Share |
Memuat...

Kamis, 16 Februari 2012

Tanpa Pelipur Lara

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

FILSUF Perancis Blaise Pascal (1623-1662) dalam karya agungnya Pensées (1670) berkata bahwa seorang raja yang tak mengenal pelipur lara ialah manusia yang penuh kesengsaraan. Sitiran ini dipakai sebagai penyudah karya Jean Giono (1895-1970) Un Roi sans divertissement. Kalau seandainya otak Anda berkeringat karena membaca roman-roman karya kelompok Nouveau Roman (Roman Baru) apakah itu dari Michel Butor, Natalie Sarraute, Alain Robbe-Grillet, Marguerite Duras, atau Claude Simon,
sebagai pengimbangnya baiklah Anda menggantinya dengan karya-karya yang bobot estetikanya tidak terlalu berat dan mengucurkan keringat otak seperti karya-karya Jean Giono semacam Le Chante du monde (‘’Nyanyian Dunia’’) Le Hussardsur le toit (1951; ‘’Tentara di atas Atap’’), Le Moulin de Pologne (1952; ‘’Kincir Angin Polandia’’), Un Roi sans divertissement (1947; ‘’Raja Tanpa Pelipur Lara’’), dll.

Karya-karya Jean Giono tergolong dalam bacaan yang tidaklah terlalu berat sampai memercikkan keringat otak bersimbah ruah dibandingkan dengan karya-karya mereka yang tergolong dalam Nouveau Roman. Namun itu samasekali tidak berarti karya-karya Jean Giono tergolong dalam karya-karya sastra bermutu rendah.

Ketika dalam suatu pendahuluan untuk karya-karya kelompok Nouveau Roman ada nada ejekan terhadap keengganan pengarang masa itu menulis cerita seperti dulu Jean Giono bahkan menulis serangkaian cerita yang memperlihatkan kebaruan dalam sosok dan bentuk cerita. Ia berkata tentang karya-karyanya dalam Le Moulin de Pologne seperti ini: ‘’Tema kronik yang saya tulis ini membuka kemungkinan kepada saya untuk menggunakan semua bentuk dan sosok karangan, bahkan menciptakan bentuk-bentuk dan sosok baru kalau diperlukan apabila pokok kisahnya memerlukan’’.

Menurut Le Petit Larousse Illustré 1993 halaman 1496 Manosque ialah sebuah kota kecil di pergunungan Alpen di kawasan Haute-Provence yang berpenduduk 19.537 jiwa, pusat hidrolistrik yang terkenal. Di sinilah Jean Giono lahir pada 30 Maret 1895 dan meninggal dunia pada 8 Oktober 1970. Ciri karyanya ialah sang narator yang ialah persona pertama bukan protagonist. Karya-karya awalnya ditandai dari kata-kata sifat yang berwarna-warni. Namun dalam perkembangan selanjutnya Giono membancuh gambaran realisme dengan pengembaraan fantastik yang sebati dan sangatlah alami dan meyakinkan. Karena ia seorang fasifis yang anti perang, Giono mendapat tuduhan sebagai memihak dan untuk itu ia mendapat pembelaan yang tak tanggung-tanggung dan habis-habisan dari sastrawan yang tak kurang dari pembesar sastra yaitu André Gide.

Dalam Un Roi sans divertissement sang pencerita sangat menyukai menelaah sifat-sifat manusia. Ia berupaya menyusun segala sesuatu yang dapat dilihat dan diketahui dari rangkaian kehidupan seorang kapten polisi bernama Langlois yang datang ke Dauphiné untuk suatu tugas penelitian tentang tindakan jenayah atau kriminalitas. Gambaran yang dibuat si pengarang seperti potret atau penggambaran dari sebelah luar yang jelas untuk mengetahui rahasia manusia luar dan dalam.

Pada musim dingin tahun 1843, di sebuah desa di pegunungan yang tebal tertutup kabut salju ada beberapa penduduk yang menghilang tak tentu begitu saja. Rupanya mereka menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang, jika dilihat dari darah yang berhasil diteroka, sedangkan mayat-mayat mereka menghilang begitu saja. Kapten Langlois yang telah bersusah payah menyelidiki kejadian itu tidak berhasil mengetahui pangkal dan sebab musabab peristiwa itu. Sementara itu sang kapten mulai seperti berubah akal sehingga ia berperangai sama anehnya dengan selirat kejadian itu. Ia dan hal yang diselidikinya sama-sama aneh.

Awal musim dingin tahun selanjutnya kapten polisi Langlois muncul kembali di tempat yang sama. Ia tinggal di kedai kopi ‘’La Route’’ milik seorang mantan pelacur yang bernama Saucisse dalam menjalani cuti tiga bulan. Nampaknya ia belum mau melepaskan kasus pembunuhan yang misterius itu. Tegas dan terang-terang ia menyimpulkan bahwa si pembunuh bukan hantu atau manusia gaib, tapi seorang penjenayah biasa seperti penduduk lainnya.

Peristiwa ini memang aneh meskipun ia pasti terdiri dari manusia biasa, sebiasa para penduduk Dauphiné lainnya. Keyakinan kapten Langlois ternyata berjawab karena pada suatu hari seorang penduduk berhasil memergoki si pembunuh yang sedang turun dari sebatang pohon besar tempat ia menyembunyikan korban-korbannya selama ini.

Pembunuh itu diikuti dari belakang. Ternyata ia seorang yang berasal dari desa berdekatan, di Chichiliane. Dan si pembunuh yang telah terkuak misterinya itu diketahui bernama MV.

Kapten Langlois bertindak melampaui wewenangnya sebagai hamba hukum. Setelah menguntit si pembunuh yang memasuki hutan lebat, si kapten menembaknya dua kali. Segera setelah itu ia mengajukan permohonan berhenti dari dinas kepolisian karena merasa tugasnya sudah selesai.

Mantan kapten itu lalu menetap di desa itu dan menjadi pemimpin kelompok pemburu serigala. Di waktu senggang, ketika sedang tak ada serigala yang diburu ia mengunjungi kenalan lamanya seperti Saucisse, suami isteri Tim. Bahkan ia menikah dengan penduduk setempat.

Namun pada setiap kejadian yang mengarah pada pembunuhan atau semacam itu sang mantan kapten selalu merasa cemas, peristiwa pembunuhan MV dengan dua tembakan seperti berulang kembali. Hal ini sangat menyiksa batin Langlois. Darah dan kematian MV sangat mengganggu ketenangan jiwanya.

Dalam suatu perburuan serigala ia telah membunuh binatang liar itu dengan dua tembakan. Kejadian itu berulang-ulang tergambar dalam batinnya bercampur dan bergalau dengan pembunuhan yang ia lakukan dengan dua kali tembakan terhadap si pembunuh MV.

Pada suatu kunjungan Langlois ke rumah seorang perempuan petani ia menyaksikan penyembelihan angsa yang mengerikan. Di atas salju yang putih darah angsa itu mengalir. Tergambar pada ruang jiwanya: darah mengalir di atas salju. Darah di salju … darah di salju. Karya Jean Giono yang semerbak dengan denyut dan aroma kemanusiaan ini pastilah akan menjadi bacaan yang sangat pas dengan situasi jenayah atau kriminalitas di negeri kita yang sangat mengerikan pada akhir-akhir ini seperti manusia Indonesia itu sudah berubah 180 derajat; mana gambaran tentang negeri kita yang elok dan membangkitkan hormat bangsa-bangsa lain seperti dulu?

Malam itu mantan kapten Langlois membunuh dirinya dengan membakar batang dinamit seperti membakar cerutu. Lalu Un Roi sans divertissement yaitu ‘’Seorang Raja Tanpa Pelipur Lara’’ ditutup dengan sitiran Blaise Pascal: Seorang raja yang tak mengenal pelipur lara ialah manusia yang penuh kesengsaraan.***

1 Januari 2012

0 komentar:

Pengikut