Abdul Lathif
http://nasional.kompas.com/
Komunitas Teatar Gapus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya menggelar pameran seni rupa kolaborasi perupa dengan penyair dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-19 teater Gapus, 15-24 Oktober 2008, di Ruang Sidang Lantai 2, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.
Sebanyak 12 lukisan yang dipamerkan dan diapresiasikan kepada khalayak, itu adalah hasil dari respons kreatif para perupa atas karya puisi ciptaan penyair dari Komunitas Teater Gapus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.
"Sebanyak sepuluh orang perupa yang terlibat dalam pameran ini kami sodori antologi puisi Kentrung Jancukan karya penyair Komunitas Teater Gapus dan mereka para perupa bebas memilih puisi mana yang mereka ambil untuk kemudian mereka visualisasikan ke dalam sebuah karya seni rupa, yaitu lukisan," kata Ketua Penyelanggara Pameran Seni Rupa Kolaborasi Perupa-Penyair, Guruh Dimas Nugroho kepada Kompas, hari Jumat(17/10), di Surabaya.
Dari hasil kolaborasi perupa dengan penyair itu muncullah sebuah tafsir kreatif-imajinatif yang tersirat dalam setiap lukisan yang dipajang di ruang pameran.
Karya puisi ciptaan sang penyair berupa rangkaian kata sarat makna itupun, akhirnya bersangdingan dengan karya seni rupa berupa lukisan.
"Saya tidak faham betul tentang seni rupa, tapi setelah melihat lukisan karya Kenyut yang memvisualisasikan puisi saya dalam sebuah lukisan, justru hasilnya terasa lebih liar dan tajam," kata Indiar Manggara, sang penulis puisi berjudul "Selamat Pagi Ida" yang diekspresikan oleh pelukis Kenyut Djunaidi ke dalam sebuah lukisan berjudul "Morning Darling".
Respons kreatif-imajinatif atas puisi cinta ciptaan Indiar Manggara, itu tak pelak melahirkan sebuah lukisan yang mengimpresikan tubuh perempuan dalam ranah "seksualitas" yang barangkali menjadi penanda atas hubungan cinta yang kerapkali dimaknai sekadar nafsu.
Jika pelukis Kenyut Djunaidi, alumnus SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Surabaya merespons puisi ciptaan Indiar Manggara, sebaliknya dengan pelukis Slamet merespons puisi berjudul Lokalisasi ciptaan Seger Satrio.
Dari imaji-kreatif sang pelukis Slamet, itu lahirlah sebuah lukisan berjudul Doli yang menggambarkan sepasang lalat seolah bergumul. Runyamnya, dalam lukisan itu sang pelukis Slamet menghadirkan obyek sapu lidi - simbol dari perangkat kebersihan - yang kerapkali dipakai kaum ibu untuk membersihkan halaman rumah.
Sedangkan pelukis Doddy Van Masfa dalam pameran seni rupa kolaborasi perupa-penyair mencoba mentransformasikan puisi berjudul "Kentrung Jancukan" ciptaan F Azis Manna ke dalam sebuah bahasa rupa alias lukisan yang menggambarkan sebuah kota yang supek. Dari lukisan itu pula, sang pelukisnya membumbuinya dengan goresan kata-kata "Freedom" dan "Freesex".
Ketua Komunitas Teater Gapus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya Asep Sundana secara terpisah mengatakan, pameran seni rupa kolaborasi perupa dengan penyair ini dalam rangkaian kegiatan festival sastra dan seni pertunjukan dalam memperingati hari ulang tahun teater Gapus yang ke-19 tahun 2008 ini.
"Selama dua hari, tanggal 25-26 Oktober, kami akan menggelar pementasan teater persembahan komunitas teater Gapus dan komunitas teater Keluarga yang didirikan oleh senior-senior teater Gapus," katanya.
Dalam pementasan teater nanti komunitas teater Gapus akan mengusung naskah Kentut Sumber Nyowo, sedangkan komunitas teater Keluarga akan menampilkan naskah "Racun Tembakau".
"Sehari sebelum acara syukuran ulang tahun teater Gapus, tanggal 27 Oktober komunitas teater Gapus akan meluncurkan antologi puisi dan naskah karya teater Gapus," kata Asep Sundana.
17 Oktober 2008
http://nasional.kompas.com/
Komunitas Teatar Gapus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya menggelar pameran seni rupa kolaborasi perupa dengan penyair dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-19 teater Gapus, 15-24 Oktober 2008, di Ruang Sidang Lantai 2, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.
Sebanyak 12 lukisan yang dipamerkan dan diapresiasikan kepada khalayak, itu adalah hasil dari respons kreatif para perupa atas karya puisi ciptaan penyair dari Komunitas Teater Gapus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.
"Sebanyak sepuluh orang perupa yang terlibat dalam pameran ini kami sodori antologi puisi Kentrung Jancukan karya penyair Komunitas Teater Gapus dan mereka para perupa bebas memilih puisi mana yang mereka ambil untuk kemudian mereka visualisasikan ke dalam sebuah karya seni rupa, yaitu lukisan," kata Ketua Penyelanggara Pameran Seni Rupa Kolaborasi Perupa-Penyair, Guruh Dimas Nugroho kepada Kompas, hari Jumat(17/10), di Surabaya.
Dari hasil kolaborasi perupa dengan penyair itu muncullah sebuah tafsir kreatif-imajinatif yang tersirat dalam setiap lukisan yang dipajang di ruang pameran.
Karya puisi ciptaan sang penyair berupa rangkaian kata sarat makna itupun, akhirnya bersangdingan dengan karya seni rupa berupa lukisan.
"Saya tidak faham betul tentang seni rupa, tapi setelah melihat lukisan karya Kenyut yang memvisualisasikan puisi saya dalam sebuah lukisan, justru hasilnya terasa lebih liar dan tajam," kata Indiar Manggara, sang penulis puisi berjudul "Selamat Pagi Ida" yang diekspresikan oleh pelukis Kenyut Djunaidi ke dalam sebuah lukisan berjudul "Morning Darling".
Respons kreatif-imajinatif atas puisi cinta ciptaan Indiar Manggara, itu tak pelak melahirkan sebuah lukisan yang mengimpresikan tubuh perempuan dalam ranah "seksualitas" yang barangkali menjadi penanda atas hubungan cinta yang kerapkali dimaknai sekadar nafsu.
Jika pelukis Kenyut Djunaidi, alumnus SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Surabaya merespons puisi ciptaan Indiar Manggara, sebaliknya dengan pelukis Slamet merespons puisi berjudul Lokalisasi ciptaan Seger Satrio.
Dari imaji-kreatif sang pelukis Slamet, itu lahirlah sebuah lukisan berjudul Doli yang menggambarkan sepasang lalat seolah bergumul. Runyamnya, dalam lukisan itu sang pelukis Slamet menghadirkan obyek sapu lidi - simbol dari perangkat kebersihan - yang kerapkali dipakai kaum ibu untuk membersihkan halaman rumah.
Sedangkan pelukis Doddy Van Masfa dalam pameran seni rupa kolaborasi perupa-penyair mencoba mentransformasikan puisi berjudul "Kentrung Jancukan" ciptaan F Azis Manna ke dalam sebuah bahasa rupa alias lukisan yang menggambarkan sebuah kota yang supek. Dari lukisan itu pula, sang pelukisnya membumbuinya dengan goresan kata-kata "Freedom" dan "Freesex".
Ketua Komunitas Teater Gapus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya Asep Sundana secara terpisah mengatakan, pameran seni rupa kolaborasi perupa dengan penyair ini dalam rangkaian kegiatan festival sastra dan seni pertunjukan dalam memperingati hari ulang tahun teater Gapus yang ke-19 tahun 2008 ini.
"Selama dua hari, tanggal 25-26 Oktober, kami akan menggelar pementasan teater persembahan komunitas teater Gapus dan komunitas teater Keluarga yang didirikan oleh senior-senior teater Gapus," katanya.
Dalam pementasan teater nanti komunitas teater Gapus akan mengusung naskah Kentut Sumber Nyowo, sedangkan komunitas teater Keluarga akan menampilkan naskah "Racun Tembakau".
"Sehari sebelum acara syukuran ulang tahun teater Gapus, tanggal 27 Oktober komunitas teater Gapus akan meluncurkan antologi puisi dan naskah karya teater Gapus," kata Asep Sundana.
17 Oktober 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar