Sabtu, 01 Oktober 2011

Nostalgia Pengantin Sastra (nJombang)

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Sastra, kerap seruas dengan hal tak terduga, lepas dari prediksi dan jangkauan macam apa pun, tiba-tiba ada, hadir, mengalir, nyata, kemudian hilang, senyap, muram, kelam dan remang. Keunikan apa sesungguhnya yang terjadi di balik fenomena sastra? Sehingga sedemikian ‘membatmentul-nya’diayunkan keseimbangan sejarah.

Sebagaimana perjalanan sejarah, sastra tak luput dari pertarungan ‘trik-intrik’pengibaran bendera: sebutlah yang paling dikenal dengan aliran realis dan surealis, keduanya gigih menyiapkan jala untuk menjadikan alasan mengenai siapa yang paling limited mendekati fungsi sastra ketika dihadapkan pada disiplin ilmu lain.


Namun, terlepas dari pengibaran bendera dimaksut, sastra tetap lahir laksana gaung pertapa dari dalam goa, ia nyaring dari gesekan ‘sreekk’ tapal kaki perantau di pucuk rerumputan dan bebatuan cadas, bahkan sastra terjadi pula dari clorotan jatuhnya meteor di angkasaraya.

Usahlah sastra dituntut berdisiplin dengan ilmu lain di luar sastra, sebab sastra merupakan unsur kelembutan, serupa ‘sel lentik’ dalam berbagai keilmuan. Hanya saja, sejauh mana pengudalan sastra dilakukan secara singkronik dalam ilmu lain tersebut.

Kehilangan sastra dalam berbagai lini keilmuan, samahalnya melempar segumpal kerinduan jauh ke lorong hal paling sunyi. Keadaan demikain, disadari atau tidak, pada kadar dan kurun waktu tertentu akan terserap oleh daya gravitasi pertemuan atas berlangsungnya kelayakan sebuah ekstase. Tidak ada yang terputus dalam sastra, seumpama snapsot, berdiri di tepian tebing dan beberapa detik kemudian terjungkal bersama lengkingan selamat tinggal dan terjerembab ke jurang kematian sejarah.

Di mana pun, tidak ada pedang bersilang linier yang nyata memenggal urat nadi sastra secara tragis dan menggelepar. Yang terjadi adalah tangis siklikal jabang bayi sebagai pananda kelahiran sastra garda depan dari rahim senja artistik silam.

Di Jombang, sebuah wilayah dataran kecil yang dipinggiri pegunungan, pertumbuhan sastra pernah dilanda wabah diktator orba. Sehingga kondisi pertumbuhan batang dan gagangnya ‘ndlunding ngelacir’dengan sisah beberapa helai daun. Itu pun tak hijau. Sebut saja Emha, ia adalah sisah musim kerontang orba yang tetap tumbuh dan bertahan ketika alam orba masih bercokol. Ngeri waktu itu, di desa sekecil Mentoro, Emha berani ‘misuhi’ Raja Suharto dengan lantang di hadapan 7000 manusia yang berjubelan. Saya masih merasakan ‘jithok mengkorok’ ketika Emha tegas berkoar mengkritik kebijakan rezim orba. Satu debaran kecil dengan pertanyaan apakah Emha ini tidak ditembak intelegen begundal Suharto? Akhir-akhir ini saya baru mengerti kenapa itu tidak terjadi. Ternyata di dalam buku tamu dan administrasi kepresidenan, tidak ditemukan sekecil pun dana dari presiden baik berupa uang santunan atau sumbangan atau sejenis kepada Emha. Sementara hampir semua tokoh kondang yang pernah terdengar di blantika percaturan sejarah Indonesia, tidak ada yang lolos dari dana ‘suap’ Suharto.

Selain Emha, Gus Dur juga sering turun ke wilayah kecil Jombang untuk nyambangi lahan NU-nya, sebab, NU pasti mempunya area istighosah yang tidak bisa dipandang sepeleh pengaruhnya. Namun kedatangan Gus Dur tidak ajeg setiap bulan seperti Emha. Apalagi Cak Nurcholis Madjid, ia hanya pulang jika ada undangan dari instansi dan lembaga yang membutuhkan kahadirannya. Sedang sastrawan penyambung masa di Jombang, seperti sayur sawi yang harus dijebol dari bedengnya supaya tumbuh gemuk di lahan baru. M. Shoim Anwar misalnya, lelaki berkumis tipis asal Sambong harus tertancap di Surabaya dengan buku terakhir yang saya ketahui Asap Rokok di Jilbab Santi. Begitu pula Fahrudin Nasrulloh lelaki pendek asal Lembah Pring Mojokuripan Sumobito harus ‘katut babon’ ke kota Pahlawan dengan buku terbarunya Syekh Bejirum dan Rajah Anjing. Abidah El Khaleiqy justru tidak besar di Jombang dan wajar mengalami diskontinuitas dengan generasi baru Jombang. Tangan kepenyairan Abidah seperti melambai selamat tinggal masa kecil dan tegas menggaris pengakuan sebagai pemukim Yogya. Ahmad Muhaimin Azzet, terakhir saya dengar sudah ‘ngluthuk’ dengan aliran sufinya, hanya ‘nyambangi Jombang ketika hari raya saja.

Emha yang terus riwa-riwi antar Jombang Yogya-Jombang-Indonesia-sesekali keliling dunia, tiap bulan masih menelurkan buku terbarunya: Demokrasi, Folklore Madura, Tidak Jibril Tidak Pensiun, Kumpulan cerpen BH, Istriku Seribu, Kagum Pada Orang Indonesia, Ikrar Khusnul Khotimah, Banjir Lumpur Banjir Janji. Namun bukan buku-buku Emha tersebut yang penting, ialah bagaimana konsekuensi Emha sebagai sastrawan-penulis-tetap bertanggungjawab terhadap generasi berikutnya dalam upaya melahirkan penulis, menggugah kreatifitas kaum muda. Dan hal demikian dibuktikan Emha sekeluarga dengan mengadakan Forum Silaturrakhim Pengajian Padhang mBulan yang sudah berjalan 15 tahun di rumahnya.

Selain Emha, penulis Jombang yang getol menggerakkan aktivitas literasi di tanah kelahirannya ialah Fahrudin Nasrulloh. Ia menggali kantung-kantung muara komunitas yang dialiri dari sungai kesenimanannya selama ‘mbambong’ (kuliah) di Yogya. Forum Geladak Sastra, adalah ide yang ‘berhasil’ digerakkan dengan tujuan menjembatani untuk mengapreseasi berbagai karya yang dihasilkan oleh penulis baru atau pun pendahulu dengan tiga titiktumpu agenda: membedah karya penulis lokal dan luar Jombang serta menggelar diskusi budaya dengan berbagai tema.

Dengan Geladak Sastra ini Fahrudin mengenalkan budaya: ‘acara terlaksana dengan menekan minim dana’, di mana pembicara diminta kerelaan untuk bersedia meski hanya ‘berhonor’beberapa buku sebagai rasa terimakasih. Kecuali pembicara dari luar Jawa Timur atau kota jauh dari Jombang, kadang beberapa anggota Geladak Sastra harus urunan uang sebagai pengganti biaya transportasi pembicara.

Cara demikian sertamerta menanggalkan anggapan bahwa sebuah acara hanya terlaksana dengan dana besar. Dengan kesadaran bersama untuk maju, saling berbagi, memperluas dan mempererat jaringan, merupakan entripoint tersendiri sebagai tungku penyulut kegumbrigahan proses berkesenian. Hingga tulisan ini saya turunkan, Geladak Sastra sudah menapakkan jejak pada putaran ke 15 dengan membedah cerpen Syekh Bejirum dan Rajah Anjing karya Fahrudin sendiri pada 02 April 2011yang mendatangkan Dwi Cipta (cerpenis asal Yogya). Sementara pada putaran sebelumnya membedah buku Asep Zamzam Noor yang dihadiri Kusprianto Namma (peminat sastra pedalaman dari Ngawi) dan Suyitno Ethex (penyair Mojokerto).

Selaras dengan Geladak Sastra, juga merebak berbagai komunitas baru atau lama yang mulai merutinkan kegiatannya. Dari wilayah Mojoagung, komunitas Tirtoagung pimpinana Haris dkk, ajeg dengan rutinan malam Jum’at Kliwon. Kecamatan yang paling padat seniman ini, Haris dkk berdampingan dengan komunitas lain di sekitarnya: komunitas Alief pimpinan Purwanto, teater Wadtera pimpinan Bambang Bey Irawan, komunitas Isuk-Isuk pimpinan Jainal Fuadin yang mereka lahir dari rahim kesenimanan sang sutradara MS. Nugroho dan Edy Haryoso.

Dari kawasan Jombang kota, komunitas yang mulai rutin dan mencair ialah KOMA Tambakberas. Acara ‘Malam Pituan’ yang diselenggarakan setiap bulan, mulai berloncatan ke berbagai pondok yang ada di Tambakberas. Demikian juga Lesehan Sastra yang melibatkan santri putri, sudah mengawali keajegannya tiap bulan.

Kawasan selatan kota mulai muncul Lentera Sastra yang dihandle Hadi Sutarno bersama segenap penggiat sastra mahasiswa kampus AMIK. Konsep Lentera Sastra yang tidak terlalu formil dan lebih bersifat ‘omong-omong blek’, ternyata mampu mengilhami beberapa komunitas untuk lebih berani membuka diri menggagas terlaksananya suatu kegiatan yang selama ini tabu dan iwuh dalam pandangan mereka.

Menyimak acara yang paling hangat dalam komunitas Lentera Sastra pada 30 April 2011, seolah ada yang menyentak bagi seniman Jombang, yakni berkumpulnya para pegiat senior seperti Cucuk SP, Anjrah Lelono Broto, Farid Dulkamdi (barisan teater KTI ), Cak Kepik (sesepuh teater Suket), Zeus Anggara (intelektual sastra dari Rejoso), Purwanto (Alief) dan Pak Idkhol Jempol (pecinta sastra yang pernah bermukim di Arab Saudi), Haris dan pasukannya (Tirtoagung), Jabbar Abdulloh (lurah Geladak Sastra). Tampak juga Toni Saputra dari penggerak Arisan Sastra di kawasan Trenggalek: sebuah rutinan sastra yang dikuati sesepuh Bonari Nabonenar, Nurani Soyomukti, mBah Hardho Sayoko Spd (penyair Macan Loreng dari Ngawi).

Yang menarik atas kehadiran mereka adalah ‘kesediaannya’ untuk terlibat membina kaum muda, padahal acara yang digagas hanyalah membedah puisi Mahendra PW (siswa SMAM I) dan Inung Ardiansyah (ketua BEM AMIK) yang masih tergolong anak kemarin sore dalam dunia sastra. Mereka inilah orang-orang yang berjiwa besar, tidak lantas risih dengan mempertaruhkan martabat ketika menghadiri acara anak kecil. Kelenturan jiwa semacam ini merupakan metode khusus bagi seniman yang berpotensi besar. Yakni kesediaan mengosongkan gelas kebesarannya supaya muat dituangi ilmu kembali.

Banyak sesungguhnya komunitas di Jombang yang masih melempem, individualis yang terkesan sebagai ‘santri mung gedekno konthol’: usreg dengan dirinya namun tak kunjung melahirkan karya. Karakter seniman semacam ini seperti kodok, betapa pun ia ditidurkan di kasur, akan mencolot kembali ke jublangan. Keberhasilannya hanya sebatas kebanggaan diri, menukar keberhasilan dengan tendensi agar dilihat orang tertentu, komunitas tertentu. Selesailah. Tidak ‘rahmatan lil alamin’: menang dewe enak wong akeh, dan bukan menang dewe enak coglok e dewe.

Kapan mereka jenggirat, Jombang pasti terdengar gemuruh raungan dari setiap celah. Jajaran alumni STKIP Jombang misalnya telah melahirkan komunitas Endut Ireng (Aang Fatikhul Islam), Gubuk Liat (Rahmat Sularso, M. Rifqirrahman, Rangga Obenk dkk), Liswas (Aditya Ardi Nugroho dan Agus Sulton). Dari Ikaha Tebuireng, ada Fathurrahman Karyadi dkk yang menggerakkan Majalah Triwulan Tebuireng. Dari Undar dikooptasi oleh Sanggar Sinau (Hadi S dan Anis Zamroni: dosen). Sementara dari pucuk Wonosalam terdengar Pecangkul (Junaidi Jun: dosen Ekonomi Undar). Di lingkungan PP. Darul Ulum Rejoso bercokol teater ‘Dua’yang dipegang oleh Luay.

Tidak hanya di Jombang, di seluruh wilayah Indonesia mana pun, generasi muda berhak menanyakan sejauh mana keterlibatan para seniaman besar dalam membina generasi penerusnya. Jika tidak, dan seniman besar itu hanya sibuk dengan kebesarannya, maka selesailah seniman besar itu di mata kawula muda. Tidak ada kehebatan sedikit pun kebesaran yang hanya disanjungkan untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, para seniman muda juga tidak lantas gelenggem, ngalem, sok besar, inklusif, jagakno digerakkan para seniman besar. Keduanya ibarat sepeda yang harus seimbang antara roda depan dan belakang, tidak gembos sebelah, agar nyaman dan gendring dinaiki.

Sepanjang pengalaman sejarah, Indonesia terbukti gagal dengan model kemunculan tokoh individualis. Yang diperlukan selanjutnya hanyalah kekuatan menyeluruh dari berbagai lini lapisan masyarakat. Di mana para sepuh dan kaum muda, berada dalam satu ruang untuk menyelenggarakan pengantin-pengantin pembangunan kesenian, kebudayaan, ekonomi, politik dll.

*) Penulis adalah Tim Lincak Sastra sekeluarga.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt