Ribut Wijoto
http://www.beritajatim.com/
Halte Sastra telah berjalan setahun lebih. Berbeda dengan materi sebelumnya, yakni puisi, sore ini Sabtu (16/10/2010), Halte Sastra menampilkan dua cerpen dari Lan Fang dan dua cerpen dari Sungging Raga.
Sabrot D Malioboro (Ketua DKS) menuturkan, Lan Fang merupakan fenomena baru dalam tradisi sastra di Surabaya. Dia tidak hanya berkutat dengan eksplorasi teks prosa. Lebih dari itu, Lan Fang menganggap perlu adanya komunikasi dengan berbagai kalangan yang berkaitan dengan karya sastra.
"Misalnya penerbit, pengelola media massa, dan pembaca," kata Sabrot.
Ditambahkannya, Lan Fang juga getol belajar pada pengarang-pengarang senior. "Namun yang utama, karya Lan Fang memang layak untuk diapresiasi," ujarnya.
Tentang Sungging Raga, Sabrot berargumen, pengarang ini mewakili fenomena lain dari tradisi kesusastraan di Jawa Timur. "Banyak pengarang kelahiran Jawa Timur yang tidak belajar dan besar di Surabaya. Mereka lebih banyak mendapat ilmu di Yogyakarta dan Jakarta. Salah satu di antaranya adalah Sungging Raga yang lahir di Situbondo," paparnya.
Menurut Sabrot, fenomena itu tentu bukan suatu keganjilan, toh Sungging Raga menjalaninya dengan santai. "Dan, dia sukses. Di usia relatif muda, karya-karya telah mewarnai kesusastraan secara nasional," katanya.
Sekadar diketahui, Lan Fang merupakan penulis produktif kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970. Sejak kuliah di Ubaya hingga sekarang, dia bertempat tinggal di Surabaya. Novelnya yang terbaru Ciuman di Bawah Hujan (2010).
Adapun Sungging Raga lahir dan besar di Situbondo. Pengarang muda yang tahun ini karyanya masuk cerpen terbaik pilihan Kompas ini sempat terperosok ke Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Kesibukan sehari-hari bekerja part-time sambil sesekali belajar menulis fiksi. Buku perdananya kumpulan cerpen: Ketenangan Merentang Kenangan (Greentea, 2010).
16 Oktober 2010
http://www.beritajatim.com/
Halte Sastra telah berjalan setahun lebih. Berbeda dengan materi sebelumnya, yakni puisi, sore ini Sabtu (16/10/2010), Halte Sastra menampilkan dua cerpen dari Lan Fang dan dua cerpen dari Sungging Raga.
Sabrot D Malioboro (Ketua DKS) menuturkan, Lan Fang merupakan fenomena baru dalam tradisi sastra di Surabaya. Dia tidak hanya berkutat dengan eksplorasi teks prosa. Lebih dari itu, Lan Fang menganggap perlu adanya komunikasi dengan berbagai kalangan yang berkaitan dengan karya sastra.
"Misalnya penerbit, pengelola media massa, dan pembaca," kata Sabrot.
Ditambahkannya, Lan Fang juga getol belajar pada pengarang-pengarang senior. "Namun yang utama, karya Lan Fang memang layak untuk diapresiasi," ujarnya.
Tentang Sungging Raga, Sabrot berargumen, pengarang ini mewakili fenomena lain dari tradisi kesusastraan di Jawa Timur. "Banyak pengarang kelahiran Jawa Timur yang tidak belajar dan besar di Surabaya. Mereka lebih banyak mendapat ilmu di Yogyakarta dan Jakarta. Salah satu di antaranya adalah Sungging Raga yang lahir di Situbondo," paparnya.
Menurut Sabrot, fenomena itu tentu bukan suatu keganjilan, toh Sungging Raga menjalaninya dengan santai. "Dan, dia sukses. Di usia relatif muda, karya-karya telah mewarnai kesusastraan secara nasional," katanya.
Sekadar diketahui, Lan Fang merupakan penulis produktif kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970. Sejak kuliah di Ubaya hingga sekarang, dia bertempat tinggal di Surabaya. Novelnya yang terbaru Ciuman di Bawah Hujan (2010).
Adapun Sungging Raga lahir dan besar di Situbondo. Pengarang muda yang tahun ini karyanya masuk cerpen terbaik pilihan Kompas ini sempat terperosok ke Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Kesibukan sehari-hari bekerja part-time sambil sesekali belajar menulis fiksi. Buku perdananya kumpulan cerpen: Ketenangan Merentang Kenangan (Greentea, 2010).
16 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar