak lama, dan sebagai akibatnya di daerah hilir, profesi-profesi yang mengelola negara ini juga ikut rusak berat. Wujudnya adalah korupsi besar-besaran yang terjadi di semua lini negara: eksekutif, legislatif, dan judikatif, serta berlangsung secara berjamaah, lintas profesi dan lintas sektoral. Inilah sekarang yang disebut rezim kleptokrat.
Hidupkan Keluhuran
Keluhuran, kemuliaan, dan keagungan adalah sublimasi kemanusiaan kita, yang di tingkat negara dirumuskan dalam Pancasila dan UUD 1945. Keluhuran ini adalah bentuk tertinggi dari hidup kita yang jasmaniah, material, dan intelektual. Bila keluhuran ini merosot maka kehidupan di semua tingkat juga merosot, mendangkal, dan memburuk. Hidup menjadi serba sesak-sempit, didominasi oleh hal-hal yang material-komersial. Tidak ada lagi pengorbanan, pelayanan, dan gotong-royong. Hilang sudah kejujuran, keadilan, dan persaudaraan. Telah lenyap bela rasa, kebaikan, dan cinta kasih. Maka jika dibilang Indonesia terancam menjadi negara gagal, hal itu bukanlah kekuatiran berlebihan.
Maka keluhuran harus disemarakkan lagi, dengan segera dan secara masif. Inilah tugas keguruan dan pendidikan sesungguhnya. Kini, Ibu Pertiwi memanggil semua guru, tidak hanya mereka yang tiga juta di bawah naungun Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi seluruh guru dalam semua organisasi bangsa kita, termasuk guru jemaat, guru mengaji, guru piano, guru karate, dan guru menjahit, hingga semua guru besar formal di universitas-universitas kita. Ya, ayolah, dan marilah!
__________________
JANSEN SINAMO Penulis buku 8 Etos Keguruan; Direktur Institut Darma Mahardika; Tinggal di Jakarta.
Kompas 21 Juni
Seorang profesor fisika, Pantur Silaban namanya, dosen kami dulu di Bandung, berkata bahwa alam tidak pernah korupsi. Elektron, misalnya, hanya bersedia menerima jatah energi yang sudah ditetapkan alam baginya, yaitu sebesar kelipatan bulat konstanta Planck. Alam bekerja dengan prinsip ”secukupnya” – tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini sesuai pula dengan selarik doa klasik, ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan makanan lima tahun untuk pemilu berikutnya!
Ini mengejutkan seisi kelas pagi itu. Kami tidak sedang mengikuti kuliah Pancasila atau Agama atau Etika, soalnya, tetapi kuliah Fisika Kuantum yang super-rumit.
Namun pada titik inilah sesungguhnya sang profesor berhasil menampilkan fisika melampaui aspek teknisnya dan menonjolkan wajah keluhurannya yang mulia dan cemerlang. Di tangan dosen ini, fisika yang kuyup dengan matematika canggih itu bisa tiba-tiba berubah menjadi kuliah keluhuran dan keagungan. Jelas teringat, hati kami selalu tergetar pada momen-momen ”intermesso” begini.
Sosok Silaban pasti tidak ada dalam benak B. Herry-Priyono, pengajar pada STF Driyarkara, ketika ia mengatakan dalam endorsement sebuah buku, ”Mendidik bukan pertama-tama urusan membuat murid pintar pelajaran matematika atau ekonomi, tetapi urusan kesetiaan menemani murid untuk menghasrati apa yang luhur dan memperoleh kebiasaan-kebiasaan hidup yang luhur. Pelajaran fisika ataupun geografi, sastra ataupun ekonomi adalah sarana mendidikkan hasrat dan kebiasaan luhur itu.”
Tampaknya semua guru sejati sangat paham soal ini: sesudah materi yang teknis-matematis-faktual disajikan, sebuah mata pelajaran harus disublimasikan ke wilayah keluhuran sehingga para murid berkesempatan mencicipi nektar sorgawi pelajarannya. Tanpa nektar ini, pelajaran apapun niscaya kehilangan madu-esensinya yang lezat, lalu hanya menjadi beban otak belaka, yang menjenuhkan dan segera terlupakan.
Serba Berjamaah
Maka kita sungguh kaget tersentak oleh kisah nyontek berjamaah Mei lalu, yang justru difasilitasi oleh guru-guru di sebuah SD di Jawa Timur. Sungguh sebuah ironi bila ditengok dari kacamata pendidikan dan keguruan yang telah menjadi sendi peradaban dunia sejak era Konfusius dan Sokrates.
Dan ironi ini segera berubah menjadi tragedi ketika Alif dan ibunya Siami, yang menolak mencemarkan diri, dan coba tampil menjadi protagonis keluhuran itu, tetapi justru dijahati oleh massa yang dimobilisasi para penikmat proyek nyontek massal itu.
Kita pun mengurut dada, berduka, dan bertanya. Quo vadis keguruan? Quo vadis keluhuran? Quo vadis pendidikan? Quo vadis Indonesia?
Ini harus kita kita jawab dengan tuntas dan saksama karena profesi keguruan adalah bunda semua profesi pengelola bangsa: hakim, jaksa, pengacara, polisi, politikus, birokrat, pebisnis, dan lain-lain. Secara operasional kita tahu, negeri bernama Indonesia ini sesungguhnya diselenggarakan oleh ratusan profesi mulia pada berbagai cabang kenegaraan, di semua eselon administasi, dan di seluruh tingkat operasi-birokrasi.
Tetapi kalau bunda keluhuran dan bunda Indonesia ini – yakni kaum guru, dosen, pendidik, pengajar, widyaswara, manggala, dan pembina – sudah rusak di hulunya, maka sangat mungkin terjadi bencana sarus-marus (satu rusak, semua rusak) di negeri kita.
Saya memang curiga: profesi keguruan yang sejatinya harus menjadi profesi utama dalam sebuah bangsa, sejak Indonesia merdeka – terutama di era Orde Baru – telah terpinggirkan secara sistematis menjadi profesi yang marjinal dan miskin. Profesi keguruan dikudeta oleh politikus dan kemudian militer. Buahnya kita tuai sekarang: keguruan Indonesia rusak parah sejak lama, dan sebagai akibatnya di daerah hilir, profesi-profesi yang mengelola negara ini juga ikut rusak berat. Wujudnya adalah korupsi besar-besaran yang terjadi di semua lini negara: eksekutif, legislatif, dan judikatif, serta berlangsung secara berjamaah, lintas profesi dan lintas sektoral. Inilah sekarang yang disebut rezim kleptokrat.
Hidupkan Keluhuran
Keluhuran, kemuliaan, dan keagungan adalah sublimasi kemanusiaan kita, yang di tingkat negara dirumuskan dalam Pancasila dan UUD 1945. Keluhuran ini adalah bentuk tertinggi dari hidup kita yang jasmaniah, material, dan intelektual. Bila keluhuran ini merosot maka kehidupan di semua tingkat juga merosot, mendangkal, dan memburuk. Hidup menjadi serba sesak-sempit, didominasi oleh hal-hal yang material-komersial. Tidak ada lagi pengorbanan, pelayanan, dan gotong-royong. Hilang sudah kejujuran, keadilan, dan persaudaraan. Telah lenyap bela rasa, kebaikan, dan cinta kasih. Maka jika dibilang Indonesia terancam menjadi negara gagal, hal itu bukanlah kekuatiran berlebihan.
Maka keluhuran harus disemarakkan lagi, dengan segera dan secara masif. Inilah tugas keguruan dan pendidikan sesungguhnya. Kini, Ibu Pertiwi memanggil semua guru, tidak hanya mereka yang tiga juta di bawah naungun Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi seluruh guru dalam semua organisasi bangsa kita, termasuk guru jemaat, guru mengaji, guru piano, guru karate, dan guru menjahit, hingga semua guru besar formal di universitas-universitas kita. Ya, ayolah, dan marilah!
__________________
JANSEN SINAMO Penulis buku 8 Etos Keguruan; Direktur Institut Darma Mahardika; Tinggal di Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar