Sabtu, 15 Oktober 2011

PUISI SURABAYA: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Umar Fauzi *
Surabaya Post, 23, 30 Agustus 2009

Membaca sejarah sastra (baca, perpuisian) Indonesia –pun mungkin kesusastraan dunia– dengan cara sederhana adalah membaca pengotakan zaman, sebagai khazanah yang coba dimitoskan ke dalam angkatan-angkatan atau periodeisasi kesusastraan. Dari bentukan angkatan/periode itulah, kritikus –secara sadar maupun terpaksakan– menemukan benang merah hingga layaklah disebut sebagai sebuah angkatan bla-bla-bla kesuasatraan Indonesia. Ini menjadi makfum, sebagaimana diungkapkan oleh Dami N Toda, tentang “benang merah” bahwa hadirnya kesamaan pencerapan diakibatkan “roh waktu” alamiah yang biasanya muncul sebagai trend mode karena lingkungan kode, simbol budaya, konversi dan konsumsi budaya yang sama. Secara praktis pun usaha ini memunyai kepentingan besar bagi perbendaharaan museum sastra Indonesia di masa mendatang, terutama bagi para pemerhatinya.

Menarik dari apa yang diungkapkan oleh Dami N Toda tersebut, adalah juga pembagian atau pemetaan sastra menurut “daerah estetika” yang dapat ditelaah melalui keberadaan/ tempat tinggal sastrawan. Jadi tidak hanya pembagian dalam arti kurun waktu, sastra Indonesia, telah menggoda para kritikusnya untuk melihat sengkarut proses kreatif dengan keberadaan sang penyair. Terjadi kemudian, wilayah geografis itu, tidak hanya dibaca sebagai usaha pencapaian estetik individu, namun penemuan corak-corak keterwakilan yang dibaca secara komunal sebagai ciri karya sastra daerah bla-bla-bla.

Usaha untuk ini sudah cukup banyak, misalnya yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia” tahun 2004 membuat antologi sastrawan masing-masing provinsi, diterbitkan oleh penerbit Logung dan Akar Indonesia. Antologi Jawa Timur dalam program tersebut adalah Birahi Hujan, memuat puisi Mardi Luhung, W. Haryanto, Indra Tjahyadi, Tjahjono Widijanto, dan Tjahjono Widarmanto dengan kurator Zawawi Imron. Majalah Horison, misalanya juga pernah menerbitkan edisi daerah. Antologi kota misalnya dapat dibaca pada antologi Lima Pusaran, Bunga Rampai Puisi Festival Seni Surabaya 2007, penyunting Nirwan Dewanto, memuat puisi-puisi Zen Hae (Jakarta) Iswadi Pratama (Lampung), Gunawan Maryanto (Jogja), S. Yoga (Surabaya), dan Sindu Putra (Bali).

Dari serangkaian antologi “wakil” wilayah geografis itulah, mencuat dan menjadi menarik adalah perhatian para kritikus terhadap puisi-puisi Jawa Timur (dibaca juga, Surabaya), yang katanya, keluar “terlalu jauh” dari maenstream perpuisian Indonesia. Inilah puisi gelap.

Resepsi menarik itu dapat dibaca seperti pendapat berikut. Puisi-puisi gelap sebagai akibat salah baca terhadap surealisme yang coba diusung sebagai “ideologi” kata Binhad Nurrohmad (dalam Sastra Perkelaminan, Pustaka Pujangga 2008); kecenderungan apokaliptik, ceramah Abdul Hadi pada waktu “Cakrawala Sastra Indonesia” dan kata pengantar Arif B. Prasetyo untuk Antologi Lima Penyair Jatim, Rumah Pasir, Festival Seni Surabaya 2008; Nirwan Dewanto mengatakan “puisi (Surabaya) yang menjelma keajaiban atau keganjilan dengan kocokan maut kata-kata.”

Memang yang mengemuka dalam peta penyair Jawa Timur, kebanyakan dari mereka adalah penyair-penyair yang matang berproses di Surabaya, utamanya dari kampus, seperti W. Haryanto, Mashuri, Indra Tjahjadi, S. Yoga, Tjahjono Widarmanto. Terlepas dari Surabaya yang menjadi inspirasi kelangsungan hidup mereka, Surabaya adalah delta pertemuan menarik, sebelum akhirnya para penyair itu kembali ke kampung halaman, sehingga puisi gelap tidak hanya dibaca sebagai Surabaya, akan tetapi ia adalah milik Jawa Timur.

Puisi gelap itu tak hanya dibaca sebagai capaian estetika individu, ia juga dibaca sebagai Surabaya, bahkan juga dibaca sebagai Jawa Timur. Karena itulah ia pun tak lagi dibaca sebagai pencapaian estetika individu, akan tetapi berubah menjadi “ideologi” komunal.

Perilaku ini ditemui pada “proklamasi” antologi Manifesto Surrealis oleh W. Haryanto, Mashuri, Indra Tjahjadi, dan Mohamad Aris. Jejak itu juga terasa dalam antologi tunggal mereka. Garda inilah sebenarnya yang cukup mengejutkan publik sastra Indonesia. Dengan membawa semangat Andre Breton, pencetus Surealisme, mereka mengira telah sampai pada taraf surealisme yang dimaksud, yang terjadi adalah puisi-puisi mereka jatuh pada “kegelapan.” Di sinilah rumusan puisi surrealis dan puisi gelap perlu dikonkretkan kembali.

Secara historis, Surabaya –sebelum puisi madzab “surealis” ini ada– telah ada prosa surealis yang dikatakan juga “anti novel” diciptakan oleh pengarang Iwan Simatupang dan Budi Darma. Kedua nama inilah dikatakan sebagai pembaharu prosa Indonesia juga sebagai pelopor prosa periode ’70an.

Kehadiran dua pengarang penting ini, setidaknya dapat dilihat dari banyaknya resepsi apresiatif terhadap karya-karya mereka. Meskipun dikatakan ganjil dan menyimpang dari “struktur” lazim prosa, justru estetika inilah yang dibaca sebagai kenikmatan prosa oleh pembacanya. Bahkan novel eksistensialisme ini juga dapat dikupas dengan baik oleh pelajar SLA, Julia Surjakusuma, pemenang penulisan esai DK Jakarta1973.

Sejalan dengan suksesnya surealisme dalam prosa, usaha terbalik terdapat dalam khazanah puisi “kredo” surealis Surabaya. Hal ini maklum, karena puisi memiliki struktur berbeda dengan prosa. Menarik untuk melihat bagaimana tidak mudahnya, surealisme puisi diterima oleh khalayak, adalah kata-kata terakhir Hasif Amini (dalam kolom “Tilas”, Kompas, 5 Maret 2006 dengan judul “Surealisme”) sebagai sebuah cita-cita yang mulia, tapi alangkah sulitnya. Tapi apa salahnya… Pun apa yang dikatakan oleh S. Yoga (SINDO, 1 Juli 2007) “puisi surealis yang baik tentu saja tetap membayangkan sesuatu yang nyata dalam ketidaknyataan. Kualitas ini harus dicapai jika tidak ingin disebut sebagai puisi gelap.”

Polemik puisi gelap Surabaya, pun secara nasional, seperti pernah dialamatkan pada puisi-puisi Afrizal Malna tidak hanya menyangkut pola ekspresi simbolik yang terlampau subjektif sehingga menyulitkan pembaca, akan tetapi –dalam konteks perpuisian Surabaya– lebih kepada pilihan tema yang terakumulasikan dari diksi yang tersebar. Jika kita membaca secara bersamaan puisi-puisi Afrizal Malna, Indra Tjahjadi, dan Mardi Luhung misalnya, tentu persoalan puisi gelap tidak lagi dalam konteks kesulitan dipahaminya sebuah puisi, melainkan pada jalinan peristiwa dalam puisi tersebut juga tema yang diangkat.

Afrizal Malna sebagai “anak”dari modernitas yang sedang berlangsung, memungut remah-remah diksinya dari apa yang ia lihat sebagai representasi teknologi, benda-benda, dan kegelisahan-kegelisahan di dalamnya, dalam Kalung Dari Teman, (Grasindo,1999). Atau “anak” pesisiran, macam Mardi Luhung yang bebal dan tanpa andeng-andeng itu, dalam Ciuman Bibirmu yang Kelabu, (Akar Indonesia, 2007). Menikmati imaji-imaji kedua jenis puisi itu, tentu akan berbeda ketika kita menikmati sarkasme maut-nya Indra Tjahjadi, sebuah kumpulan puisi dalam Ekspedisi Waktu (2004) yang remah diksi-diksinya tak “memijak” bumi, melainkan mengawang dan berasal dari dunia antah berantah, mungkin lebih mirip film hantu Indonesia, ketika kita menikmatinya, pun menikmati puisi-puisi aurat-nya Mashuri, atau kesangaran W. Haryanto.

ANGKATAN BARU PENYAIR SURABAYA

Estetika gelap itu mungkin akan atau sudah berlalu, dirasakan atau tidak, beberapa penyairnya mulai sedikit “jenuh” dan membelot meski tidak secara terang-terangan dan malu-malu pada pola pengungkapan baru, tengoklah misalnya puisi Mashuri, setelah Pengantin Lumpur –setidaknya yang terbit di media-media nasional dan lokal beberapa tahun belakang– seperti dua puisinya yang termuat antologi Pena Kencana 2008, misalnya.

Meskipun begitu masih ada studi cukup menarik dan kontras, pabila menikmati antologi bersama lima penyair Jawa Timur dalam Rumah Pasir, Festival Seni Surabaya 2008. Dalam puisi itu kita melihat tiga penyair “lawas”: Indra Tjahjadi, Mashuri, dan Denny Tri Ariyanti, serta dua penyair “baru”: A. Muttaqin dan F. Aziz Manna. “Lawas” karena mereka masih menampilkan kegarangan dalam kegelapan puisi-puisi mereka. Dan “baru” karena dua penyair tersebut terakhir, adalah penyair yang datang dengan segala respon lahir-batin terhadap kesuraman puisi-puisi pendahulunya.

Puisi-puisi Festival Seni Surabaya 2008 yang bertajuk Tribute to Surabaya itu, apa boleh buat, sebenarnya lebih pantas disebut “Lima Penyair Surabaya (kota)”, bukan Jawa Timur. Ini karena kelima penyair tersebut ternyata adalah penyair yang pernah menikmati delta pendidikan sastra di Surabaya. Arif B. Prasetyo selaku kurator ternyata masih diganduli kenyataan bahwa Surabaya adalah penghasil puisi apokalipstik, maka yang termaktub dan pantas mewakili Tribute to Surabaya adalah sajak-sajak seperti yang “lawas”. Seolah-olah Surabaya dengan dinamika sosialnya memanglah “segelap” puisi-puisi itu, padahal Tribute to Surabaya akan lebih dinamis seandainya Arif memahami usaha “penghijauan” di Surabaya. Setidaknya jika ini terjadi akan lebih layak menyandang “ lima penyair Jawa Timur”, seperti halnya Pelayaran Bunga, antologi mutakhir penyair Jawa Timur, pilihan Festival Cak Durasim 2007.

Terlepas dari kondisi keterbatasan itu, antologi Rumah Pasir akan dibaca sebagai tonggak peralihan puisi Surabaya, yakni dari gelap menjadi terang.

Adalah A. Muttaqin, penyair fenomenal Jawa Timur saat ini, kalau mau dikatakan sebagai pelopornya. Kecendrungan itu setidaknya dibuktikan oleh diterimanya puisi-puisi Muttaqin oleh masyarakat sastra Indonesia. Kemunculan penyair ini, telah mengejutkan publik sastra Jawa Timur. Sebelumnya, Muttaqin tidak pernah ada dalam peta penyair muda Jatim. Lihatlah misalnya tulisan S. Yoga yang menyebut nama-nama penyair muda Jatim dalam esainya di SINDO 1 Juli 2007, tidak ada nama Muttaqin di sana. Penyair lulusan Sastra Indonesia Unesa ini, seolah tanpa permisi kepada pendahulu Jawa Timur, tiba-tiba langsung melejit di koran nasional.

Muttaqin telah sampai pada pencapain estetik. Membaca Muttaqin dengan segala usahanya menarasikan flora dan fauna, seperti menikmati usaha “penghijauan” yang sering dikampanyekan Surabaya. Ia tidak menulis jelaga-jelaga Surabaya sebagiamana penyair pendahulunya. Puisi-puisinya pun tak perlu dikait-kaitkan dengan falsafah Jawa Timur dalam artian psikologis maupun sosiologis. Justru Muttaqin dengan demikian, telah melepaskan diri dari tema-tema umum yang selama ini digarap oleh pendahulunya, semacam puisi-puisi gelap.

Sajak-sajaknya mendamaikan diksi dengan rima, sehingga simbolisme yang naratif bertemu dengan visualisasi logis. Inilah mungkin yang membuat sajaknya terang benderang. minimal, pembaca dapat terbuai oleh ketukan ritmis sajak-sajaknya, seperti orang Belanda yang terbuai menikmati gending Jawa. Lihatlah salah satu petikan sajak ini:
Di gelap ombak, mungkin di taman gagak, kuraba-
raba keharuman yang menanjak. Sepasang daging
membengkak dan segala arwah merebak
(Lukisan Kamboja)

Begitulah Muttaqin mengeksplorasi diksi dengan rima sebagai “diri” kepenyairannya. Bunyi-bunyi puisinya melantur secara alamiah. Muttaqin cukup jeli menangkap objek dan menyusunnya dalam kerangka estetika bahasa. Kita dapat merasakan bagaimana konsonan /k/ menjadi ritmis yang berpadu dengan diksi yang sekerabat seperti /ombak/ dan /gagak/ yang mempunyai asosiasi kegelapan.

Begitupun dengan frasa /keharuman menanjak/, /sepasang daging membengkak/ dan /arwah merebak/. Puisi ini adalah narasi tentang Kamboja. Kamboja menjadi simbol imajinya pun untuk menjelaskan tema kematian. Lukisan Kamboja dapat ditafsirkan –selain berbagai kemungkinan tafsir– sebagai peristiwa membusuknya sebuah mayat: dilalui oleh penanda kematian yang secara umum dimetaforkan dengan gagak, lalu mayat itu membusuk –di sini Muttaqin menggunakan diksi ‘keharuman’ sehingga tampak ironis, namun inilah ledakan diksinya– lalu membengkak, hingga tak berbentuk karena arwahnya telah merebak ke tempat semestinya.

Bandingkanlah frasa dari metafor yang disusun dalam petikan puisi-puisi berikut, “Ingatan bunga-bunga tercekik di dalam/ kemaluanmu,” (Rumah Duan-Daun, Indra Tjahjadi) dengan “ hanya karna menanam bunga-bunga di kepala” (Laut Lalat, A. Muttaqin); atau “saat mayat-mayat menari –gemulai/ menorehkan darah pada tanah peradaban” (Tarian Sebuah Musim, Denny Tri Aryanti) dengan “Seperti mayat yang tenang, seperti langit yang/ lenggang, jika umur adalah semut yang merambat ke/ senja berat.” (Lukisan Kamboja, A. Muttaqin); atau “aku segera beriman pada kekosongan” (Kembali Ke Neraka, Indra Tjahjadi) dengan “Raut yang/ mengajar aku bersujud dan mengimani Yang Tak/ Terjemput” (Ladang Siput, A. Muttaqin).

Bait-bait puisi di atas, telah menggambarkan bagaimana A. Muttaqin merespon geliat diksi yang penuh dengan aroma nanah dan darah yang sering menghiasi puisi Surabaya dekade awal 2000-an. “Lukisan Kamboja” yang bertema kematian digambarkan dengan demikian tenang oleh Muttaqin dan terasa logika “alur” dan narasinya. Ini tentu berbeda dengan tema kematian yang mendominasi puisi-puisi Indra Tjahjadi, dkk, yang berjumpalitan selayaknya penghuni neraka.

Dari sini dapat terbaca bagaimana sesungguhnya rumusan puisi gelap, yakni bukan persoalan kesukaran dipahaminya puisi-puisi Surabaya, lebih dari itu adalah bangunan suasana itulah yang gelap. Secara gamblang Indra mengakui bahwa sajakku terasing dan menemukan rumahnya dikegelapan. Puisi-puisi semacam itu mungkin lebih tepat, disebut puisi gotik, yang tak hanya melemparkan pembaca pada kesunyian mencekam melaikan pada kengerian.

Dari sini pula, surealisme yang menjadi mula segala persoalan estetik yang diangkat perlu ditegaskan. Surealisme merupakan tafsir terhadap psikoanalisis Sigmund Freud –terutama konsep mimpi– yang diformulasikan dalam teknik penulisan puisi oleh Andre Brenton, disebut dengan otomatisme. Secara sederhana teknik ini adalah usaha melukiskan objek dengan naluri bawah sadar dan menafikan prinsip-prinsip logika (seperti teori strukturalis) dalam proses penciptaan karya seni.

Mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Sigmund Freud bahwa mimpi adalah jalan tol menuju alam bawah sadar, maka dalam konteks ini representasi “mimpi” yang coba dihadirkan penyair Surabaya, lebih kepada mimpi buruk yang membuat pagi jadi buta dan gelap, dari pada mimpi indah yang membuat pagi jadi benderang. Jadi sebenarnya inilah letak persoalannya. Senada juga dengan apa yang dikemukakan S. Yoga di depan.

Perbandingan menarik juga dapat kita baca pada studi puisi-puisinya Mardi Luhung yang juga “dituduh” gelap. Jika puisi-puisi Surabaya secara sadar menasbihkan diri sebagai surealisme –yang pada akhirnya memang berkecendrungan gelap– maka puisi Mardi Luhung adalah karnaval –istilah Mikhail Bakhtin– imajisme dengan benih-benih diksi yang secara sadar adalah kondisi sosio-psikologis pesisiran Jawa Timur, Gresik. Pencapaian estetik inilah yang harus dibaca, jika ingin memasuki centang-perenang dan hingar-bingar puisi-puisi Mardi Luhung yang ramai di tengah “nyanyi sunyi” dominasi perpuisian Indonesia. “Siapkan cintamu bagi dagingku, lelaki perahuku/ lekatkan seluruhnya pada pantai dan bakau-bakauan/ yang terulur dari bahasaku” (Lelaki Perahuku) demikian kata si penyair Mardi Luhung.

Sebenarnya hampir secara bersamaan ketika Surabaya dibaca sebagai penghasil puisi gelap, ada seorang penyair yang berada “di luar pagar” kecendrungan tersebut. Dia adalah S. Yoga. Ekspresi puisi-puisi S. Yoga adalah sebuah objek yang ia narasikan dengan segala bentuk filosofis yang mengganduli sajaknya. Ia serupa pemotret ulung, yang dengan itu ia hendak menampilkan sisi humanis, seperti petikan sajak ini: “di atas penderitaanmu/ memang kebahagiaan yang selalu kucari/ dengan api yang menerangi kegelapan/ sebelum tubuh habis dilalapnya” (Lilin).

Sajak S Yoga ini menemui turunannya pada pola pengungkapan F. Aziz Manna. Salah seorang penyair angakatan baru penyair Surabaya. Di saat sahabat-sahabatnya masih “mengimani” kitab Manifesto Surealis –seperti Dheny Jatmiko dan Ahmad Faishal– F Aziz Manna, tegak berdiri dengan puisinya yang sederhana bahkan cenderung realis, seperti sajak berikut: “ternyata, waktu hanya hitungan/ hanya cara mengeraskan kenangan/ seperti mesin pembeku dalam lemari es” (November). Karakter puisinya memang belum selepas dan sebebas sajak-sajak Muttaqin. Aziz masih menerima kecenderungan “umum” perpuisian Indonesia, terutama terasa sekali pola S. Yoga.

Terlepas dari apa yang telah saya uraikan di atas, Surabaya kini tengah memasuki era baru dalam kancah perpuisian Indonesia. Sebuah dinamika yang akan terus bergerak mengisi kekosongan atau mendobrak konvensi yang sudah mengalami kejenuhan dan kepunahan. Muttaqin dan Aziz Manna adalah generasi yang secara lembut mungkin akan mengatakan selamat tinggal kegelapan…

*) Umar Fauzi, pengamat sastra alumnus sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya, tinggal di Sampang Madura

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt