Sabtu, 24 September 2011

Negeri Peri dalam Kartu Pos

Dody Kristianto*
http://sastra-indonesia.com/

Aku sengaja mengirim sebuah kartu pos untukmu. Kartu pos yang tak sempat kukirimkan setahun lalu. Mungkin kau takkan menduga bukan, bila aku merelakan menulis sepatah dua kata untukmu. Walau aku tahu itu berat. Dan setelah membaca kata-kataku, aku tak hendak menebak apa yang ada dalam hatimu. Mungkin kau suka atau lara setelah kau baca kartu pos itu.

Bintang-bintang tetap beredar di cakrawala. Tetap pada posisinya.

Seperti dulu kau menatap langit ketika purnama tiba. Kau selalu mengatakan bukan, bila di balik bulan ada negeri sekawanan peri. Kau selalu berkata akan hal itu padaku. Kau sangat percaya akan kebenarannya. Ya, kata-katamu kerap membuat aku terlena dan mencoba untuk memercayai hal itu. Kau tahu, aku selalu ingin tersenyum bila mengingat kata-katamu. Bahkan aku selalu merasa kau ada di dekatku dan tetap membisikkan hal itu padaku.

Peri-peri yang tinggal di balik bulan? Seperti apakah mereka? Kau selalu mencoba meyakinkan bila sekawanan mahluk itu benar adanya. Mereka seringkali mengikuti kita bila kita sedang bermain di hampar sawah ketika tiba purnama. Tak takutkah kau pada gelap yang melingkupi kita? Tak sadarkah kau jika sinar bulan takkan mampu melindungi kita dari kegelapan? Justru kau mengatakan dalam gelap peri-peri berterbangan. Mereka mencari tubuh-tubuh mungil yang meyakini impian. Seperti tubuhmu misalnya.

Bukankah kau pernah menulis pelbagai daftar impianmu? Kau ingin bertemu dengan ibumu. Kau ingin memunyai sebuah buku yang penuh gambar aneka rupa. Kau ingin memiliki sepasang sayap yang dapat membawamu melintasi langit lapang. Dan kau ingin (ini yang selalu tak dapat aku terima) menemui peri-peri di negeri balik bulan. Negeri yang tak pernah dapat kau lihat. Negeri itu sungguh hanya dapat kau miliki. Kau bayangkan sendiri. Kau tak ingin benar-benar berbagi denganku bukan?

Sungguh indah bila kuingat malam-malam itu. Kau melipat daftar Impianmu menjadi sebentuk kapal kertas. Lalu kau arungkan kapal itu ke sungai kecil di belakang sawah. Kapal itu akan mengalir perlahan. Mengikuti desir angin yang membuat tubuh kanak kita makin gigil. Sungguh aku masih ingat. Ratusan kunang-kunang mengiringi pelan perjalanan kapal impianmu. Kau yakin kekunang itu akan menerbangkan impianmu menuju negeri para peri.

Hei, aku takut. Ibuku selalu bercerita perihal kekunang itu padaku. Lantas aku percaya bahwa kekunang itu penjelmaan dari roh jahat yang mencari anak-anak nakal berkeliar pada hari malam. Mereka tercipta dari kuku-kuku orang mati. Kematian yang tak wajar tentunya. Para arwah yang masih berada di dunia ambang. Mereka berada antara hidup dan mati. Mereka menunggu kesempatan untuk kembali. Mungkin mereka ingin tubuh kita berdua. Karena kita adalah kanak-kanak yang hidup pada malam.

Tapi sekali lagi, aku sangat ingin meyakini dan percaya bila kunang-kunang itu tak lebih dari pertanda kehadiran para peri. Kunang-kunang itu selalu hadir dengan perut sarat bara api. Bara penunjuk jalan bagi bagi mereka yang tak menemu jalan pulang. Bila kekunang itu masih berbinar, kau percaya para peri akan segera datang, membawa segala peruntungan. Mereka menjelajah dari negeri ke negeri. Mereka mencari anak-anak pilihan yang kelak akan turut ke negeri peri. Sebuah negeri yang tak tembus pandang oleh mata telanjang.

Sebenarnya seperti apa negeri peri yang kau impi? Sungguhkah ia benar-benar ada seperti dalam buku dongeng yang kerap kita baca bersama? Atau tepatkah bila kukata itu hanya halusinasimu saja? Atau ketika kau tengah linglung sebab pukulan dari ayahmu yang tengah marah? Sebab kau tak membawa cukup uang seperti yang tiap hari ia minta. Aku sungguh tak tahu benar. Kau mengatakan bahwa negeri peri itu sangat dekat, sungguh-sungguh dekat.

Di negeri itu, segala kembang akan melepas berbagai tembang. Tembang yang diperoleh para peri dalam pengembaraan mereka di segala negeri. Pengembaraan mencari impian anak-anak. Termasuk pula impianmu. Dan kau percaya, tembang impian itu lambat laun akan membubung ke angkasa. Berubah pelbagai warna-warni. Ia menjelma semacam jembatan dari negeri peri dan tubuh harapan yang masih tertahan di bumi. Harapan itu kelak akan tersampaikan sebagai pesan. Lalu mengembaralah sekian peri untuk menjala pesan-pesan yang masih tertahan.

Katamu, kita takkan menemu perdebatan di negeri itu. Tak juga sengketa panjang yang kerap kita dengar sepanjang jalan pulang. Hurup-hurup tragedi dalam koran akan saling berlepasan. Hurup-hurup itu lantas membawa pesan, keinginan dan bebunyian yang tersekat dalam kesunyian. Lalu dalam lorong penuh rahasia, hurup-hurup itu akan berubah karnaval. Serupa pertunjukkan sirkus yang sangat ingin kau saksikan.

Lalu bagaimana dengan kota yang terbakar? Kota-kota dalam koran yang setiap pagi kita saksikan. Gambar miris tentang sekawanan perusuh, muka-muka tak memiliki harapan. Kau katakan itu hanya terjadi di negeri yang tak memercayai peri. Ketika itu, peri-peri akan saling bersijau. Sebab negeri akan selalu diwarnai silang sengkarut panjang. Hingga langit dan awan gemawan dipenuhi noktah hitam. Impian-impian terus tercemar oleh sengketa panjang. Harapan. Tak ada lagi sisa harapan. Karena setiap ada harapan, tatap bengis akan selalu mendobrak dengan senapan. Seketika harapan akan bubar, pecah berpencar ke segala persimpangan. Pecahan-pecahan kecil itu pun akan terjaring oleh tangan-tangan panjang. Tangan penuh darah, resah dan sekian ranting patah yang merobek senja hingga langit penuh ornamen belang.

Benar, aku ngeri mendengar ceritamu kala itu. Kita takkan dapat memandang hamparan senja yang sementara. Sebab langit kita akan dijejali warna murung. Warna yang menjebak sekian burung dalam tudung-kurung. Dan dedaun yang tiap hari kita petik akan kerap beraroma tenung. Tapi beruntung, kita diam di negeri yang disinggahi para peri. Negeri tempat musafir akan menyandar segenap doa. Tak ada yang perlu kita cemaskan bukan. Karena tak ada kata dusta dalam koran. Jalanan akan nampak cerlang. Seluruh kesepian akan disucikan.

Ternyata aku mulai percaya pada ceritamu. Segala aksara yang kuucap mulai berwarna. Pertanda peri-peri mulai berkitar di kiri kananku. Sungguhkah hal itu? Aku belum sepenuhnya yakin. Aku juga tak teguh mengenai peri-peri tak nampak dan bersayap. Segilang apakah sayap-sayap itu? Aku ingat saat kau mulai merentangkan dua tanganmu. Satu depa. Dan kau mengiya bila sedepa itu ialah sayap peri yang kau impikan. Butiran halus lembut yang lebih berkilau dari selembar satin. Ia beraroma seribu seribu bunga alami yang akan berganti wangi. Setiap sayap-sayap mungil itu melintas dan memindai perasaan kita.

Sesayap itu sangat tipis, sangat bening. Lebih bening dari lembar kaca paling bening. Kala sesayap itu mengawang, ia akan ciptakan suasana hening. Setidaknya sebelum alam terbuka pada dirinya sendiri. Perlahan bebunyian nyaring akan berdering. Menyapa mereka yang percaya akan impian. Lalu impian-impian itu akan terjaring menjadi musik merdu bagi para musafir yang tengah pulas sehabis mereka bercucur air mata, memanjatkan segenap doa.

Sungguhkah doa-doa itu akan tersampaikan? Atau pendaran itu hanya tersampir di dahan? Lalu berubah dedaun yang kelak akan lerai dari ranting? Sungguh ketika itu peri-peri akan berada di dekat kita. Pada gugur daun. Pada lingkar reinkarnasi. Segenap kekanakan kita hanya takzim memandang pemandangan dedaun luruh. Seolah peri-peri tengah berusaha menampakkan diri mereka di depan kita. Tangan-tangan gaibnya menerbangkan dedaun itu ke kepala kita. Lalu dedaun itu terangkai serupa mahkota. Serupa Isa.

Saat itu kita betah berlama-lama menerawang senja. Matahari sore benar nampak merona merah. Sinarnya bagai payung teduh yang diselubung sayap peri yang takkan habis kita perbincangkan. Bukankah senja adalah penanda para peri akan tiba dengan harapan yang akan ditaburkan pada anak-anak yang percaya akan impian? Dan senja adalah jendela. Ruang bagi kita untuk menengok, mengintip masa depan yang tak pernah kita duga. Kita hanya mampu menerka.

Hei, mengapa aku mulai melantur membincang peri yang selalu kau rindukan? Bukankah aku tak dapat memindai wujud peri yang ada dalam khayalan?

Bagaimana dengan kapal kertas yang melarung segala impianmu? Sudahkah ia tiba dengan impian ke negeri peri, tempat akhir perhentian segala impian? Bila ia telah tiba, aku yakini segala impianmu bermaujud. Kau tentu telah berbeda dengan yang dulu. Kau pasti sudah berjumpa dengan salah satu peri dan kupercaya kau akan melukis rupa peri di atas selembar kertas.

Ah, tidak hanya selembar, mungkin berlembar-lembar. Lalu kau bentuk mereka sebagai kapal kertas. Kau layarkan mereka di atas sungai kecil, di persimpangan dam dengan arus deras. Arus yang akan terbelah dengan kekuatan impian. Persis ketika kau larung kapal kertas pertamamu. Pesanmu lalu akan sampai di setiap hati kami.

Sungai-sungai itu terus mengalir. Mengalir dengan bau paling anyir. Bebauan kawanan penjarah yang merenggut segala aksara doa. Kau tahu, kotamu tercinta telah percaya pada segala dusta. Segala tanah memerah. Perlambang darah, tuba dan semua rajah angkara yang menjelma angin terbanting. Yang dihirup dalam-dalam penduduk kota. Angin desir anasir yang terus merasuk dalam tubuh para penduduk.

Ya, semenjak kepergianmu, peri-peri tak lagi singgah di kota ini. Setiap jalanan penuh pecahan beling, yang menusuk kaki yang melintasinya. Pecahan dendam. Kematian para peri yang tak lagi diyakini penduduk kota. Aku turut hidup di antara mereka yang memandang ke depan dengan dendang paling dendam. Dendang yang dilantunkan para pembakar kota setiap kali mata mereka menatap kalis sisa peri yang berlintas di setiap rumah. Mata mereka penuh api. Pandang mereka tinggi hati. Bara yang membuat para peri seketika enggan berlintas.

Aku selalu ingin menghindar dari para pembakar itu. Sebab aku masih menyimpan sisa harapan yang kau pendam. Harapan akan para peri kelak berpendar di penjuru kota yang terbakar. Pendaran impian yang memadamkan segala dendam. Impian-impian paling mawar yang membuka hati dalam. Kemudian mereka beramai-ramai membuka mata mereka yang sekian waktu tertutup. Mereka akan percaya kembali akan para peri, pada kekuatan para pengkhayal. Lalu perlahan, mereka membuka cadar. Cadar keangkuhan yang sangat lama membekap kota dengan kegelapan.

Harapanku kelak, sungai-sungai itu akan kembali mengalir, membawa kapal kertas yang akan membawa segala impianku ke negeri peri. Impian untuk segera menyusulmu. Impian akan keinginan sungai itu mengalir bagai susu. Sungai yang menyimpan kelezatan bagi mereka yang memandang dan memercayainya. Barangkali saja selintas wajahmu akan kubaca, antara kidung bahagia wajah-wajah yang menemukan peri mereka dalam setiap hati. Antara alir sungai yang menjadi rindu dalam segenap hari.

***

Aku sengaja mengirim sebuah kartu pos untukmu. Dengan potongan langit terang yang kujerang dari keyakinanku. Kutangkap juga selintas kehadiranmu. Pada malam yang sama, saat kita menatap langit dengan tatap purba. Tatapan sepasang manusia pertama di dunia. Tatapan harapan. Esok mereka akan membuat beratus keturunan. Di antara mereka akan ada seseorang yang memiliki harapan. Harapan para peri akan tiba dan menemani malam-malam bagi manusia di bumi.

Sudahkah engkau menerima kartu posku? Sepotong bintang tersemat di dalamnya. Kulampirkan juga sebuah pesan keinginan. Sesudah kali terakhir kita berjumpa. Dan kau lenyap, tak berjejak, ditelan senyap. Sebuah keheningan yang membawamu(mungkin) pada peri-peri. Pada mimpimu paling tak kupahami. Sesudah sekian malam kita melabur khayalan, impian akan para peri berterbangan.

Kau tahu, sungguh aku kian merindukan dirimu. Aku ingin segera menarikmu dari negeri seribu peri. Membawamu kembali. Berada di antara padang ilalang menjulang juga kesepian yang kerap mendekap kita. Kesepian dan doa-doa akan senantiasa tertahan dalam tenggorokan kita. Karena kita memandang langit lapang dengan harap kerinduan. Kerinduan pada mahluk-mahluk kecil bernama peri, yang selalu kau harapkan, yang sulit aku bayangkan. Hingga kau menjelma senyap, merupa titik kabut di sebuah lanskap.

Kereta ungu segera menjemputku. Harus segera kutuntaskan baris kalimat-kalimat mimpi ini. Setiap baris akan menjelma kekuatan bagi langkahku. Baris yang menyusun pilar-pilar jembatan, penghubung hatiku dan hatimu. Dan di balik jembatan itu, aku yakin kau tengah berada, berpakaian putih dengan sebentang sayap bening hening. Lalu kau akan memelukku bukan? Membawaku pada setiap putaran yang kau katakan sebagai bentuk harapan. Aku akan memegang tanganmu erat. Takkan kulepas selamanya.

Aku sengaja mengirim sebuah kartu pos untukmu. Kerinduanku tengah berpencar ke seluruh penjuru. Kepergianmu memudarkan segala pandanganku.
______________________
*) Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 03 April 1986. Belajar di Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Giat di Komunitas Rabo Sore.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Alexander A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Dahana A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.C. Andre Tanama A.J. Susmana A.S. Laksana A’an Jindan AS Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kirno Tanda Abdul Lathif Abdul Malik Abdul Rauf Singkil Abdul Walid Abdurrahman Wachid Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adek Alwi Adhi Pandoyo Adhitia Armitrianto Adhy Rical Adi Faridh Adian Husaini Adin Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adrizas Adu Pesona Sang Wakil Presiden RI AF. Tuasikal Afri Meldam Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agit Yogi Subandi Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Rakasiwi Agus Sulton Agus Wibowo Agus Wirawan Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Ah. Atok Illah Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Anshori Ahmad Damanik Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Hasan MS Ahmad Jauhari Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad S. Zahari Ahmad Syafii Maarif Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fiah Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Siddiq Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al-Fairish Al-Ma'ruf I Al-Ma'ruf II Alang Khoiruddin Albert Camus Ali Mahmudi Ch Alia Swastika Alvi Puspita Alvin Amien Wangsitalaja Aminah Aming Aminoedhin Ana Mustamin Anam Rahus Anas AG Andhi Setyo Wibowo Andi Gunawan Andry Deblenk Angela Anggie Melianna Anindita S. Thayf Anis Ceha Anitya Wahdini Anjrah Lelono Broto Antologi Sastra Lamongan Anugerah Ronggowarsito Anwar Nuris Aprillia Ika Arida Fadrus Aridus Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Ariel Heryanto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Arwan Aryo Wisanggeni Aryo Wisanggeni Gentong AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Ashadi Ik Asrama Mahasiswa Aceh Sabena Asro Kamal Rokan Astrid Reza Asvi Warman Adam Atafras Atok Witono Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azwar Nazir Baca Puisi Badrus Siroj Bahrul Ulum A. Malik Balada Bambang kempling Bambang Riyanto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Beni Setia Benni Setiawan Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Berita Utama Bernando J. Sujibto Bernarda Rurit Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Biografi Bre Redana Brunel University Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Jay Utomo Budi P. Hatees Budi Palopo Budi Setyarso Budi Sp. Indrajati Budiman S. Hartoyo Budiman Sudjatmiko Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Candrakirana Cangaan Ujungpangkah Gresik Jawa Timur Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Choirul Rikzqa Christian Heru Cahyo Saputro Cover Buku D. Dudu AR D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dadang Widjanarko Damiri Mahmud Dani Fuadhillah Daniel Paranamesa Darju Prasetya Dati Wahyuni Dawet Jabung Ponorogo Dedykalee Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Desa Glogok Karanggeneng Lamongan Deshinta Arofah Dewi Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan Dewi Anggraeni Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Didik Kusbiantoro Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Djulianto Susantio Dody Kristianto Dody Yan Masfa Dorothea Rosa Herliany Dr Andi Irawan Dr Siti Muti’ah Setiawati Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Drs. Solihin Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwidjo Maksum Dyah Ayu Fitriana Eddi Koben Edeng Syamsul Ma’arif Edy Apriyanto Sudiyono Edy Firmansyah Edy Susanto Efri Ritonga EH Ismail Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hartono Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful El Sahra Mahendra Elita Sitorini Elly Trisnawati Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Em. Syuhada' Emha Ainun Nadjib Encep Abdullah Eni Sulistiyawati Eny Rose Esai Ester Lince Napitupulu Etik Widya Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Fahrur Rozi Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathan Mubarak Fathul Qodir Fathul Qorib Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Seni Surabaya 2011 Festival Teater Religi Pelajar SLTA Se-kabupaten Lamongan Fikri. MS Fiqih Arfani Firman Daeva Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Forum Santri Nasional (FSN) Free Hearty Galuh Tulus Utama Gandis Uka Ganug Nugroho Adi Gedung Sabudga UNISDA Lamongan Gendut Riyanto Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Pratama Glenn Fredly Goenawan Mohamad Golput Gombloh Gombloh (1948 – 1988) Grathia Pitaloka Gugun el-Guyanie Gunoto Saparie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur H.B. Jassin Hadi Napster Hafis Azhari Halim HD Halimi Zuhdy Hamid Dabashi Han Gagas Hardi Hamzah Hari Prasetyo Haris Del Hakim Haris Saputra Hary B Kori’un Hasan Basri Marwah Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Hendro Situmorang Henri Nurcahyo Henry H Loupias Hera Khaerani Heri CS Heri Kris Heri Latief Heri Listianto Herman RN Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Kuntoyo Heru Kurniawan Hikmat Darmawan Holy Adib Hudan Hidayat Hujuala Rika Ayu Humaidi Humam S Chudori I Made Asdhiana I Nyoman Suaka I. B. Putera Manuaba IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ichwan Prasetyo Ida Fitri Ignas Kleden Ilham Safutra Ilham Wancoko Imam Munadjat Imam Nawawi Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Herdiana Imron Arlado Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indigo Art Space Madiun Indra Tjahyadi Indrian Koto Ingki Rinaldi Iqmal Tahir Is Faridatul Arifah Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Isra’ Mi’raj Iswadi Pratama Iswara N Raditya Iva Titin Shovia Iwan Awaluddin Yusuf Iwan Gunadi J. Sumardianta Jamrin Abubakar Jansen Sinamo Janu Jolang Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jemie Simatupang Jenny Ang Jiero Cafe Jihan Fauziah JJ. Kusni Jl Simo Jo Batara Surya Jodhi Yudono Joko Budhiarto Joko Sadewo Joko Sandur Joko Widodo Jones Gultom Joni Ariadinata Joresan Mlarak Ponorogo Joseph E. Stiglitz Jual Buku Paket Hemat Junus Satrio Jurnalisme Sastra K. Hirzuddin Hasbullah K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma’ruf Amin K.H. Masrikhan Asy'ari K.H. Mudzakir Ma'ruf Kadjie MM Kajian Kitab Nashoihul 'Ibad Kang Daniel Karanggeneng Kartika Foundation Kasanwikrama Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kekal Hamdani Kemah Budaya Panturan (KBP) Kesenian KH. M. Najib Muhammad KH. Ma'ruf Amin Khairul Mufid Jr Khawas Auskarni Khoirul Anwar Khoirul Inayah Khoirul Naim Khoirul Rosyadi Ki Ompong Sudarsono Kitab Arbain Nawawi Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Koko Sudarsono Komaruddin Hidayat Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Kopi Bubuk Mbok Djum Kopuisi Korban Gempa di Lombok Kospela KPRI IKMAL Lamongan Kris Razianto Mada Kritik Sastra Kurnia Sari Aziza Kurniawan Kusni Kasdut Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto Lagu Laili Rahmawati Laksmi Sitoresmi Lamongan Lan Fang Larung Sastra Lathifa Akmaliyah Latif Fianto Leila S. Chudori Leo Tolstoy Lina Kelana Listiyono Santoso Liya Izzatul Iffah Liza Wahyuninto Lucky Aditya Ramadhan Ludruk Jawa Timur Lukisan Lukman Alm Lukman Santoso Az Luqman Almishr Lustantini Septiningsih Lutfi S. Mendut Lynglieastrid Isabellita M Ismail M Zainuddin M. Afif Hasbullah M. Faizi M. Iqbal Dawami M. Irfan Hidayatullah M. Latief M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Mushthafa M. Riza Fahlevi M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Madrasah Ibtida’iyah Thoriqotul Hidayah 1 Maghfur Munif Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahwi Air Tawar Majelis Ulama Indonesia Makalah Tinjauan Ilmiah Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mantan Pastur Hafidz Al-Qur'an Maqhia Nisima Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Marjohan Marsel Robot Martin Aleida Martin Hatch Marwan Ja'far Marwita Oktaviana Marzuki Mustamar Mashuri Masjid Tegalsari di Pesantren Gerbang Tinatar Masuki M. Astro Matroni el-Moezany Matroni Muserang Max Arifin Maya Handhini Mbah Kalbakal Medco Media Jawa Timur Medri Osno Mega Vristian Mei Anjar Wintolo Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal Mentari Meida Mh Zaelani Tammaka Michael Gunadi Widjaja Mien Uno (Ibunda Sandiaga Uno) Misbahul Huda Misbahus Surur Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh Samsul Arifin Moh. Ghufron Cholid Mohamad Ali Hisyam Mohammad Afifi Mohammad Rafi Azzamy Mts Putra-Putri Simo-Sungelebak Muh Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ghannoe Muhammad Ghufron Muhammad Hidayat Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad N. Hassan Muhammad Rain Muhammad Taufik Muhammad Yasir Muhammad Zia Ulhaq Muhammadun A.S. Muhibin AM Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukhsin Amar Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Mun'im Sirry Muntamah Cendani Museum Bikon Blewut Ledalero Musfarayani Musfi Efrizal Musyayana Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Nabi Adam Nanang Fahrudin Nandang Darana Naskah Monolog Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Ni Luh Made Pertiwi F Nindya Herdianti Ninin Nurzalina Wati Nitis Sahpeni Nono Anwar Makarim Noor H. Dee Noorsam Noval Jubbek Novel Pekik Novianti Setuningsih Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nur Hamzah Nur Haryanto Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nuswantoro Nyimas Nyoman Tingkat Obrolan Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Opini Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Pameran Seni Rupa Panda MT Siallagan Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Pekan Literasi Lamongan Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Saron Pelukis Senior Tarmuzie Pendidikan Penerbit SastraSewu Penerbitan dan Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Pengajian Pengetahuan Perang Peringatan Hari Pahlawan 10 November Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pesantren Kampung Inggris Peserta TEMU SASTRA JAWA TIMUR 2011 Petrik Matanasi Pilang Tejoasri Laren Lamongan Pilang Tejoasri Laren Lamongan Jawa Timur Pilkada Piramid Giza Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pradana Boy ZTF Pradaningrum Mijarto Pramoedya Ananta Toer Prih Prawesti Febriani Pringadi AS Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Profil MA Matholi'ul Anwar Prosa Puisi Puisi Menolak Korupsi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Puji Hartanto Puji Santosa Puput Amiranti N Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Puspita Rose Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Satria Kusuma Putu Setia Putu Wijaya R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R.Ng. Ronggowarsito Rabdul Rohim Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sazaly Rahmat Sularso Nh Raihul Fadjri Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Rambuana Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Rengga AP Reni Lismawati Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Riadi Ngasiran Rian Sindu Ribut Wijoto Rieke Diah Pitaloka Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rizka Halida Rizky Putri Pratimi Robin Al Kautsar Rocky Gerung Rodli TL Rofiqi Hasan Rohmad Hadiwijoyo Rohmah Maulidia Rohman Abdullah Rojiful Mamduh Rosdiansyah Rosi Rosidi Roso Titi Sarkoro Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumah Budaya Pantura Lamongan Rumah Literasi Rx King Motor S Yoga S. Jai S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Saifur Rohman Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Sardono W Kusumo Sartika Sari Sarworo Sp Sastra Facebook Satmoko Budi Santoso Satrio Lintang Satyagraha Hoerip Saut Situmorang Savidapius Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Sejarah Sekolah Literasi Gratis SelaSAstra Boenga Ketjil SelaSAstra Boenga Ketjil #23 SelaSAstra Boenga Ketjil #24 Seni Ambeng Ponorogo Senirupa Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Shofiyatuz Zahroh Shohebul Umam JR Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Silfia Hanani Sindu Putra Sita Planasari Aquadini Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Hadi Purnomo Soediro Satoto Soegiharto Soeprijadi Tomodihardjo Soetanto Soepiadhy Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Igustin Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Sriyanto Danoesiswoyo Stefanus P. Elu Stevani Elisabeth STKIP PGRI Ponorogo Student Center Kampus ISI Yogyakarta Subagio Sastrowardoyo Suci Ayu Latifah Sudarmoko Sugeng Ariyadi Sukitman Sumenep Sumiati Anastasia Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungelebak Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suripto SH Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Suyadi San Syafrizal Sahrun Syaifuddin Gani Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Syamsul Arifin Syamsul Rizal Syi'ir Syifa Amori Syifa Aulia T.A. Sakti Tajuddin Noor Ganie Tamrin Bey dan Robin Al Kautsar TanahmeraH ArtSpace Tarpin A. Nasri Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater Teater Air Teater Bias Teater Biru Teater Cepak Teater Dua Teater Kanjeng Teater Lingkar Merah Putih Teater Mikro Teater nDrinDinG Teater Nusa Teater Padi Teater Roda UNISDA Lamongan Teater Sakalintang Teater Tali Mama Teater Taman Teater Tawon Teater Tewol Teguh LR Temu Karya Teater Jawa Timur XXI Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Teori Darwin Teori Fisika Hawking Tgk Abdullah Lam U Tharie Rietha The Ibrahim Hosen Institute Theresia Purbandini Thomas Koten Tien Rostini Timur Arif Riyadi Tjahjono Widarmanto Tjut Zakiyah Anshari Toeti Adhitama Tosa Poetra Tri Andhi S Triyanto triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Tutut Herlina Ucu Agustin Udo Z. Karzi Ulil Abshar-Abdalla Umar Fauzi Uniawati Unieq Awien Universitas Jember Usman Arrumy Ustadz Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vassilisa Agata Veven Sp. Wardhana Viddy AD Daery Video Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vita Devi Ajeng Pratiwi W. Haryanto W.S. Rendra Wakos R. Gautama Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Suryandoko William Shakespeare Wisnu Kisawa Wiwik Widiyati Wong Wing King Wuri Kartiasih Y. Wibowo Yayasan Thoriqotul Hidayah 1 Yayat R. Cipasang Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yulianto Yuliawati Yunanto Sutyastomo Yunus Supriyanto Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf AN Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Yuyuk Sugarman Z. Mustopa Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zarra Martsella Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zen Hae Zii Zuhdi Swt