Sabtu, 17 September 2011

Festival Topeng

Lan Fang
Jawa Pos,28 Mar 2010

1. Tidak ada

PERKENALKAN, namaku Prameswari. Kata orang tuaku, arti namaku adalah permaisuri. Karena aku dilahirkan dengan kecantikan seorang putri. Jadi sudah sepantasnya kalau orang tuaku berharap aku memiliki kemewahan hidup seorang permaisuri.

“Nasibmu akan menjadi istri pejabat tinggi yang kaya raya. Paling tidak pangkat suamimu itu adalah kepala desa,” begitulah ibu berharap aku mendapatkan suami yang kaya, berpangkat, dan mempunyai jabatan tinggi.

Nah, suamiku bernama Drajat Hartono.

Kata orang tuanya, arti namanya adalah laki-laki yang berderajat dan berharta. Tetapi ternyata tidak ada hubungannya antara nama dengan nasib manusia. Karena suamiku bukan kepala desa apalagi pejabat tinggi yang kaya raya. Suamiku cuma seorang pembuat topeng.

Suamiku membuat wajah-wajah dari kayu. Ia membentuk kayu-kayu itu menjadi wajah tokoh-tokoh pewayangan. Ada wajah Kresna, manusia setengah dewa, titisan Dewa Wisnu. Ada wajah Bisma, putra Gangga, satria Hastinapura yang tidak bisa mati. Ada wajah Arjuna, salah satu Pandawa yang paling dipuja. Sampai ada pula wajah Durna, guru Hastinapura yang sangat dihormati.

Selain membuat topeng-topeng dengan wajah wayang, suamiku juga menerima pesanan topeng wajah yang disesuaikan dengan kehendak pemesannya. Ada yang memesan topeng wajah dengan mimik sedang tertawa lebar atau sedang tersenyum simpul. Ada juga yang minta dibikinkan topeng berwajah bijaksana dan berwibawa.

Sebetulnya aku kesal dengan pekerjaan suamiku. Karena pekerjaannya ini tidak menghasilkan uang setiap hari. Padahal kami butuh uang untuk makan setiap hari, bukan?

Bayangkanlah, setiap hari suamiku membuat berbagai macam topeng kayu. Ia menyerut kayu sampai permukaannya menjadi halus. Lalu membentuk mata, hidung, mulut dengan telaten sehingga topeng kayu itu benar-benar menyerupai wajah manusia. Tetapi sampai saat ini tidak ada yang membelinya.

Akhirnya, topeng-topeng itu hanya menumpuk di seluruh sudut ruangan rumah. Topeng-topeng itu tumpang tindih satu sama lain. Mata beradu telinga, telinga beradu hidung, hidung beradu mulut, mulut beradu mata. Kadang-kadang aku melihat mereka saling diam. Tetapi aku lebih sering melihat mereka bertengkar dan saling menggigit satu sama lain karena berebut tempat yang lebih leluasa.

“Minggir! Ini tempatku!”

“Tidak. Kau saja yang ke pinggir.”

“Rupanya kau mau kutendang, ya?”

Begitulah, aku kerap mendengar keributan mereka. Bukan itu saja. Mereka juga saling menyikut dan menendang sehingga tumpukan topeng-topeng itu selalu bergerak. Kadang-kadang hendak rubuh, tetapi kemudian mereka segera berkelompok untuk saling bergandengan. Misalnya, para topeng Durna berkelompok dengan sesama topeng Durna. Dan para topeng Arjuna menyatukan diri dengan para topeng Arjuna lainnya. Atau kelompok topeng berwajah bijak berkumpul bersama-sama. Sedangkan topeng-topeng yang tersenyum simpul pun mengelompokkan diri mereka sendiri.

“Kangmas, mungkin topeng-topeng itu hendak menyerang kita. Sepertinya mereka sedang merencanakan suatu konspirasi besar-besaran,” kataku gelisah.

“Tidak apa-apa. Mereka hanya menginginkan etalase, sebuah tempat terhormat untuk memajang wajah mereka,” sahut suamiku tanpa mempedulikan kegelisahanku. “Tetapi kita tidak perlu membeli etalase. Karena pada waktunya nanti, topeng-topeng itu akan habis terjual semua. Dan topeng-topeng itu akan menyiapkan etalase untuk diri mereka sendiri,” sahut suamiku.

Begitulah, setiap kali setelah menyelesaikan sebuah topeng suamiku menumpuknya lalu ia terus membuat topeng yang berikutnya. Kian hari, topeng-topeng pun semakin menggunung. Sehingga aku semakin terganggu karena suara dan pandangan mereka terasa mengikutiku. Tetapi mungkin aku keliru. Karena yang sebenarnya terjadi justru aku yang selalu memperhatikan gerakan dan mendengarkan suara mereka.

Pada suatu ketika, aku menemukan ada sesuatu yang tidak biasa. Yaitu, ternyata ada sebuah topeng yang hanya dibuat sebuah saja oleh suamiku. Dan topeng itu tidak dilemparkannya ke gundukan topeng-topeng itu. Melainkan, ia meletakkan topeng yang hanya satu-satunya itu di samping tempat tidur kami.

“Topeng apa ini?” tanyaku.

“Ekalaya.”

“Kenapa tidak ditumpuk bersama topeng-topeng yang lain?”

“Jangan. Biarkan saja dia di situ,” cegah suamiku ketika aku hendak melemparkan topeng Ekalaya keluar kamar.

Kupikir, suamiku semakin keterlaluan saja. Rumah kami yang kecil sudah dipenuhi tumpukan topeng. Mereka sudah menyita banyak tempat dengan bergerombol di ruang tamu, di meja makan, di dapur, sampai di kamar mandi. Satu-satunya tempat tanpa topeng adalah kamar tidur. Hanya di tempat inilah aku tidak dihantui pandangan dan bisik-bisik para topeng itu. Di kamar, aku bebas bermanja-manja pada suamiku tanpa kuatir ada topeng yang mengintip dan menguping kegiatan bercinta kami.

“Ayo, ceritakan dongeng pengantar tidur, Kangmas,” aku memintanya meninabobokanku dengan dongeng.

“Dongeng kancil dan buaya?” tanyanya.

“Tidak. Kemarin sudah dongeng itu. Aku bosan.”

“Lalu Yayi mau dongeng apa?”

Mataku menangkap seekor cicak lari terbirit-birit di tembok. “Ceritakan dongeng cicak dan buaya saja,” sahutku sambil memeluknya.

Suamiku tertawa, “Yayi… Yayi…buat apa cerita indah yang terlalu licin itu? Lebih baik kuceritakan tentang Ekalaya saja ya?”

Aku setuju karena aku pun ingin tahu kenapa ia sampai meletakkan topeng Ekalaya itu di pinggir tempat tidur. Padahal, setahuku, Ekalaya sama sekali bukan tokoh wayang yang terkenal. Bahkan namanya hampir tidak pernah terdengar.

“Itu karena orang-orang tidak mengetahui ada cerita yang tak terkisahkan…,” kata suamiku. Lalu ia menempelkan bibirnya ke telingaku. Terpaan napasnya terasa halus. Suamiku meneruskan ceritanya dengan suara lirih. Seakan-akan kuatir terdengar oleh yang lain. Rupanya ia mengerti bahwa topeng-topeng yang memenuhi rumah pasti sedang menelinga.

Tiba-tiba kulihat cicak yang terbirit-birit tadi menghentikan larinya lalu menatap kami dengan mata berkedip-kedip. Sepertinya ia juga ketularan penyakit menguping para topeng. Diam-diam kupuji, cicak kecil itu rupanya bernyali juga. Bagaimana kalau sekarang dia kutembak dengan ketapel karet? Pasti dia akan terpelanting dari tembok, jatuh ke lantai, lalu…. bisa saja kepalanya kuinjak dan….

Perhatianku dari cicak di tembok itu teralihkan ketika mendengar suamiku mengisahkan nasib Ekalaya dengan suara yang begitu pilu.

“Ekalaya rela memotong ibu jari kanannya sebagai bukti baktinya kepada Durna. Walaupun dengan demikian maka Ekalaya tidak bisa menjadi pemanah ulung lagi. Padahal diam-diam Durna memberikan ibu jari itu kepada Arjuna,” tiba-tiba mataku bagaikan terhalang embun dan kabut.

“Jadi ibu jari kanan Arjuna ada dua. Dan Arjuna selalu menyembunyikan cacatnya itu karena malu. Tetapi tidak ada yang tahu kalau Arjuna sebenarnya berjari sebelas….”

“Betapa jahatnya Durna. Ia bermain dua kartu. Ia tidak layak menjadi guru!” aku berteriak dengan penuh kemarahan.

“Sssttt… cerita ini hanya untukmu, Yayi….” Suamiku membungkam kemarahanku dengan sebuah ciuman.

Ciumannya membuat kemarahanku mencair. Dan betapa bodohnya Ekalaya…, kemarahanku lalu mencair menjadi tetes yang tergelincir di ujung mata.

“Sudahlah, Yayi…. Dalam perang memang harus ada yang dikorbankan untuk sebuah kemenangan,” aku tahu suamiku bermaksud menghiburku. Tetapi suaranya getir sekali.

Topeng Ekalaya melihat suamiku menciumi air mataku.

***

2. Mengada

Kemudian sampailah kami pada suatu waktu yang terasa aneh. Mendadak saja, setiap hari rumah kami didatangi para pembeli topeng. Mereka datang dengan mobil yang mengkilap dan mengenakan baju safari, jas atau batik sutra yang selalu necis dan licin. Ada yang rambutnya klimis seakan-akan sebotol minyak rambut ditumpahkan di sana. Ada yang bergaya flamboyan dengan kumisnya.

“Siapakah mereka?” tanyaku keheranan.

“Mereka semua kupanggil Pakde Wan. Merekalah yang memesan topeng-topeng itu.”

“Tampaknya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka membayar topeng tanpa menawar. Dan mereka gembira ketika mendapatkan topeng yang sesuai dengan keinginan mereka. Sebenarnya apa pekerjaan mereka?” tanyaku penasaran.

Lalu suamiku menjelaskan bahwa para Pakde Wan itu sedang mempersiapkan diri menyongsong Festival Topeng Nasional. Mereka sudah menyediakan etalase yang dihias seindah mungkin dengan bermacam-macam warna. Lalu mereka akan berjejer beramai-ramai dengan memakai topeng-topeng yang dibeli dari suamiku seperti layaknya kemeriahan sebuah parade. Untuk itu, mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang berapa banyak pun. Karena ini adalah sebuah festival yang akan mengantarkan mereka sampai pada gerbang megah sebuah singgasana.

“Singgasana? Aku ingin singgasana itu. Jadikan aku seorang permaisuri,” tukasku.

“Yayi… Yayi…,” gumam suamiku ini jelas tidak memuaskanku.

Maka, mulailah setiap hari aku mengomel dari pagi sampai pagi lagi. “Kau yang membuat topeng tetapi orang lain yang kaya. Kenapa tidak kau kenakan sendiri saja topeng itu sehingga bisa kaya seperti para Pakde Wan itu?” aku merasa suamiku tampak semakin bodoh saja.

Bagaimana suamiku tidak bodoh kalau ia tidak menaikkan harga jual topeng-topeng itu? Padahal topeng-topeng dengan wajah yang tersenyum dan tertawa itu sangat dicari pembeli. Terlebih lagi topeng wajah Arjuna laris seperti pisang goreng saja. Hampir rata-rata semua Pakde Wan yang datang ingin membeli topeng wajah Arjuna. Menurut mereka Arjuna adalah satria sakti yang berwajah mempesona. Sehingga Arjuna bisa memikat siapa saja.

Bukankah seharusnya suamiku bisa menjual topeng wajah Arjuna itu dengan harga seratus kali lipat. Karena para Pakde Wan itu tampak seperti orang-orang kalap yang tergila-gila memakai wajah Arjuna. Tetapi suamiku tetap menjual topeng-topeng itu dengan harga yang hanya cukup dipakai untuk membeli dua kilo beras. Bodohnya lagi, suamiku juga tidak menolak ketika para Pakde Wan itu menukar topeng dengan baju kaos yang berwarna, berangka dan ada gambar topeng yang dibelinya. Sampai akhirnya rumah kami berubah seperti tempat penimbunan kaos.

Akhirnya omelanku pun menjadi-jadi. “Kita butuh hidup yang lebih layak! Bukan butuh kaos!”

Tetapi suamiku tetap tenang-tenang saja. Ia justru lebih suka membersihkan topeng wajah Ekalaya daripada mendengarkan omelanku.

Aku semakin panik ketika perayaan Festival Topeng semakin dekat. Kemeriahan umbul-umbul parade sudah terlihat di mana-mana. Begitu juga topeng-topeng sudah dipajang di etalase-etalase. Di rumahku sudah tidak ada persediaan topeng lagi. Yang ada hanyalah topeng wajah Ekalaya itu. Itu satu-satunya topeng yang tidak dijualnya. Tepatnya, topeng wajah Ekalaya adalah satu-satunya topeng yang tidak pernah diminati para pembeli.

“Buatlah sebuah topeng lagi. Dan ikutlah menjadi peserta Festival Topeng. Apa gunanya namamu Drajat Hartono kalau ternyata kau tidak berharta dan tidak punya jabatan,” aku masih meneruskan omelanku dengan kesal karena melihatnya begitu memanjakan topeng Ekalaya yang menurutku bodoh itu. Aku tidak mau kebodohan Ekalaya yang rela memotong ibu jari kanannya sendiri itu menular kepada suamiku.

“Aku harus membuat topeng apa, Yayi?”

Aku terlonjak saking gembiranya. Akhirnya suamiku bergeming juga.

“Buatlah topeng wajah Rahwana. Jika para Pakde Wan itu harus memiliki banyak topeng untuk mengubah-ubah wajahnya tetapi kau cukup memiliki sebuah topeng saja. Sebuah topeng tetapi sudah berdasamuka, bersepuluh wajah. Dan setelah itu kau adalah Drajat Hartono yang sebenarnya, laki-laki berharta dan mempunyai jabatan yang tinggi,” sahutku menggebu-ngebu dengan penuh semangat.

Aku gembira sekali ketika suamiku mulai menyerut sepotong kayu lagi. Kali ini ia membuat topeng yang lebih besar dari sebelumnya. Wajah di topeng ini lebih banyak daripada jumlah delapan penjuru mata angin. Ada wajah dengan mata melotot sebesar meteor, ada yang bermulut besar sampai bisa menelan gunung dan mengisap lautan, ada juga wajah dengan hiasan taring seperti Pangeran Drakula, dan bermacam-macam bentuk yang lain. Pokoknya, inilah topeng suamiku yang paling hebat. Setelah selesai, suamiku langsung mengenakan topeng Rahwana itu. Sehingga aku yakin takdirku menjadi permaisuri akan segera tiba.

Topeng Ekalaya berairmata ketika topeng Rahwana menciumiku.

***

3. Tidak ada

Akhirnya dengan seluruh gegap gempita, Festival Topeng berakhir juga. Dan seperti yang sudah bisa kuduga sebelumnya, suamiku berhasil mendapatkan singgasana yang kuidam-idamkan. Sejak itu orang-orang memanggil suamiku bukan Drajat Hartono, tukang topeng lagi. Tetapi dipanggil Pakde Wan Drajat Hartono. Dan sudah jelas namaku juga berubah. Bukan lagi prameswari, istri tukang topeng. Sekarang aku dipanggil Prameswari Pakde Wan Drajat Hartono. Dan hidupku benar-benar bergelimang kemewahan seorang permaisuri.

Aku bangga sekali dengan suamiku. Sekarang ke mana pun ia pergi selalu dihormati banyak orang. Bila ia duduk, selalu diberi kursi di depan dan diberi pelayanan kelas satu. Setiap kali ia berbicara pasti banyak orang memberikan tepuk tangan. Dan ia tinggal menunjuk-nunjuk saja maka ada orang lain yang akan menyelesaikan apa yang ditunjuknya.

Tetapi sekarang mulai ada yang terasa menggelisahkanku. Kian hari aku semakin tidak mengenal suamiku sendiri. Aku mulai merindukan suamiku yang sederhana berwajah bersih dengan keningnya yang berseri. Suamiku, yang setiap malam mengakhiri dongengnya tentang kejujuran, pengabdian, dan kesetiaan dengan mesra “Yayi… Yayi…, kita sambung besok lagi, ya….”

Itu semua sudah tidak pernah kutemukan lagi pada suamiku. Karena setiap saat yang kulihat adalah sepuluh wajah Rahwana. Wajah yang menyeramkan itu hadir baik ketika suamiku sedang berbicara, makan, berjalan-jalan, tidur atau pada saat bercinta sekali pun. Bahkan setiap malam yang kudengar adalah dengkur raksasa kekenyangan. Celakanya, suamiku tidak berniat untuk menanggalkan topeng Rahwana itu.

Aku mulai berpikir keras bagaimana caranya agar bisa melepas topeng Rahwana dari wajah suamiku. Maka kusiapkan obeng, lingis, palu, kapak, pisau, dan segala peralatan pertukangan yang biasa dipergunakan suamiku bekerja. Lalu kutunggu sampai sepuluh wajah itu mendengkur seperti gemuruh gunung yang hendak meletus. Saat itulah kuayunkan palu dengan seluruh kekuatan untuk menghancurkan wajah-wajah buruk itu.

“Kraaakkkk!” kupecahkan satu per satu wajah-wajah kayu itu sampai terbelah dengan bunyi berderak.

“Yayiiiii…!” suamiku meraung sambil mendekap kesepuluh wajahnya yang telah bergelimpangan di lantai.

Ketika itulah aku melihat lagi wajah suamiku yang tanpa topeng. Wajahnya sudah menghitam seperti terkena radiasi kemoterapi penyakit kanker. Bentuk wajahnya juga sudah tidak karuan. Pipinya penuh dengan borok bergelembung, hidungnya melengkung seperti tukang sihir, matanya tanpa kelopak, bibirnya melebar sampai ke pipi dengan lidah yang terjulur.

“Tidak. Tidak. Kau bukan Drajat Hartono, suamiku…,” aku menangis kecewa melihat wajah asli suamiku berubah serupa dengan topeng Rahwana.

“Yayi… Yayi…,” mahluk itu menangis mendekap wajahnya sendiri. “Ini aku… Kangmas-mu….” Dari sela-sela jarinya, kulihat air matanya mengalir. Air mata yang berwarna abu-abu.

Aku semakin tersakiti karena mengenali suara yang sangat kurindukan. Aku menginginkan suamiku kembali, Drajat Hartono—si tukang topeng yang sederhana tetapi berhati legawa. Walaupun ia tanpa harta dan tanpa jabatan apa-apa tetapi selalu jujur, setia, dan berbudi mulia.

Topeng Ekalaya melihat aku menciumi air mata suamiku. (*)

________________
Lan Fang, lahir di Banjarmasin, 5 Maret 1970. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Surabaya. Nominator 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 dan 2009 versi Pena Kencana dan nominator Khatulistiwa Award 2008. Telah menerbitkan 8 buku prosa, antara lain: Perempuan Kembang Jepun (2006), Lelakon (2007), dan Ciuman di Bawah Hujan (2010). Saat ini tinggal di Surabaya untuk setia menulis esai, prosa, dan puisi.

Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2010/03/28/festival-topeng/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt