Kamis, 13 Oktober 2011

Mencari Jawab Menjaga Kegelisahan (Sastra) Multikultural Kita

Makalah Temu Sastra Jawa Timur 2011
Yonathan Rahardjo
http://www.facebook.com/notes/wahyu-hariyanto/

"Booming" multikulturalisme (pertama kali diistilahkan pada 1957 di Swiss, masuk Kanada 1960, lalu menyebar ke negara-negara berbahasa Inggris, Eropa, Amerika dan seluruh dunia sampai kini) menggiring begitu banyak penulis kita mengaitkan sastra dan multikultural sebagai bagian yang terpisahkan guna menjadi pijakan pemikiran (yang dapat diubah dengan kata-kata dalam sastra) untuk mengatasi masalah-masalah ketegangan antar suku, ras, agama dan antar golongan yang sesekali meletup dan kadang ada yang meledak (meski berbagai instrumen jaminan kebhinekaaan diwujudkan) mendirikan bulu kuduk.

Dari berbagai pemikiran (tulisan penulis Indonesia, kajian ilmiah, seminar dan lain-lain) tampak kesadaran bahwa sejatinya orang Indonesia adakah mutikultural dicuatkan dengan menyigi sejarah sejak jaman Nusantara (juga pada jaman berkesadaran literer yang dilisankan adanya Kakawin Negarakertagama dan Sutasoma) sampai jaman Indonesia dalam cekaman terorisme dan dominasi neokolonialisme sekarang ini.

Kesadaran para penulis bahwa ihwal multikultural sudah mewarnai sastra Indonesia modern tampak dengan dibuka dan diakuinya sastra-sastra "picisan/ liar" (di luar terbitan Balai Pustaka) yang tidak diakui pemerintah Hindia Belanda sangat kental warna multikultur cebagai cermin dan kegelisahan masyarakat saat itu (gambaran tiruan dari realitas dalam konsep mimesis model Plato).

Di luar Balai Pustaka, sastra baru masuk dalam kemerdekaannya untuk bermultikultural juga setelah Indonesia merdeka terlebih setelah tahun 1950, dan seterusnya sampai kini.

Pembentukan kebangsaan Indonesia dengan diaspora budaya ke berbagai wilayah Indonesia lalu terjadi asimilasi kultur di berbagai daerah dan suku di Indonesia sesungguhnya cermin multikulturalisme sendiri yang sejatinya merupakan dasar kehidupan budaya di Indonesia. Namun boleh dikata multikultur Indonesia telah menjadi monokultur, artinya multikultur telah disirnakan dengan dalih Negara Kesatuan, Sumpah Persatuan, slogan persatuan (yang sering masuk "jurang kesatuan" dan meniadakan makna persatuan).

Proses multikultur tersebut dianggap hanya sebatas proses dan bermuara pada satu kultur Indonesia, ini hal yang telah menyeret kita makin jauh dari hakekat setiap manusia dan kumpulan manusia adalah plural (jamak, majemuk) dan masing-masing berbeda (bhinneka), hal penting yang mestinya dijaga untuk menjaga dan menghormati dalam kerukunan hidup bersama dari fitrah manusia yang unik.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa setiap kita berbeda budaya dan tidak hanya sendiri (alias plural). Pengelompokan budaya-budaya berdasar suku atau daerah, cuma cara untuk mengelompokkan dalam skala-skala. Bukan berarti dengan demikian perbedaan budaya dalam setiap anggota tiap suku atau daerah sudah diredusir. Yang ada adalah dapat hidup bersama dalam dunia yang sama dengan saling menghormati dan menghargai keberadaan masing-masing (masuk katagori pluralisme).

Ketika hubungan plural ini saling mempengaruhi meski adanya perbedaan-perbedaan (berbhinneka) yang ada adalah proses multikulturisasi, bukan lagi sekedar pluralisme yang mengutamakan perbedaan tanpa konflik asimilasi.

Tanda-tanda multikultur tampak pada karya-karya sastra merupakan keniscayaan, secara langsung maupun tak langsung. Mulai dari tanda multikultur sebagai latar, pilihan pengucapan (tak lebih sampiran dengan isi cerita tak menghunjam ke ranah konflik multikultur) sampai ke esensi dengan ketegangan-ketegangan di dalam proses menuju multikultur.

Oleh karena itu dapat dipahami mengapa dengan enteng beberapa ilmuwan sastra memilah dan memilih karya-karya yang masuk katagori multikultur (misalnya hanya berdasar setting dan keterlibatan orang-orang dari budaya/ suku/ bangsa berbeda). Semua merupakan keniscayaan.

Kultur (budaya) bukan barang jadi, ia tercipta melalui proses. Multikulturalisme yang menekankan keberagaman budaya dengan persamaan hak dan kedudukan (keberadaan egaliter dalam suatu kehidupan bersama yang saling mempengaruhi) mendudukkan elemen-elemen yang ada pada kultur (yang diidentifikasi) untuk bingung sendiri (sebenarnya dia memang terindentifikasi sebagai kultur-kultur sejati, kultur ciptaan, atau kultur seolah-olah).

Dengan demikian identifikasi kultur bagian dari multikutur sangat berpotensi mencabut keunikan masing-masing elemen dalam kultur itu sendiri. Hal ini sangat mungkin terjadi saat penguasa/ mayoritas memetakan kultur-kultur itu dalam bingkai hidup bersama. Terjadilah korupsi dalam multikultur itu.

Contoh nyata (sebagai ilustrasi, anggaplah agama merupakan kultur) agama resmi di Indonesia (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buda) hanya dibatasi agama-agama ini, maka dengan mudah agama di luar agama-agama resmi itu tidak mendapatkan udara sesegar mereka. Demikian juga kasus Ahmadiyah di Islam, Saksi Jehovah dan Mormon dan lain-lain yang mendapat stigma sebagai sesat dalam lingkup masing-masing agama dan ada yang diseret ke ranah kebijakan negara yang melarang aktivitas mereka.

Karya sastra yang tidak sekedar berhenti sebagai tiruan dari realitas, tapi juga pembelajaran dalam pendidikan dan komunikasi makna (konsep mimesis model Aristoteles), sudah semestinya tidak cukup sekedar memotret peta adanya kultur-kultur yang ada dalam kacamata mayoritas itu. Namun, lebih menjalankan fungsi gelisah terus menyoal unsur apa yang terdapat di dalam multikultural itu sekaligus dialektikanya (yang sudah pasti ada nilai historis dari materi-materi pembentuknya).

Dengan lebih melacak jejak ini, fungsi sastra yang diharap turut membantu tata hidup manusia berdampingan satu sama lain secara harmonis dipercaya dapat mewujudkan kehidupan multikulturalisme yang bukan justru memotong kaki multikulturalisme sendiri.

Bila dalam kritik terhadap multikulturalisme dikatakan multikulturalisme berhadapan dengan isme-isme yang lain, sesungguhnya merupakan paradoks dari esensi multikulturalisme sendiri. Multikulturalisme semestinya dapat memayungi isme itu (ingat dari suatu isme dapat lahir suatu kultur atau sebaliknya). Sementara setiap isme hampir selalu berhadapan dengan isme-isme yang berbeda, bertolak belakang, atau saling melengkapi, atau saling meniadakan harus dicari jalan keluarnya bukan seperti masa pemberantasan PKI dan ormas-ormasnya sampai ke akar-akarnya terkait kultur dan isme-nya.

Keterlibatan semua unsur budaya begitu kompleks dalam berbagai hal (mulai dari masalah perut/ ekonomi, sampai masalah politik dan kekuasaan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia). Tidak mungkin pemaksaan budaya (isme dan lain-lain) dapat merobotkan manusia menjadi seragam. Ada batas-batas di mana isme-isme dan budaya itu bisa tumbuh dan berkembang. Batas itu dapat dicipta secara horisontal (dengan faktor dan elemen pembangun dalam suatu masyarakat yang secara sukarela mau memakai isme dan kultur itu). Pilihan lain yang umum terjadi adalah inkulturasi, perkawinan budaya (asal aman dan damai sejahtera tidak masalah), asimilasi sebagai ciri dari multikulturalisasi sendiri.

Sastra punya peluang untuk menyumbang pada masyarakat di wilayah itu dengan simbol-simbol dan tanda-tanda (baik sebagai penanda maupun petanda) yang lebih dalam eksplorasinya dan mengena pada hati nurani, rasa, keindahan dalam seni sastra akan memboyong perubahan pikiran masyarakat pembaca kepada suatu langkah ekstrinsik. Karena keterbatasan manusia yang mudah lupa dan mudah puas diri, langkah ekstrinsik ini akan terus digelisahi dengan laku intrinsik pada karya-karya sastra selanjutnya, tanpa henti.

Konkritnya, penulisan sastra yang menyoal masalah multikultural tidak berhenti pada simbol-simbol verbal (seperti hubungan orang dari suku/ bangsa tertentu dengan suku bangsa yang dengan segala atribut bahasa, lokalitas dan atribut tertentu dalam karya-karya sastra, seperti banyak dijadikan contoh sebagai karya sastra multikultural oleh pengamat sastra) yang membatasi kultur dalam lingkup identitas jadi yang berpotensi korup kultur dan mengebiri hak-hak minoritas dalam kultur yang sama.

Jelas, sastra yang menyoal gagasan atau realitas multikultural mesti jeli menampilkan problem-problem mendasar dari proses multikulturalisasi ini. Kalau manusia (apalagi penguasa) berpotensi korup, maka apapun isme (terlebih para pelaku konkritisasinya) juga berpotensi korup dalam melanggengkan isme, aliran, ideologinya. Bekal tentang makna dan seluk beluk multikulturalisme perlu dipersiapkan sesiap-siapnya (tidak sekedar mengikuti arus “booming” dan propaganda positifnya semata lalu ramai-ramai menulis tentang sorga multikulturalisme).

Berdasar pembacaan-pembacaan karya yang dianggap bernuansa multikultural selalu tampak ada tarik-menarik, ada nilai yang dikalahlan atau menang, ada ‘pertobatan’ dari pihak yang dianggap salah lalu tercipta kerukunan antar pihak yang bersitegang dengan suatu nilai baru, atau setelah ketegangan dibiarkan mengambang. Thema yang diangkat (dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat), dalam berbagi kehidupan bersama yang multikultur pun demikian adanya. Mendudukkan pihak-pihak yang saling berhadap-hadapan itu sebagai egaliter dalam tawar-menawar itu bukanlah pekerjaan mudah (juga tidak semudah orang mengakui dirinya egaliter dengan orang lain bila harta, tahta/ kekuasaan dan populasinya berbeda, dengan banyak kasus terjadi antar agama di Indonesia).

Tak berlebihan banyak pihak mengatakan multikulturalisme sebagai hal yang kekanak-kanakan, absurd, tidak mungkin, tidak menarik, dan gagal (terutama dalam mengatasi masalah-masalah konflik antar agama, suku, bangsa dan lain-lain). Tentu saja semua isme (termasuk multikulturalisme yang dituding banyak pihak sebagai akal-akalan liberalisme dan kapitalisme guna melanggengkan dominasinya) akan mengalami nasib yang sama (sebagaimana komunisme dianggap banyak pihak sebagai ideologi yang sudah bangkrut), bila isme-isme ini ditunggangi oleh berbagai kepentingan politik.

Belajar dari pesismisme banyak kalangan di sini (sekaligus dari optimisme sebagian kalangan bahwa jawaban yang paling masuk akal adalah pluralisme yang secara wajar mengakui semua dari banyak pihak berbeda dan untuk hidup bersama secara rukun cukup saling menghormati satu sama lain), sastra tentu punya jalannya sendiri. Ketika semua gagasan tak dapat membuat hidup manusia lebih sorga di atas bumi, sastra akan mencari celah-celahnya sendiri.

Pasti ada sastra yang mengikuti aliran ideologi sendiri dan menyuarakan kepentingan kekuasaannya sesuai dialektikanya. Pasti ada sastra yang mengikuti hati nuraninya dan berjalan di atas semua isme itu tanpa pandang bulu, karena isme-isme itu hanyalah kesementaraan pikiran manusia, dan yang penting tata hidup manusia bersama di bumi yang satu ini masing-masing dapat hidup (sekali lagi) damai sejahtera di bumi seperti di Sorga.

Sastra yang terakhir ini tentu juga tak bakal segan memakai multikulturalisme sebagai salah satu alternatif senjata guna terus menggelisahi masalah terkait (karena keyakinannya kata-katanya akan mengubah pikiran orang untuk bertindak atau bahkan mengatasi masalah), yang mungkin (tepatnya umumnya) bukan dirinya sendiri yang menjadi eksekutor masalah itu dalam tata hidup bersama sesama manusia.

Bojonegoro, 8-10-2011

Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/wahyu-hariyanto/makalah-yonathan-rahardjo-temu-sastra-jawa-timur-2011/259021840800660

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt